Hari ke-12. Suasana mendung, langit kelabu seperti ampas kopi basi, dan angin membawa aroma logam dari bengkel di sepanjang jalan.
Jennie datang bukan dengan mobil, bukan juga Vespa. Tapi dengan jaket denim lusuh dan dua bungkus nasi kimbap.
"Jangan bilang ada baut di tenggorokanmu sekarang," komentar Jisoo saat melihatnya.
"Tidak. Kali ini aku datang sebagai manusia, bukan pemilik kendaraan," jawab Jennie sambil duduk di peti oli kosong.
Jisoo menatapnya, mengelap tangannya dengan kain lap.
"Ada apa?"
Jennie menoleh. "Hari ini ulang tahunku."
Jisoo terdiam sejenak.
"Dan kau memilih datang ke bengkel?" tanyanya kemudian.
"Ya. Karena aku ingin menghabiskan hari ini dengan orang yang paling inginku lihat."
Jisoo mengalihkan pandangan, pura-pura memeriksa baut padahal tidak ada apa-apa di tangannya.
"Biasanya orang-orang seperti kau berpesta di atap hotel."
"Biasanya. Tapi hari ini aku memilih karat, oli, dan kau."
Diam sejenak.
Lalu Jennie membuka bungkus kimbap, meletakkannya di meja kecil, dan berkata, "Ingin makan bersama?"
Jisoo akhirnya duduk. Tidak menjawab, hanya membuka satu bungkus dan mulai makan perlahan.
"Rasanya lebih baik dari ekspektasi," gumam Jisoo.
"Itu karena kau makannya bersamaku," kata Jennie pelan, kemudian menahan senyum di balik pipinya yang menggembung, lantaran menyaksikan gurat kegugupan yang terpampang jelas di wajah Jisoo.
~
Setelah makan, di bengkel
Jennie berdiri, memandangi jalan yang basah karena gerimis mulai turun. Ia membuka payung hitam kecil yang dibawanya dan menatap Jisoo yang masih duduk.
"Kau tahu tempat yang lebih nyaman dari bau bensin?" katanya sambil mengulurkan tangan.
Jisoo mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Temani aku sebentar. Tidak jauh. Ada tempat makan bingsu yang aku suka."
"Kenapa aku?"
"Karena aku ingin mengenalmu bukan hanya dari cara kau mengencangkan baut atau menyumpahi kendaraan yang sedang kau perbaiki."
Jisoo memandangi tangan Jennie yang tetap terulur.
"Jika aku tidak cocok dengan duniamu?"
Tanya Jisoo—keraguan yang tumbuh dari kesadaran bahwa hidupnya begitu jauh dari milik Jennie: sederhana, kasar, berpeluh oli, sementara Jennie datang dari dunia yang rapi, elegan, dan penuh sorotan. Ini bukan sekadar soal status, tapi soal ritme hidup yang berbeda, nilai-nilai yang mungkin tak selalu sejalan.
"Aku tidak mengajakmu masuk ke duniaku," jawab Jennie tenang. "Aku hanya ingin kita duduk sebentar di pinggirnya."
Jawaban itu bukan basa-basi. Jennie tak meminta Jisoo berubah atau menyesuaikan diri. Ia hanya ingin Jisoo menemaninya, mengenalnya apa adanya—bukan sebagai pewaris atau figur publik, tapi sebagai manusia biasa yang jatuh hati.
Bagi Jennie, cinta bukan soal menyeret seseorang masuk ke dunianya, tapi soal mencari tempat di antaranya—sebuah ruang netral, meski sementara, di mana mereka bisa saling memandang tanpa beban, tanpa tuntutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
