Sore itu perlahan merayap menuju malam. Hujan turun tipis, membuat udara di dalam rumah terasa lebih tenang. Jennie masih berada di sofa, sementara Jisoo kembali dari dapur membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di ujung sofa yang sama.
"Terima kasih," ucap Jennie sambil meraih cangkir.
Jisoo hanya mengangguk, matanya terpaku pada layar televisi yang menampilkan acara dokumenter.
Jennie meminum tehnya perlahan, lalu menaruh cangkir di meja. Tak lama setelah menikmati teh—rasa kantuk datang tiba-tiba, mungkin karena udara dingin, mungkin karena kenyamanan yang tak ia sangka.
"Aku boleh berbaring sebentar?" tanya Jennie setengah berbisik.
"Lakukan saja, tidak perlu izin dariku," jawab Jisoo datar.
Jennie menarik bantal sofa dan merebahkan setengah tubuhnya. Ia berniat hanya bersandar sebentar, tetapi kelopak matanya terlalu berat. Perlahan, kesadarannya mengendur, hingga tanpa sengaja kepalanya bergeser dan jatuh di pangkuan Jisoo.
Jisoo terkejut sejenak. Ia menegang, ingin menggeser posisi, namun tubuh Jennie sudah terlanjur nyaman di sana. Nafas teratur Jennie terdengar pelan, wajahnya tenang, tanpa jejak pura-pura.
Beberapa menit Jisoo hanya diam, memandang ke arah layar televisi tapi pikirannya tidak di sana. Ia menunduk, memperhatikan Jennie yang tertidur. Rambut hitam yang halus menyentuh tangannya, aroma lembut dari sampo masih terasa. Jisoo menghela napas, tak tahu harus berbuat apa.
"Nghh.."
Jennie bergumam kecil dalam tidur, lalu menggeser posisi, membuat wajahnya semakin dekat dengan perut Jisoo. Seketika Jisoo kembali menegang, tangannya terangkat seakan ingin menjauh, tapi urung. Ia menurunkannya perlahan, hingga jemarinya nyaris menyentuh rambut Jennie—namun berhenti di udara, tak berani melanjutkan.
Jam dinding berdetak, hujan di luar mereda. Suasana seolah menahan waktu, membekukan mereka dalam posisi itu.
Sampai kemudian Jennie tiba-tiba membuka mata setengah, masih setengah sadar. Ia mendapati dirinya bersandar di pangkuan Jisoo, lalu tersenyum samar. "Aku... ketiduran, ya?"
"Ya," jawab Jisoo singkat.
"Tidak keberatan?" Jennie masih setengah mengantuk.
Jisoo menahan jeda singkat. "Tidak."
Jennie memejamkan mata lagi, membiarkan dirinya tetap di sana. "Pangkuanmu nyaman," gumamnya tanpa filter.
Sontak ucapan itu membuat dada Jisoo sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia definisikan. Ia menatap wajah Jennie yang begitu dekat, lalu memalingkan pandangan cepat-cepat, seolah takut jika perasaan yang terkubur akan mendesak keluar.
Beberapa menit berlalu, ketika jam sudah menunjuk pukul delapan. Jennie akhirnya terbangun sepenuhnya, mengusap mata, lalu duduk tegak.
"Maaf, aku sampai tertidur lama. Seharusnya aku pulang lebih awal."
Jisoo berdiri, merapikan hoodienya. "Tidak masalah."
Jennie menatapnya beberapa detik, mencoba membaca ekspresi yang selalu rapat itu. "Terima kasih sudah membiarkanku tidur di sini."
"Jangan terlalu sering berterima kasih untuk hal kecil."
Percakapan singkat itu menutup momen panjang mereka. Namun bagi keduanya, apa yang terjadi barusan meninggalkan bekas yang sulit dihapus—sebuah kedekatan fisik sederhana, tapi justru menyimpan arti lebih dalam daripada yang bisa diucapkan.
~
Pukul sembilan, Jennie keluar dari rumah itu dengan langkah kakinya yang terasa ringan sekaligus berat, seolah tubuhnya pulang, tapi sebagian dirinya masih tertinggal di ruang tamu bersama Jisoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
