Seorang gadis dengan surai cokelat sebahu tampak duduk di samping jendela kamarnya sambil menatap langit yang gelap. Tidak peduli dengan hawa dingin yang membuat tubuh kurusnya menggigil.
Pandangan itu lurus, menatap langit yang dihiasi oleh bintang. Tatapannya terlihat kosong, karena kini ia seakan terhanyut dengan segala pikiran yang memenuhi kepala nya.
"Lalice?"
Gadis berponi itu tersentak dari lamunannya. Setelah mendengar suara lembut dari seorang wanita yang selama ini telah merawatnya sedari kecil dengan penuh kasih sayang.
Mata hazel itu menangkap kehadiran ibunya yang kini telah berdiri diambang pintu. Menatap putrinya sendu sambil tersenyum.
"Kamu belum tidur, nak?"
"Aku belum mengantuk, eomma." Lalice tersenyum ketika mendapati wanita yang ia panggil dengan sebutan eomma itu melangkah masuk kedalam kamarnya dan mengusap lembut surai cokelat miliknya.
"Wae? Apa dia kambuh?" Lalice terkekeh. Ibunya memang selalu khawatir jika mendapati dirinya belum tertidur padahal hari sudah sangat larut.
"Aniya. Hari ini dia bersahabat denganku." Gadis berponi itu tersenyum manis. Lain hal dengan wanita bersurai hitam yang kini menatapnya lirih.
Bukannya senang, hatinya justru perih ketika mendengar kalimat itu dari Lalice. Ia tahu putri nya mengatakan itu hanya untuk menenangkan nya.
"Kajja. Malam ini eomma akan menemani mu tidur, hm?"
"Ya. Aku bukan anak kecil lagi, eomma."
"Sampai kapanpun kamu tetap putri kecil, eomma." Lalice hanya diam sambil sedikit memajukan bibir bawahnya.
Ia melangkah lunglai menuju ranjang yang tak lagi empuk itu. Awalnya Lalice memang kesal karena dianggap anak kecil oleh ibunya. Namun tetap saja hatinya merasa sangat senang karena malam ini ia tak akan tidur seorang diri karena ditemani oleh sang ibu yang sangat ia sayangi.
Senyum gadis berponi itu tak luntur saat sang ibu mulai membelai surai cokelat miliknya dengan lembut. Seakan menyalurkan kasih sayang agar ia dapat terlelap dalam dunia mimpi.
"Eomma, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Hm."
Lalice tak langsung mengutarakan pertanyaan nya. Ia justru memainkan jemari yang tersembunyi dibalik selimut sambil menggigit bibir bawahnya karena ragu.
Ia takut untuk menanyakan hal yang selama ini selalu memenuhi pikiran nya. Pertanyaan ini, sangat sensitif untuk sang ibu.
Namun ia juga tidak bisa berlama-lama menahan diri dengan rasa penasaran yang terus terbenam dihatinya.
"Aku ingin menemui Appa."
Gadis berponi itu membasahi bibir nya setelah mendapatkan respon tak mengenakkan dari sang ibu. Benar dugaan nya, wajah wanita itu berubah seketika jika ia membahas tentang ayahnya.
"Ia sudah pergi, Lalice. Bukankah eomma sudah mengatakan nya padamu?"
"Maka ajak aku ke makam nya. Eomma selalu mengatakan bahwa Appa sudah pergi. Tapi tak pernah sekalipun mengajak ku untuk datang ke makam nya. Aku--"
"Cukup. Ini sudah malam, kau harus tidur." Lalice menatap wajah ibunya sendu. Ia benar-benar tidak mengerti, merasa bahwa ibunya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Storie breviAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)