Happy reading~
----------------
~
Jisoo duduk di bangku taman yang sama keesokan sorenya, berusaha menjaga penampilannya tetap santai meski dalam hatinya ia sibuk menyusun strategi. Setelah percakapan terakhir dengan Jennie, ia sadar harus melangkah lebih jauh, tapi tidak terlalu jauh hingga membuat segalanya canggung.
“Humoris dan bijaksana,” gumam Jisoo mengingat saran si nenek.
Di sela renungannya, suara langkah pelan mendekat. Jisoo menoleh, dan seperti yang ia harapkan, Jennie muncul dengan buku di tangan dan senyum tipis yang membuat Jisoo merasa seperti pemenang lotre.
“Hai,” sapa Jisoo sambil berdiri sedikit formal, seperti pangeran menyambut tamu. “Selamat datang di wilayah kekuasaanku. Hari ini, aku akan menyuguhkan… eh, angin segar dan mungkin beberapa lelucon gagal.”
Jennie menahan tawa, lalu duduk tanpa menjawab sapaan dramatis itu. “Kamu selalu begini ya? Berusaha terlalu keras untuk terdengar lucu?”
Jisoo duduk kembali dan mengangguk penuh percaya diri. “Tentu saja. Lelucon adalah pelindung jiwa. Bayangkan kalau aku selalu serius, nanti aku malah jadi patung di taman ini.”
Jennie tertawa kecil, kemudian mengeluarkan bukunya. Namun kali ini, ia tidak langsung membacanya. “Ngomong-ngomong, kamu kerja di mana, Ji?” tanyanya tiba-tiba.
“Ah, pertanyaan yang bagus,” jawab Jisoo, matanya berbinar. “Aku bekerja sebagai spesialis pengatur angin.”
Jennie mengernyit. “Spesialis pengatur angin? Apa itu?”
Jisoo memiringkan kepalanya, seolah serius berpikir. “Aku duduk di depan kipas angin dan memastikan anginnya mengarah ke orang-orang yang membutuhkan. Tugas mulia, bukan?”
Jennie menatapnya dengan mulut sedikit terbuka, lalu meledak dalam tawa yang lebih keras dari biasanya. Jisoo merasa kemenangan kecil lagi.
“Kamu benar-benar aneh,” ucap Jennie sambil mengusap mata yang berair karena tawa.
“Terima kasih. Aku anggap itu pujian,” sahut Jisoo sambil tersenyum lebar.
Percakapan mereka terus mengalir, dengan Jisoo yang tak henti-hentinya melontarkan lelucon absurd, mulai dari cerita bagaimana ia pernah tersesat di supermarket hanya karena mengikuti aroma roti panggang, hingga klaim bahwa ia pernah mencoba menjadi detektif tetapi gagal karena lupa mencatat bukti.
Jennie tertawa hampir sepanjang waktu, dan Jisoo merasa itu seperti melodi paling menyenangkan di dunia.
Namun di sela candaan, Jennie tiba-tiba berkata dengan nada serius. “Ji, kenapa kamu sering ke taman ini? Maksudku, selain untuk membuatku tertawa.”
Jisoo terdiam sejenak, lalu memutuskan untuk jujur—dengan caranya sendiri. “Aku sebenarnya sedang menjalankan misi rahasia.”
“Misi apa?”
Jisoo berpura-pura melirik sekeliling, seperti memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
“Aku diberitahu oleh seorang peramal misterius bahwa aku akan bertemu jodohku di taman ini. Katanya, dia punya mata tajam seperti kucing, pipi bakpao, dan hidung mungil yang bangir.”
Jennie menatap Jisoo dengan ekspresi terkejut bercampur geli. “Jadi, menurutmu aku jodohmu?” tanyanya, setengah bercanda.
Jisoo mengangkat bahu dengan santai. “Kalau melihat deskripsi itu… ya, kelihatannya memang begitu.”
Jennie tersenyum, tapi ada semburat merah di pipinya yang membuatnya terlihat lebih manis. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka bukunya lagi. Namun Jisoo bisa melihat bahwa ia sedang menahan senyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
