[ Break Even ]

649 94 21
                                        

Jennie duduk di ruang tunggu yang terlalu putih untuk ukuran ruangan manusia. Bau pendingin ruangan bercampur dengan wangi tajam parfum orang-orang yang lewat membuat kepalanya sedikit berdenyut. Ia sudah menunggu hampir tiga puluh menit, dan tiap kali suara sepatu hak mendekat, tubuhnya refleks menegak.

Ia sudah menyiapkan jawaban untuk segala kemungkinan pertanyaan: pengalaman kerja, motivasi, dan rencana lima tahun ke depan. Tapi tidak ada yang menyiapkannya untuk hal yang benar-benar terjadi ketika pintu ruang wawancara terbuka.

"Silakan masuk, Kim Jennie."

Suaranya.

Suara yang dulu pernah ia dengar dari seberang telepon pada malam-malam panjang sebelum akhirnya ia memilih untuk menghilang tanpa penjelasan.

Jisoo.

Nama itu langsung menghantam ingatan Jennie seperti benda tumpul. Ia menatap perempuan di hadapannya yang kini mengenakan jas abu-abu, rambutnya diikat rapi, ekspresi wajahnya datar dan profesional—terlalu sempurna untuk dihadapi dengan dada yang masih memeluk rasa bersalah.

"Silakan duduk," kata Jisoo.

Jennie patuh. Tubuhnya kaku. Ia mencoba menatap lurus, tetapi pandangan matanya selalu jatuh ke wajah itu. Wajah yang dulu pernah ia hapalkan; garis senyum, mata yang sedikit menurun di ujung, dan gerak tangan yang tenang ketika berbicara. Kini, semuanya tampak asing.

"Jadi, kamu melamar untuk posisi content strategist di sini?" tanya Jisoo sambil membuka berkas.

Jennie menelan ludah. "Iya, saya sudah baca deskripsi pekerjaannya. Saya pikir pengalaman saya di agensi sebelumnya cukup relevan."

Nada suaranya terdengar formal, tapi di dalam kepala, ada kalimat lain yang berteriak:

Di dunia yang seluas ini, kenapa bisa aku di-interview oleh Jisoo yang pernah aku ghosting?

Ia berusaha menjaga wajahnya tetap tenang, padahal jantungnya berdetak tak karuan. Dulu, ketika mereka masih sering bertukar pesan, Jisoo adalah orang yang selalu ingin tahu—tentang semua hal, bahkan hal paling kecil dalam hidupnya. Ia tahu warna selimut Jennie, tahu suara mesin cuci di apartemennya, tahu jam berapa Jennie biasanya kehilangan fokus saat bekerja. Dan kini, orang yang tahu seluruh kebiasaannya duduk di seberang meja, menilai kelayakan profesionalnya. Ironi yang kejam.

"Bisa ceritakan sedikit tentang alasan kamu keluar dari tempat kerja sebelumnya?" tanya Jisoo dengan nada yang sepenuhnya netral.

Jennie menarik napas. "Ada ketidaksesuaian visi, dan saya merasa sudah waktunya untuk pindah."

Jawaban aman. Terlalu aman. Tapi bukan itu yang ingin keluar. Yang ingin keluar justru pengakuan: bahwa ia juga dulu meninggalkan Jisoo karena tidak tahu bagaimana menghadapi ketulusan yang sebesar itu. Ia tak punya keberanian untuk mencintai seseorang yang begitu jelas menginginkan dirinya. Ia takut. Jadi ia pergi. Begitu saja.

Jisoo mencatat sesuatu di berkasnya. "Saya lihat kamu punya portofolio yang cukup kuat. Tapi kenapa baru sekarang melamar ke sini? Kami sudah buka posisi ini sejak tiga bulan lalu."

Jennie tersenyum kaku. "Saya baru berani melangkah lagi sekarang."

Kalimat itu mengandung lapisan makna yang bahkan Jisoo pun bisa tangkap, jika ia masih mengenal cara Jennie berbicara. Dulu, Jennie selalu menghindar menggunakan kata “berani”. Kata itu terlalu personal baginya. Ia hanya menggunakannya ketika membicarakan perasaan.

Jisoo menutup berkas. Matanya menatap Jennie lurus, dan untuk pertama kalinya sejak wawancara dimulai, ada jeda yang terlalu panjang. "Baiklah," katanya kemudian. "Saya rasa cukup. Kami akan hubungi kamu untuk hasilnya."

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang