Happy reading~
🌸🌸🌸
••
Seperti sore yang mendung tetapi enggan turun hujan, Jisoo menatap layar ponselnya dengan alis yang tak kunjung turun. Sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dari sekadar kecewa—ia gusar.
Sebab sebuah artikel yang sedang beredar luas di linimasa menyajikan pernyataan-pernyataan tajam, menyudutkan seseorang yang ia kenal jauh lebih baik daripada mereka yang hanya menilai dari jarak jauh.
Judulnya mencolok, seperti menyengaja menyulut api: "Jennie Blackpink Dinilai Tidak Antusias di Panggung, Fans Kecewa dan Merasa Dikhianati."
Jari-jarinya yang menggenggam ponsel mengencang. Ia menarik napas panjang, tetapi udara yang masuk ke dadanya terasa sesak. Ada kemarahan yang tak bisa dikemas dalam kata-kata, hanya terasa dalam getar tubuh yang menolak diam. Ia tahu betul, saat konser itu berlangsung, Jennie menahan sakit yang tak terlihat. Bukan hanya tubuhnya yang ringkih karena kelelahan, tetapi batinnya yang nyaris retak karena tekanan yang membuncah tanpa jeda.
Tanpa banyak pertimbangan, Jisoo mengambil mantel yang tergantung di balik pintu. Ia tak memberi tahu siapa pun. Langkah kakinya mantap, hampir terburu-buru, membawa amarah yang ia sembunyikan di balik sorot mata tajamnya.
Malam belum sepenuhnya larut, tetapi udara sudah terasa dingin. Ia tahu Jennie sedang sendiri di apartemen—dan ia juga tahu bahwa kekasihnya itu tak akan membaca satu pun dari komentar-komentar itu, namun luka tetap bisa menyelinap bahkan lewat diam.
Setibanya di depan pintu apartemen mewah itu, Jisoo tidak langsung mengetuk. Ia menenangkan dadanya yang menggebu, seakan ingin memastikan bahwa yang akan ia bawa nanti bukan kemarahan, tetapi ketulusan.
Setelah satu hembusan napas panjang, ia menekan bel. Tak lama, pintu terbuka, dan Jennie muncul dengan wajah yang tak lagi semekar biasanya. Matanya sedikit sembab, seolah terlalu letih untuk membela dirinya sendiri.
"Eonnie... kamu tidak bilang akan ke sini," ucap Jennie lirih, suaranya parau.
"Aku tahu kamu tidak akan bercerita," balas Jisoo pelan, namun mantap. "Boleh aku masuk?"
Jennie hanya mengangguk kecil dan mempersilakan. Begitu pintu tertutup, keheningan menyergap mereka. Bukan keheningan yang canggung, tetapi keheningan yang dipenuhi beban.
Jisoo menatap sekeliling—lampu ruang tamu hanya dinyalakan setengah, selimut tergeletak di sofa, dan cangkir teh yang tak disentuh di meja kecil.
"Kamu sudah makan?" tanya Jisoo, pelan.
Jennie menggeleng. "Nafsu makanku hilang. Aku hanya minum air putih."
Jisoo menghela napas, mendekat, lalu duduk di sebelahnya. Ia menarik selimut itu, menyelimutkan kembali ke tubuh Jennie yang dingin.
"Kamu tahu, aku baru baca artikel yang bilang kamu malas, tidak niat tampil, dan tidak peduli kepada fans. Aku muak membaca komentar-komentar itu."
Jennie menunduk, mengusap pelan ujung matanya yang terasa panas. "Aku tahu mereka kecewa. Tapi aku benar-benar tidak sanggup waktu itu. Aku paksa tubuhku untuk tetap berdiri, tapi dalam hati aku hanya ingin istirahat sejenak."
Jisoo menggenggam tangan Jennie, hangatnya seperti bertaut dari kulit ke kulit, tetapi lebih dari itu—dari jiwa ke jiwa.
"Aku yang melihat kamu sebelum tampil. Aku yang mendengar kamu muntah-muntah di belakang panggung. Kamu tetap naik, tetap bernyanyi, tetap senyum. Kalau itu bukan dedikasi, aku tak tahu lagi apa artinya berjuang."
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
