Sandika, tidak langsung membawa adiknya pulang. Keduanya duduk di bangku taman dengan kantung belanja dari pria yang dipanggil "Bai gege" sebagai pembatas, tepat di bawah pohon yang daun-daunnya menghalau sinar matahari.
Deva, memperhatikan wajah sang kakak dari samping agar dapat meraba apa yang kakaknya rasakan. Sebab, setelah kakaknya berpisah dengan temannya, sang kakak menjadi lebih diam.
Kantung belanja itu, Deva, periksa isinya. Ada beberapa bungkus camilan dan beberapa minuman.
Deva, mengambil satu minuman berbentuk kotak berwarna biru. Dikemasannya terdapat gambar minuman berwarna putih yang dituang ke dalam gelas dan huruf hanzi yang tidak bisa Deva, baca.
"Koko, ini apa?"
Sandika, melihat sekilas kemasan kotak yang Deva, pegang, lalu matanya beralih menatap Deva. "Itu susu."
Deva, mengangguk dan membulatkan bibirnya.
Dibalik kotak ada sedotan melengkung berwarna putih yang dibungkus plastik bening. Deva, melepasnya, lalu membuka kemasan palistik beningnya, kemudian menusuk sedotan itu pada bulatan berwarna silver yang terletak diatas kemasan.
"Ini buat koko!" Deva, menyerahkan susu kotak itu pada Sandika, yang diterima dengam sedikit kaku.
"Kalau ini, susu coklat?" Deva, menunjukkan kemasan berwarna coklat.
Sandika, mengangguk, membuat Deva, kembali memilih minuman lain yang ada dalam kantung belanja.
"Kenapa tidak jadi?" Tanya Sandika, saat susu coklat itu dikembalikan ke dalam kantung belanja lagi oleh Deva.
"Tidak mau."
Deva, mengambil sebuah minuman berbentuk tabung transparan, membuat siapapun bisa melihat isi dari minuman itu.
Minuman kemasan berbentuk PET Can bottle berisi minuman berperisa buah bersik dan terdapat potongan buah berukuran kecil.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Bentuk kemasannya)
"Koko, tolong buka."
Sandika, menurut. Tangan kirinya mengambil alih minuman, dengan tiga jari dan jari telunjuknya mengapit susu kotak yang sejak tadi dipegang. Sementara tangan kanannya membuka segel yang terletak diatas kemasan.
"Thank you, koko." Ucap Deva, setelah Sandika, menyerahkan minuman yang sudah dibuka segelnya.
"Anytime."
Deva, meneguk minumannya. Rasa manis, disertai potongan buah mendomimasi indra perasanya.
"Cece, tadi buat koko, sedih ya?"
Pertanyaan tidak terduga dari sang adik membuat tubuh Sandika, kaku sesaat.
"Tidak kok." Balasnya, setelah Sandika, bisa menguasai diri.