Meledaknya lampu membuat kamar Jennie langsung tenggelam dalam kegelapan pekat. Seketika, udara berubah berat, seakan ruangan ini bukan lagi apartemen mungilnya, melainkan sebuah sumur tak berdasar yang ditelan kesuraman.
Jennie menahan napas.
Ada sesuatu di lemari.
Sesuatu yang jelas bukan Jisoo.
"Kau tidak seharusnya ada di sini."
Suara itu bergema di dalam kamar, lebih mirip geraman yang dilipat dalam bisik-bisik tajam. Seperti suara yang bukan berasal dari satu makhluk, melainkan banyak—tumpang tindih, kacau, dan menggerayangi gendang telinga dengan sensasi yang membuat bulu kuduk berdiri.
Jennie ingin berteriak.
Tapi tubuhnya membeku.
Ia tidak pernah menjadi orang yang penakut, tapi ini—ini bukan sekadar cerita horor yang sering ia dengar dari pasien atau kolega yang terlalu banyak shift malam. Ini nyata. Ini terjadi di hadapannya.
Dalam kegelapan, ia bisa melihatnya dengan jelas.
Sosok itu.
Bayangan tinggi yang menyembul dari sela-sela pakaian di dalam lemarinya. Tidak berbentuk pasti, hanya hitam, seperti kabut yang bergerak dengan kesadaran.
Ada sesuatu yang menyerupai wajah di tengahnya, tetapi tidak utuh—dua lubang hitam di tempat mata seharusnya berada, dan mulut yang bergerak pelan seperti senyum yang dipaksa.
Dan yang lebih buruknya lagi...
Sosok itu bergerak.
Keluar dari lemari.
Jennie langsung meraih tangan Jisoo dan mencengkramnya erat—baru menyadari kalau ia bisa menyentuh hantu dengan begitu saja.
Jisoo tampaknya tidak keberatan, malah menatap makhluk itu dengan ekspresi kesal. "Oh, kau lagi."
Jennie menoleh tajam. "Lagi?!"
"Yah, aku sering melihatnya mondar-mandir. Tapi biasanya dia diam di sana seperti penghuni gelap di lemarimu. Aku tidak tahu kenapa sekarang dia sok eksis."
Makhluk itu tidak bergerak, tapi udara di sekelilingnya berdenyut. Bayangan di tubuhnya seperti cairan yang terus berubah bentuk, seperti tinta yang melayang di dalam air.
"Pergi."
Suaranya menggeram lagi, kali ini lebih rendah, lebih dalam.
Jisoo melipat tangan. "Kalau kau mau mengusirku, maaf, aku masih betah."
Makhluk itu tidak bereaksi. Tapi udara di kamar semakin dingin, dan Jennie bisa merasakan keringatnya mengering lebih cepat dari seharusnya.
"Jisoo, ini bukan waktunya untuk bercanda!" Jennie mencubit lengan hantu itu—dan, anehnya, Jisoo benar-benar merasakan cubitan itu karena ia langsung meringis.
"Aduh! Kau bisa mencubitku?"
"Jangan malah terkesan! Lakukan sesuatu!"
Jisoo menghela napas panjang, lalu melangkah maju. Ia mengangkat satu tangan, seperti seseorang yang mengusir kucing liar yang duduk di meja makan.
"Hei, kau, bayangan seram. Ini apartemen Jennie, bukan markas iblis. Aku mungkin hantu, tapi setidaknya aku berusaha menjadi penghuni yang baik. Kau?" Jisoo mendengus. "Kau bahkan tidak bayar sewa."
Jennie meliriknya tajam. "Oh, jadi kau anggap aku pemilik kontrakan sekarang?"
"Tentu saja. Kalau kau merasa berhak mengusirku, kau juga harus berhak mengusir dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fiksyen Peminat[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
