[ Dangerous ]

774 104 12
                                        

Happy reading~

-
Vomentnya janlup yeorobun!
-







Suasana ruang kuliah dipenuhi denting pena yang beradu dengan kertas, suara halaman yang dibalik, dan ketukan pelan jemari di atas keyboard laptop. Seperti biasa, kuliah anatomi berlangsung dalam hening yang hanya diisi dengan suara lembut dari sosok yang berdiri di depan kelas.

"Tubuh manusia adalah teka-teki yang tak pernah habis dipecahkan."

Suara itu meluncur dengan tenang, memecah kesunyian dengan ketegasan yang samar. Jennie mendongak, menatap sosok perempuan yang berdiri di hadapan kelas dengan kewibawaan yang tak terbantahkan.

Jisoo, dosen muda yang baru bergabung di fakultas kedokteran beberapa semester lalu.

Tentu, setiap mahasiswa pasti menghormatinya karena kecerdasan dan ketenangannya yang nyaris tanpa cela. Tapi bagi Jennie, penghormatan itu tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar rasa hormat. Sesuatu yang tak seharusnya ia rasakan, sesuatu yang semakin hari semakin merambat liar, menjalar dalam pikirannya seperti denyut nadi yang terus berdetak tanpa bisa ia kendalikan.

Jisoo bukan hanya dosen. Ia adalah enigma yang memikat Jennie dalam misteri yang tak bisa ia pecahkan.

Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, Jennie duduk di barisan tengah—cukup jauh untuk menghindari perhatian langsung, tapi cukup dekat untuk menangkap setiap ekspresi di wajah Jisoo. Pandangannya terselip di antara helai rambut hitam dosennya yang jatuh di sepanjang bahunya, mengikuti garis bibirnya saat ia mengucapkan setiap istilah medis dengan presisi yang begitu indah.

"Jennie Kim."

Jennie tersentak. Suara Jisoo memanggilnya, dan ia merasa seolah-olah seluruh kelas mendadak menoleh ke arahnya. Ia mencoba menyusun ekspresi, memastikan tidak ada jejak dari apa yang baru saja melintas di kepalanya.

"Jennie Kim?" Jisoo mengulang, alisnya sedikit terangkat.

Jennie merutuk dirinya sendiri dalam hati. Mengapa ia selalu membiarkan pikirannya melayang saat seharusnya ia fokus?

Dengan cepat, ia menegakkan punggung, menatap dosennya dengan mata yang berusaha tetap jernih.

"Maaf, saya tidak mendengar pertanyaannya," katanya, berusaha terdengar tenang.

Jisoo menatapnya selama beberapa detik—detik yang terasa begitu lama bagi Jennie—sebelum akhirnya menghela napas kecil dan mengulangi pertanyaannya.

Jennie menjawab dengan lancar, mencoba menebus kecerobohannya, dan ketika Jisoo mengangguk puas, ia merasa lega. Namun, kelegaan itu hanya berlangsung sejenak.

Karena setelah kuliah berakhir, saat mahasiswa lain mulai berkemas dan keluar dari ruangan, Jennie mendengar suaranya lagi.

"Jennie Kim, tetap disana sebentar."

Jennie terdiam di tempatnya. Ia bisa merasakan detak jantungnya mulai meninggi, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap tenang.

Jisoo menutup laptopnya dan bersandar pada meja dosen, menatap Jennie dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu terlihat tidak fokus hari ini," ujarnya pelan, tapi nada suaranya tetap tajam.

Jennie menelan ludah. "Maaf, saya hanya kurang tidur."

"Kurang tidur?" Jisoo mengulang, seolah tak benar-benar percaya. Ia mengamati Jennie dengan intensitas yang membuat Jennie gelisah. "Pastikan itu bukan karena sesuatu yang mengganggu pikiranmu."

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang