4. Falling for His Younger Sister

503 89 30
                                        

Jisoo mendekat perlahan, satu langkah setelah Jennie mundur. 

"Ya. Tentang semalam. Tentang kita." Suaranya tegas, tapi ada nada lembut yang jarang terdengar darinya. Mata Jisoo menatap lurus ke mata Jennie, tidak berkedip.

Jennie menahan napas. "Kau... Kau tidak menyesal?"

Jisoo tersenyum tipis sambil menundukkan sedikit kepala seolah memastikan setiap kata akan terdengar. "Jennie, aku tidak menyesal. Aku... juga memiliki perasaan yang sama. Perasaan yang kau pikirkan hanya satu arah... itu salah. Aku pun merasakan semuanya."

Jennie terpaku. Napasnya tercekat, dada berdegup kencang. "Kau... serius mengatakan itu?"

Jisoo mengangguk perlahan, langkahnya mendekat lagi hingga hanya berjarak beberapa senti. Tangannya menempel di sofa di samping Jennie, membentuk batas sekaligus panggilan—dominansi yang gentle, tak memaksa tapi menegaskan keberadaannya. "Aku tidak ingin lagi berpura-pura tidak merasakan apa-apa. Kau pikir aku diam karena tidak peduli? Tidak. Aku menahan diri, tapi sekarang aku tidak mau menahan lagi."

Jennie menunduk sebentar, kemudian menatapnya penuh haru. "Jadi... itu berarti... kau—"

Jisoo memotong dengan satu senyum tipis, tangan lainnya perlahan menyentuh pipi Jennie, jari-jarinya hangat menyusuri kulitnya. "Ya. Aku menyukaimu. Aku ingin kau tahu, aku ingin kau percaya bahwa apa yang terjadi semalam... itu bukan hanya kesalahan atau ketidaksengajaan. Aku yang memilih untuk membiarkan itu terjadi, karena aku ingin."

Jennie menelan ludah, tubuhnya bergetar, hatinya nyaris lepas kendali. "Jisoo... aku—aku tidak tahu harus berkata apa..."

Jisoo mendekat, menundukkan wajahnya ke wajah Jennie, napas mereka hampir menyatu. "Jangan berkata apa-apa sekarang. Cukup rasakan." Bibir Jisoo menyentuh bibir Jennie dengan ciuman lembut, singkat, tapi penuh pengakuan. Dominasi yang gentle itu membuat Jennie tahu satu hal pasti: Jisoo tidak hanya menyerah pada hasratnya, tapi juga memilihnya.

Jennie menutup mata, membiarkan diri larut dalam ciuman itu. 

Momen itu, di ruang itu, menjadi awal yang baru. Bukan lagi sekadar ciuman yang penuh ketegangan, tapi pengakuan dari dua hati yang saling terbuka, saling mengakui—yang akan mengubah dinamika mereka selamanya.












•••













Hari-hari setelah pengakuan itu menjadi fase baru bagi Jennie. Ia tidak lagi hanya menunggu kesempatan berdua dengan Jisoo, karena kini mereka tahu—saling tahu. Tapi ada satu masalah besar yang tetap mengikat: Tae.

Hari minggu sore, Jennie kembali ke rumah keluarga Tae. Di ruang tamu, Tae sedang duduk di sofa dengan laptop terbuka, sibuk menyiapkan presentasi. Jennie duduk di sebelahnya, seolah membantu melihat data, padahal matanya lebih sering melirik ke arah ruang samping—tempat Jisoo tengah membaca buku sambil bersandar di kursi malas.

Jisoo tampak tenang, kaki disilangkan, wajah dingin seperti biasa. Tapi di balik tatapan singkat yang Jennie tangkap, ada sesuatu yang hanya mereka berdua pahami.

Tae beralih pandang dari laptop sejenak, menatap kekasihnya. "Sayang, bisa ambilkan air minum di dapur? Sekalian tanyakan ke si pendiam itu, ingin minum apa."

Jennie mengangguk, berdiri, dan menuju dapur. Namun sebelum masuk, ia melewati kursi malas tempat Jisoo duduk.

"Kau mau apa?" Jennie berbisik, suaranya hampir tidak terdengar.

Jisoo tidak mengangkat kepala, hanya bergumam, "Sama seperti yang kau bawa." Tapi di saat Jennie hendak melangkah, Jisoo mengulurkan kaki, menyentuh ringan pergelangan Jennie dengan ujung jari kakinya. Sebuah gestur kecil, cepat, tapi cukup untuk membuat darah Jennie berdesir.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang