Cahaya matahari menyusup lembut melalui celah gorden tipis, menebarkan gurat-gurat hangat di ruangan mungil itu. Jennie membuka mata perlahan, keliru menilai posisi tubuhnya—ia menduga ia tertidur di sofa dengan bantal tipis di samping.
Namun yang menjadi sandarannya bukan bantal.
Melainkan bahu seseorang.
Jennie mengerjap, masih tumpang tindih antara tidur dan sadar. Ia mendongak sedikit—dan terdiam. Jisoo ada di sana, tertidur dalam posisi setengah duduk, dengan kepala miring dan napas teratur.
"Ya Tuhan... aku bersandar padanya?"
Panik pelan menyentak Jennie, tetapi tubuhnya belum sepenuhnya tanggap. Ia bergerak perlahan—cukup untuk menarik diri tanpa membangunkan.
Namun gerakan kecil itu membuat Jisoo tersentak bangun dalam sepersekian detik.
"Hmm—apa...?" Jisoo mengerjap cepat, tubuhnya kaku sesaat sebelum ia sadar: lengan kanannya tidak bisa digerakkan sama sekali. "Ah... lengan... ini mati rasa."
Jennie terpaku sejenak—lalu menutup mulut dengan telapak tangan, menahan tawa yang ingin meledak.
"Jangan tertawa," kata Jisoo, seraya mencoba menggerakkan lengannya dengan wajah datar. "Ini tidak lucu."
Jennie tak sanggup menahan. Tawa rendah, serak, khas orang yang baru bangun meledak juga. "Kau... terlihat menyedihkan sekali," ujarnya di sela tawa.
"Kau tidur di bahuku semalaman," bantah Jisoo. "Siapa pun lengannya akan kebas."
Jennie hampir jatuh dari sofa karena menahan geli. "Kau masih bisa bicara tenang padahal tanganmu nyaris menggantung begitu?"
Jisoo menggerakkan lengannya ke kiri dan ke kanan, berusaha mengembalikan aliran darah, raut wajahnya meringis kecil setiap kali kesemutan menyerang. "Ini menyakitkan. Benar-benar menyakitkan."
Jennie mendekat sedikit tanpa berpikir. "Kemari, biar kulihat."
"Tidak usah—"
"Aku bilang kemari."
Nada Jennie tegas. Jisoo terdiam, lalu menyerah. Ia membiarkan Jennie memegang pergelangan tangannya—perlahan, hati-hati, seolah takut membuatnya makin tidak nyaman.
Sentuhan itu mendadak mengubah nuansa pagi.
Perlahan, tanpa dramatis, tapi ada sesuatu yang menaut.
Jennie mengusap lengan itu, bergerak dari pergelangan ke bahu. "Kau benar-benar tidak bergerak semalaman ya?"
"Tentu saja tidak bergerak," kata Jisoo sambil memalingkan wajah. "Kau tertidur terlalu nyenyak."
Jennie menahan senyum. "Kau bisa membangunkanku, kenapa tidak melakukannya?"
"Tidak," jawab Jisoo cepat. "Kau terlihat... lelah. Dan begitu tenang."
Jennie berhenti mengusap. Dadanya terasa longgar dan hangat sekaligus. "Jadi kau sengaja membiarkanku tidur di bahumu?"
"...Ya."
Tangis tawa kecil lolos dari bibir Jennie. "Bodoh."
"Terima kasih," sahut Jisoo datar, tetapi sudut bibirnya terangkat sedikit.
Suasana menjadi lebih ringan daripada pagi mana pun yang pernah mereka lalui bersama. Tidak ada kepalsuan, tidak ada peran. Hanya dua orang yang tersadar bahwa mereka tampaknya lebih nyaman satu sama lain daripada yang seharusnya.
"Aku akan membuat sarapan," ujar Jennie, berdiri sambil merapikan rambut berantakannya. "Sebagai kompensasi lenganmu yang rusak."
"Kau bisa menggantinya dengan hal lain," celetuk Jisoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
