Happy reading~
_________
~
Di dalam kamar dengan pencahayaan temaram, Jennie duduk di atas kasur, tenggelam dalam lamunannya.
Dirinya yang sekarang begitu berbeda dari yang dulu. Kini, ia pendiam, jauh dari sosok ceria yang pernah dikenal banyak orang.
Jennie dulu adalah sosok yang penuh tawa, senyumnya selalu menjadi penghibur bagi orang-orang di sekitarnya. Dan di balik perubahan itu, ada kehidupan yang penuh dengan kekelaman—sebuah masa lalu yang ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia, bahkan dari Jisoo.
Sebelum pertemuannya dengan Jisoo di taman, Jennie telah melewati masa-masa sulit yang hampir menghancurkan dirinya. Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak pernah benar-benar memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Tekanan dari ekspektasi orang tua, kegagalan yang terus-menerus ia rasakan, dan rasa kesepian yang menghantui membuat Jennie kehilangan arah dalam hidupnya.
Lalu, di usianya yang ke-20, Jennie terjerat dalam hubungan yang penuh manipulasi dan kekerasan emosional. Hubungan itu membuatnya kehilangan kepercayaan pada orang lain, bahkan pada dirinya sendiri. Meski akhirnya ia berhasil keluar dari hubungan itu, tapi luka-luka yang tertinggal begitu dalam membuat ia merasa tidak layak dicintai oleh siapa pun.
Ketika ia bertemu Jisoo di taman untuk pertama kalinya, Jennie sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia menghabiskan waktu di taman itu setiap hari untuk mencari ketenangan di antara hembusan angin sore dan kicau burung, berharap semuanya mampu meredakan beban yang menghimpit hatinya.
Lalu, Jisoo datang—dengan kehangatan senyumnya, termos teh di tangannya, dan lelucon-lelucon yang sering kali garing namun berhasil membuat Jennie tertawa. Perlahan, Jisoo menjadi bagian dari rutinitasnya, seseorang yang bisa diajak bicara tanpa rasa takut. Hingga tanpa sadar, rasa itu tumbuh dan mengakar.
Jennie tak pernah berniat untuk jatuh cinta. Namun, kebaikan hati dan humor sederhana Jisoo perlahan membuatnya merasa nyaman. Jisoo adalah orang pertama yang berhasil mengembalikan tawanya, setelah bertahun-tahun terjebak dalam bayang-bayang kesedihan.
Jennie merasa aman bersama Jisoo, tetapi rasa sakit yang sama juga membuatnya mundur. Ia tahu, jika Jisoo mengetahui masa lalunya, Jisoo mungkin akan berubah. Dan lebih dari itu, Jennie takut bahwa ia akan bergantung pada Jisoo, seperti dulu ia bergantung pada orang lain yang akhirnya melukainya.
Kini, pandangan Jennie beralih pada sebuah bingkai foto di atas nakas. Foto dirinya dengan seorang nenek—sosok yang menjadi tempat ia kembali ketika semuanya terasa terlalu berat: nenek peramal yang ia panggil 'Halmeoni'.
Halmeoni bukan nenek kandung Jennie, tetapi sosok yang merawatnya ketika ia melarikan diri dari rumah di usianya yang saat itu 17 tahun. Jennie menemukannya secara kebetulan, di sebuah warung tenda kecil yang hangat di tengah derasnya hujan, kala itu.
Dengan senyum lembut dan secangkir teh jahe hangat, Halmeoni membukakan pintunya untuk Jennie, memberikan tempat yang selama ini ia cari—rumah.
Halmeoni memiliki kemampuan yang tidak biasa. Ia bisa membaca emosi dan energi seseorang hanya dengan menatap mata mereka. Tapi, lebih dari itu, ia memiliki cara berbicara yang menenangkan, seolah memahami luka terdalam yang bahkan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Hatimu berat, anakku,” kata Halmoenie kala itu, ketika Jennie duduk di depan warung tenda pertama kali. “Kau memikul beban yang bukan milikmu.”
Jennie tidak menjawab, tetapi air mata yang mengalir di pipinya adalah jawaban yang cukup.
🍀🍀🍀
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
