Dua minggu setelah malam itu, Ahyeon menempelkan satu map cokelat ke meja makan saat sarapan bersama.
"Jadi, ada yang mau kita bahas sedikit," ujarnya dengan senyum menawan namun mencurigakan. Rora berdiri di belakangnya, bersandar santai ke lemari es, mengunyah roti panggang seperti biasa, tapi matanya penuh konspirasi.
Jennie menurunkan ponselnya. "Apa itu?"
Jisoo melirik dari seberang meja. "Rencana menculik orang tua?"
"Lebih tepatnya... rencana menculik waktu," jawab Ahyeon, membuka map tersebut, menampilkan brosur vila kecil di pegunungan Gangwon—halaman penuh foto kabin kayu, pemandangan kabut pagi, dan ruang keluarga dengan perapian.
"Dua hari satu malam," lanjut Rora, menaruh setumpuk itinerary buatan tangan mereka, lengkap dengan warna-warna spidol dan doodle wajah Jennie dan Jisoo. "Abaikan kata ‘liburan keluarga’, anggap saja... healing trip."
Jennie mengerutkan kening. "Bukankah ini agak mendadak? Lagipula, pekerjaan—"
"Kami sudah menghubungi kantor Ibu dan Ayah," sela Ahyeon dengan nada bangga. "Kami berpura-pura menjadi satu sama lain. Aku mengaku sebagai Ayah saat menelepon kantor Ibu, sementara Rora mengaku sebagai Ibu saat menelepon kantor Ayah."
Jisoo hampir tersedak oleh tawanya sendiri. "Kalian sungguh melakukan hal itu?"
Rora mengangguk dengan tenang. "Hm. Dan mereka percaya. Bahkan terdengar senang. Mungkin karena mereka mengira bahwa mantan pasangan ini akhirnya berdamai dan hendak berlibur bersama sebagai keluarga."
Jisoo menghela napas pendek seraya menggeleng pelan. "Ayah bisa memahami maksud kalian. Kalian ingin agar pihak kantor tidak mencurigai apa pun atau melontarkan terlalu banyak pertanyaan—karena jika mereka mendengar bahwa mantan suami dan istri berbicara dengan baik dan menyebut rencana liburan keluarga, mereka tentu menganggap ini hal yang jarang terjadi. Wajar jika mereka segera menyetujuinya."
Jennie menautkan kedua tangannya di depan dada, bibirnya membentuk senyum kecil. "Masuk akal," ujarnya pelan.
"Jadi kalian tidak memiliki alasan untuk menolaknya," ujar Ahyeon.
"Dengan catatan, Ayah tak lupa kunci mobil dan Ibu tak mencoba bekerja di tengah hutan," tambah Rora dengan mulut masih penuh.
Jisoo dan Jennie saling pandang dengan senyum masih tertahan diwajah masing-masing. Kemudian keduanya hampir bersamaan mengangguk.
•••
Vila itu terletak di lereng bukit kecil, tak jauh dari desa tua yang hanya memiliki satu toko serba ada. Kabin dua lantai dari kayu pinus tua itu memancarkan kehangatan sejak dari pintu masuk—perapian kecil menyala, aroma kayu terbakar dan teh hangat bercampur dengan dinginnya udara pegunungan.
Ahyeon dan Rora langsung mengambil kamar atas, berseru bahwa kamar bawah disediakan khusus untuk 'orang dewasa penyimpan sejarah.'
Malam pertama diisi dengan permainan kartu dan tawa yang akhirnya terasa alami. Jisoo kalah berkali-kali, dan Jennie tertawa sampai harus menyandarkan kepala ke bahunya.
"Masih ingat saat kamu menuduhku curang karena selalu menang Uno?" tanya Jennie.
"Aku tidak menuduh. Aku membuktikan. Kamu menyembunyikan +4 di bawah karpet," jawab Jisoo, membuat ketiganya tergelak.
Saat malam semakin larut dan anak-anak naik ke atas, Jennie tetap duduk di ruang tamu, menatap nyala api yang berkeredip. Jisoo duduk tak jauh darinya.
"Kamu bahagia?" tanya Jisoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
