Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jisoo dan Jennie—dua perempuan yang sejak sekolah menengah pertama saling memilih meski dunia kerap merintangi langkah mereka—kini memasuki tahun terakhir SMA dengan hubungan yang kian dewasa namun tetap riuh oleh tawa, godaan, dan rasa memiliki yang sama kuat.
Jennie, yang reputasinya sebagai si paling mudah cemburu sudah melegenda, selalu menemukan alasan untuk merasa terancam bahkan oleh hal paling sepele. Pernah sekali ia merengut hanya karena sedotan yang dipakai Jisoo sempat menyentuh bibir love-shaped milik kekasihnya itu, sampai ia tanpa malu berkata, "Sini, minum dari bibirku langsung saja!"
Jisoo, yang bagi banyak orang tampak ramah, tenang, cool, dan sama sekali bukan tipe yang manja, justru berubah total setiap kali hanya berdua dengan Jennie. Ia bisa clingy tanpa batas—hangat, manis, kadang bisa menyebalkan, bertingkah acak, dan sangat memaklumi setiap semburat cemburu Jennie. Baginya, sifat itu bukan beban; justru ia menikmati tiap reaksi kecil yang membuat kekasihnya itu tampak berkali-kali lipat lebih menggemaskan.
Begitulah mereka: dua remaja yang tumbuh bersama, mencintai dengan cara yang unik, dan menantang dunia dengan keberanian yang terbit dari keputusan saling memilih sejak pertama kali hati mereka saling menaut.
••
Awal hari itu lorong sekolah masih setengah lengang, suara langkah para siswa berbaur dengan derit loker yang dibuka paksa. Jennie dan Jisoo berjalan berdampingan, masing-masing menenteng tas dan rasa kantuk yang belum tuntas. Hanya saja, berbeda dengan kebanyakan pasangan yang berusaha menyembunyikan kedekatan, mereka punya kebiasaan kecil yang tidak pernah gagal memicu desis lirih dari teman sekelas: Jennie selalu menarik ujung cardigan Jisoo, seolah takut gadis itu menghilang jika ia melepasnya sedetik saja.
"Jangan tarik terlalu keras. Benang bajuku bisa rusak," ujar Jisoo datar.
Jennie tidak melepaskan. "Kalau rusak, aku belikan yang baru. Kau ikut aku pulang sekolah nanti."
"Aku kan memang selalu ikut kau pulang sekolah," balas Jisoo, kali ini dengan senyum tipis tapi manis yang hanya Jennie kenali.
Mereka tiba di depan kelas XI-3. Suasana di dalam kelas selalu berubah drastis setiap kali kedua nama itu muncul bersamaan-sejumlah teman langsung pura-pura sibuk, sebagian lain mulai berbisik seolah ada gosip yang harus disulut. Keduanya sudah terbiasa; Jisoo bahkan memilih duduk tanpa bereaksi, sementara Jennie menyusul, menarik kursinya mendekat sedikit lebih dari yang diperlukan.
"Jarak meja kita sudah cukup dekat, Jen," tegur Jisoo pelan.
"Tidak cukup untukku," jawab Jennie. "Kau dingin. Aku butuh dekat supaya hangat."
"Ini kelas, bukan kamar."
Jennie mengangkat dagu. "Tetap bisa hangat jika aku berada di dekatmu."
Beberapa murid menoleh, tetapi pura-pura tidak mendengar. Hubungan mereka bukan rahasia, meski tidak semua guru mengaku sudah paham. Ada yang mencibir, ada yang menghindar, ada pula yang hanya mengamati tanpa komentar. Namun dari semua itu, yang paling mencolok justru cara mereka saling bersikap: natural, apa adanya, dan tidak berusaha membuktikan apa pun kepada siapa pun.