Matahari menggantung rendah di balik gedung-gedung sekolah Ataraxia, menandakan hari telah beranjak ke petang. Siswa-siswi mulai berhamburan keluar, sebagian tertawa keras, sebagian sibuk dengan ponsel, sebagian lagi berjalan berkelompok sambil mengeluh soal PR. Di antara keramaian itu, Jisoo melangkah sendirian seperti biasa—tas tersampir rapi di bahu, wajah tenang, langkahnya mantap tanpa tergesa.
Dan seperti biasa pula, ada sepasang mata yang memperhatikannya.
Jennie berdiri beberapa meter di belakang gerbang sekolah, berpura-pura sibuk mengikat tali sepatunya. Begitu Jisoo melewati gerbang dan berbelok ke kiri—bukan ke arah halte bus atau area parkir sepeda seperti kebanyakan siswa—Jennie menegakkan tubuhnya.
"Ke sana?" gumamnya pelan.
Ini bukan pertama kalinya Jennie memperhatikan arah pulang Jisoo. Tapi kali ini terasa berbeda. Jisoo berjalan lebih lambat, bahunya sedikit lebih turun, seolah hari itu membawa beban yang tak biasa.
Dengan naluri yang bahkan tak ia mengerti sepenuhnya, Jennie memutuskan untuk mengikutinya.
Ia menjaga jarak—cukup jauh untuk tidak mencolok, cukup dekat untuk tidak kehilangan jejak. Mereka melewati deretan toko kecil, jalanan yang mulai sepi, hingga akhirnya tiba di sebuah kawasan yang sunyinya terasa lain. Tidak ada suara anak-anak bermain. Tidak ada aroma makanan dari rumah-rumah sekitar.
Jennie melambatkan langkahnya saat melihat papan sederhana di depan sebuah bangunan.
RUMAH DUKA
Langkahnya terhenti.
"Apa...?" bisiknya hampir tak bersuara.
Ia bersembunyi di balik pagar rendah, jantungnya berdetak tak beraturan. Dari sana, ia melihat Jisoo masuk ke halaman rumah duka itu dengan langkah yang sangat dikenalnya—tenang, rapi, tapi kali ini... rapuh.
Jisoo berhenti di depan bangunan utama. Ia tidak langsung masuk. Tangannya terangkat sebentar, ragu, sebelum akhirnya mendorong pintu yang terbuka perlahan dengan bunyi lirih.
Jennie menelan ludah.
Ini bukan rumah. Ini bukan tempat tinggal siapa pun yang hidup dengan keseharian biasa. Ini tempat orang-orang datang untuk berpisah.
"Jisoo..." gumam Jennie, dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas.
Ia tidak berani masuk. Tidak ingin melanggar batas yang bahkan belum pernah secara resmi ada. Jadi ia menunggu di luar, duduk di bangku panjang dekat pohon kamboja yang daunnya gugur perlahan diterpa angin sore.
Waktu berjalan lambat.
Beberapa menit berlalu. Tidak ada orang lain yang datang atau pergi. Suasana terlalu sunyi, terlalu khidmat untuk seorang gadis yang biasanya penuh tawa seperti Jennie.
Di dalam, Jisoo berdiri di sebuah ruangan kecil yang temaram. Tidak ada peti terbuka. Tidak ada upacara. Hanya sebuah meja sederhana dengan bingkai foto di atasnya—seorang perempuan dengan senyum lembut dan mata yang teduh.
Jisoo meletakkan tasnya, lalu berdiri di depan foto itu.
"Aku datang," ucapnya pelan.
Suaranya berbeda. Tidak datar. Tidak dingin.
Ia mengeluarkan buku dari tasnya—buku yang sama yang sering ia baca di sekolah—lalu duduk. Seperti kebiasaan lama. Seperti ritual yang sudah diulang berkali-kali.
"Aku tidak terlalu lama hari ini," lanjutnya, tatapannya tak lepas dari foto itu. "Ada... gangguan."
Sudut bibirnya bergerak tipis. Hampir seperti senyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
