Kamu tapi bukan Kamu(end)

111 6 0
                                        

Kegiatan belajar mengajar sudah selesai beberapa waktu yang lalu,hanya ada mahasiswa kelas malam atau karyawan yang mulai berdatangan.Ada juga beberapa mahasiswa yang masih stay dikampus,ini biasa ada rapat organisasi atau kegiatan lainnya.Aku sudah selesai mengajar sejak jam 3 sore dan selesai bimbingan jam 5 sore tapi sampai sekarang jam 7 masih sibuk dengan tugas-tugas mahasiswa.Ini bukan tugas yang harus dikoreksi cepat tapi aku memilih menyelesaikan sekarang,biar besok hasilnya bisa langsung dapat diliat.
Selain itu ini adalah kebiasaanku beberapa tahun lalu,selalu pulang paling cepet jam 8 sampai rumah,kadang juga lebih.Aku lebih sering menghabiskan waktu dikampus,jika weekend aku juga mengajar disalah satu kampus swasta,biasanya pagi dan sore dikelas karyawan.Waktuku bener-bener dirumah cuma hari Minggu dan tanggal merah,itu aja masih kadang masih ada kegiatan sampai dibilang ibu tidak betah dirumah.Padahal ini caraku mengalihkan semuanya,menyalurkan pikiranku untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat.

"Istirahat gitu lho dek,jangan diforsir kerja terus."ucap bang Danu, dia itu satu-satunya laki-laki dirumah ini karena semuanya adalah princess.

"Ini lho udah istirahat."jawabku sambil mengemil kripik kentang ditanganku,aku tadi pulang jam 8 sampai rumah.

"Tiap hari diatas jam 7 baru sampai rumah, ngalahin abang yang kerja di proyek."dia berkata sambil mengambil keripik dariku.

"Hehehe ada bimbingan skripsi bang,nggak mungkin kalau aku suruh kerumah kasian kejauhan."alasan klise yang selalu aku buat.

"Abang tahu,kamu sengaja mengalihkan semuanya dengan kerja dan kerja,tapi tetep nggak boleh diforsir gitu."

"Iya abangku sayang,kalau capek aku berhenti kok."

"Janji ya?jangan suka buat ibu sedih dan kepikiran terus?"

"Iya janji bang."aku menatapnya sekilas lalu menyandarkan kepalaku di bahunya,sejak ayah meninggal saat aku awal masuk kuliah bang Danu adalah sandaranku dalam segala hal selain ibu.

"Besok Minggu ikut kan,kita berangkat Sabtu sore bisa?"

"Bisa bang,aku sudah cuti hari Seninnya biar kita bisa pulang Senin."

"Alhamdulillah akhirnya sadar juga,nggak kerja terus."

"iya iya,jadi nikahnya kapan?secepatnya?"
acara besok Sabtu adalah lamaran bang Danu dengan mbak Nanda,teman kuliah yang berubah jadi teman hidup.

"Manut para orang tua dek,tapi kalau bisa secepatnya,tapi nanti harus jauh dari rumah."ucapnya pelan.

"Kan masih ada aku di rumah sama ibu,aku janji nanti bakalan ngurangin jam mengajarkanku.Kalau ada bimbingan nanti tak suruh kerumah."aku tahu kegelisahan bang Danu sebagai anak laki-laki, sekaligus bapak dirumah ini.Dia nggak tega ninggalin aku dan ibu,tapi inilah hidup pasti akan ada perubahan walau sekecil apa pun.Setelah nikah bang Danu akan pindah kerumahnya sendiri,masih satu kota sebenernya tapi sejak kemarin sudah melow sendiri dia.

"Janji ya dek,apa harus nyari rewang ya biar ada yang nemenin ibu dirumah kalau pas kamu sibuk?"

"Gampanglah nanti tak tanya ibu dulu bang,
mau kado apa dari aku?"

"Doakan abang bahagia sama mbak Nanda,
itu sudah lebih dari cukup dek."

"Itu pasti didoakan,yang lain mau apa buat isi rumah mungkin?"aku tahu rumahnya sudah jadi dan tinggal masuk, beberapa furniture sudah diisi oleh mbak Nanda.

"Abang cuma minta,kamu bisa buka hati buat orang baru,itu adalah kado terindah buat abang."

"Doakan saja bang ".

"Pasti abang doakan,sudah 5 tahun lho dek Jenda pergi,kamu harus tetep melanjutkan hidup,masa depanmu masih panjang."

Bukannya menjawab aku malahan langsung memeluk abang erat,aku paham kegelisahannya sebagai seorang kakak,tapi aku juga tidak bisa membohongi hatiku, kalau dihatiku masih tertulis indah semua tentang Rajendra Kaladra Pambudi,
masih sama sejak beberapa tahun lalu sampai sekarang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CeritakuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang