3. Not Yours, She's Mine! -End.

572 88 20
                                        

Langit sore bergelayut kelabu, memberi isyarat hujan yang bisa saja luruh tanpa aba-aba—tepat ketika mereka tiba di depan rumah Jennie. Biasanya, Jisoo akan mengikuti Jennie masuk—melepas sepatu, menaruh tas, lalu menghabiskan waktu di kamar dengan percakapan ringan untuk meluruhkan penat. Namun hari itu, Jennie berhenti tepat di depan pagar.

Ia berbalik setengah badan dan mengangkat satu tangan.

"Sampai sini saja."

Jisoo menghentikan langkahnya. "Aku tidak masuk?"

Jennie mengangguk singkat. "Tidak."

Jisoo mengerutkan kening. 

"Hari ini aku ingin sendiri," lanjut Jennie. "Jangan menggangguku."

Nada suaranya ketus, tetapi ekspresi wajahnya tidak sepenuhnya sejalan—pipi Jennie sedikit mengembang, hidungnya mengerut tipis, alisnya mengernyit setengah hati, dengan bibir yang sedikit mengerucut. Perpaduan yang aneh, dan hampir saja membuat Jisoo tersenyum andai situasinya tidak sedang seserius ini.

Semestanya sedang bergeser, tetapi gadis di depannya masih Jennie yang sama.

Jisoo menahan senyum itu. Ia mengangguk patuh. "Baik."

Ia tidak berdebat. Tidak menawar. Tidak memaksa. Tidak pula ada bujukan, apalagi protes. Ia tahu, saat Jennie meminta ruang, yang terbaik adalah tidak merusaknya dengan niat baik yang berlebihan.

Jennie sudah berbalik, tangannya meraih gerbang, ketika langkahnya terhenti.

Ia berbalik lagi.

Tatapan matanya tidak lagi dingin. Lebih seperti... menimbang. Seolah ada suatu hal yang tertinggal dan belum ia putuskan.

Jisoo menangkapnya seketika. "Kenapa?" tanyanya cepat, suaranya naik setengah nada. "Apa kau berubah pikiran?"

Jennie menggeleng kecil. Ia mengangkat satu jari telunjuk dan melambaikannya pelan.

"No, no."

Jisoo mengerjap, bingung. 

Lalu Jennie melangkah mendekat setengah jarak, telapak tangannya terulur. "Kemarikan kotak hadiah itu. Biar aku yang membukanya."

Jisoo terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum—kali ini tidak ia tahan. Ia mengeluarkan kotak kecil itu dari tas dan meletakkannya di telapak tangan Jennie tanpa ragu.

"Jangan kau makan sendiri ya, jika isinya makanan," gurau Jisoo ringan, mencoba melonggarkan udara di antara mereka. Lalu, lebih serius, ia menambahkan, "Sebenarnya Sana memberikannya karena ia merasa harus berterima kasih padaku, karena aku menolongnya waktu itu."

Jennie menerima kotak itu, menimbang sebentar. "Ya."

Ia menatap pita kecilnya, lalu kembali menatap Jisoo. "Jika isinya makanan, aku akan memakannya sendiri."

Jisoo tertawa kecil. "Kenapa begitu?"

"Kalau kau yang makan," jawab Jennie datar, "aku takut dia menaruh guna-guna di dalamnya."

Jisoo terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Kalau begitu, jika kau yang memakannya, bukankah kau yang akan terkena pengaruhnya?"

Jennie memutar bola mata. "Biarkan saja. Targetnya kan kau. Jadi jika aku yang memakannya, itu pasti tidak akan berpengaruh."

Logika Jennie selalu punya jalur sendiri.

Ia lalu menurunkan tangan yang memegang kotak, melangkah mundur satu langkah. "Sudah. Pulanglah. Sudah mendung."

Jisoo menoleh ke langit. Awan memang semakin berat. "Kau tidak mau aku menunggu sampai kau masuk?"

"Tidak."

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang