[ Love Delirium ]

665 83 6
                                        


Happy reading~
🙌🏼

°°



Jisoo duduk tegak di deretan kursi VIP, matanya terpaku pada panggung yang diterangi sorotan lampu gemerlap. Suara musik elektronik yang keras menggema, membalut setiap sudut ruang konser dengan irama yang memikat. Setiap detak musik seakan menyatu dengan detak jantungnya yang terasa semakin cepat.

Tak dapat dipungkiri, sosok di atas panggung itu, Jennie—si ratu panggung yang selama ini hanya ada dalam khayalannya—adalah pusat dunia yang tak pernah lepas dari pandangannya.

"Wahh gila, dia benar-benar seunik dan seseksi itu,"

kata Jisoo, berbisik dalam hati namun keluar begitu keras, hampir terperangkap oleh mikrofon konser yang berdekatan. Suaranya seolah terdengar oleh setiap orang yang hadir di sana, namun ia tak peduli. Pandangannya hanya tertuju pada Jennie, dengan setiap gerakan dan senyuman mempesona yang keluar dari sosok itu.

Jisoo telah menyaksikan performa Jennie beberapa kali, tapi entah mengapa malam ini, sepertinya ada aura berbeda yang menyelubungi wanita itu. Mungkin karena segala persiapan yang dilakukan selama bertahun-tahun, mungkin juga karena fakta bahwa Jisoo akhirnya berhasil memenuhi impiannya untuk bisa berada di konser ini, di antara ribuan orang yang bernasib lebih beruntung.

"Dia... dia memang tak ada duanya," gumamnya sambil menyesap sejenak anggur di gelasnya. Seiring dengan itu, matanya terus mengikuti gerakan tubuh Jennie yang begitu memikat, seolah menari di atas panggung dengan irama yang memancar dari setiap gerakannya.

Jisoo menggigit bibir bawahnya dengan tak sadar, matanya tidak ingin beralih meski sesaat. Dalam pikirannya, ia seolah hanyut dalam dunia yang hanya ada dirinya dan Jennie.

Sebelumnya, Jisoo telah merencanakan ini semua dengan sangat matang. Ia tidak akan mengacuhkan pekerjaan dan hidupnya yang telah teratur selama ini hanya untuk sekadar mengikuti gairah semu.

Namun, untuk Jennie, segala hal seolah tak menjadi masalah. Ia bahkan mengundurkan diri dari pekerjaannya yang selama ini membosankan, hanya demi satu hal—menyaksikan sang idola, wanita yang telah menariknya dalam lingkaran pesona tak berujung.

"Jisoo, berhenti melamun! Kau tidak ingin kehilangan momen ini," ujar seorang teman yang duduk di sebelahnya, mencoba menggoda.

Jisoo sedikit tersadar, namun tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Jennie yang tengah menyanyi dengan penuh penghayatan. "Maaf, aku hanya... terpesona," katanya dengan suara lembut, seolah hanya bisa berbicara dalam bahasa pujian.

Temannya terkekeh ringan, "Terpesona? Kau sudah seperti seorang pengagum sejati. Cinta mati, kalau boleh aku bilang."

Namun, Jisoo tak merasa malu. Ia bahkan menikmati setiap momen ini, merasakan gemuruh perasaan yang tak mampu dijelaskan hanya dengan kata-kata. Ada kebanggaan yang mengalir dalam dirinya setiap kali ia membayangkan betapa dekatnya ia dengan sang idola, walaupun kenyataannya ia hanya seorang penonton di antara ribuan orang lainnya.

Tapi ini bukanlah semata-mata tentang kegilaan seorang penggemar biasa. Ini tentang rasa hormat yang begitu mendalam pada kemampuan Jennie, yang tidak hanya memukau dengan suaranya, tetapi juga dengan caranya menghadirkan aura yang sulit dijelaskan dengan logika.

Jisoo tahu bahwa mungkin ia terdengar aneh, bahkan terkesan berlebihan dalam mengagumi sosok itu, tetapi baginya, ini adalah bentuk penghargaan tertinggi.

"Lihatlah dia, setiap gerakannya," gumamnya kepada dirinya sendiri. "Bukan hanya fisiknya, tetapi caranya menaklukkan panggung. Tidak ada yang bisa mengimbangi pesonanya."

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang