[ Jennlous ]

1K 123 9
                                        

Happy reading ~
🙌🏻



Jennie menemukan foto itu tanpa sengaja.

Ia sedang menggulir layar ponselnya, mencari video resep yang tadi sempat muncul di beranda, ketika unggahan dari akun fanbase Jisoo melintas sekilas—

“Behind the Scene Drama Jisoo, Chemistry-nya membuat jantung hampir loncat!” Begitu judulnya.

Biasanya Jennie hanya akan melewatkan hal-hal semacam itu. Ia tahu bagaimana kerasnya dunia peran, tahu pula bahwa Jisoo, sebagai aktris, harus menciptakan dinamika yang meyakinkan dengan siapa pun lawan mainnya.

Tapi sore itu, entah mengapa jarinya tak bergeming.

Ia klik. Gambar itu memuat Jisoo dan pria itu—lawan mainnya. Selca, diambil dari sudut bawah, dengan framing rapat. Terlampau rapat, menurut Jennie. Senyum Jisoo terlihat santai, seolah-olah ia memang nyaman berada sedekat itu dengan laki-laki itu. Si laki-laki juga membalas senyum dengan cara yang terasa... bukan akting. Kepala mereka nyaris bersinggungan.

Jennie diam.

Ruangan apartemennya senyap, hanya suara AC yang menderu pelan di latar. Ia menyandarkan punggung ke sofa, tapi tidak benar-benar bersandar. Tubuhnya tegang, kaku, seperti tak tahu bagaimana bereaksi dengan baik.

Ia tatap layar ponselnya sekali lagi. Ia cubit layar, memperbesar sedikit—dan di situ, Jisoo memejamkan mata sedikit saat tersenyum. Kebiasaan yang hanya muncul ketika ia benar-benar merasa nyaman.

"Lucu, ya," gumam Jennie lirih, meski tak ada siapa pun yang mendengarnya.

Cemburu bukan hal yang asing baginya. Ia sudah mengenal emosi itu sejak awal mereka memutuskan untuk "mencoba lagi." Sejak mereka berdamai dengan masa lalu, dan memulai sesuatu yang baru—hubungan yang dirajut ulang dengan benang yang berbeda. Tapi ia tak pernah benar-benar siap menghadapi rasa ini secara langsung. Terlebih ketika pemicunya bukan sesuatu yang objektif salah, tapi hanya sepotong foto dan imaji yang bisa ditafsirkan semena-mena.

Ia letakkan ponsel di meja. Lalu berdiri, berjalan ke dapur, membuka kulkas, menutupnya kembali. Tidak haus. Tidak lapar. Hanya gelisah. Ia kembali duduk. Menghela napas.

"Itu hanya foto. Hanya bagian dari pekerjaan." Ia mencoba mengulangi mantra itu dalam kepala. Tapi suara itu terdengar hampa. Tidak meyakinkan, bahkan bagi dirinya sendiri.

Pikiran-pikiran kecil mulai menyusup tanpa permisi. Apa Jisoo cerita soal ini? Kenapa dia tidak pernah bercerita ada adegan sedekat itu? Kenapa ekspresinya terlihat terlalu nyata? Kenapa aku baru tahu dari internet?

Pertanyaan-pertanyaan itu menggumpal dalam dada, memantik kekesalan kecil yang menjalar perlahan. Bukan marah, bukan pula sedih. Tapi semacam kehampaan yang membuat Jennie merasa tidak punya kendali atas apa pun yang sedang terjadi. Rasa tak berdaya yang muncul ketika orang yang paling dia cintai, ternyata bisa terlihat begitu selaras dengan orang lain... di luar dirinya.

Ia membuka galeri di ponselnya. Mencari-cari foto mereka berdua. Jisoo dan dirinya. Tapi kebanyakan dari foto itu diambil diam-diam, saat Jisoo sedang tidur di sofa, atau saat mereka menyelinap ke luar kota untuk menghindari kamera. Tidak ada foto yang terlihat seromantis itu di depan publik. Mereka menyembunyikan segalanya.

Dan pria itu—ia bahkan tak perlu menyembunyikan apa pun. Bisa berada di samping Jisoo tanpa rasa takut. Bisa tersenyum sedekat itu tanpa harus khawatir akan jadi gosip.

Rasa jengkel menjalar lagi. Kali ini lebih nyata. Ia menutup ponselnya, lalu diletakkan.

Tapi kemudian,

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang