42- Until when?[2]

9.2K 791 67
                                        

Keadaan di ruang makan saat ini sama seperti biasanya, mereka tampak begitu menikmati sarapan pagi diselingi oleh obrolan ringan. Gadis blonde itu tampak melirik kearah sang bungsu yang duduk di samping nya. Ia melihat Lisa yang hanya terus mengaduk-aduk makanan tanpa menyantap nya sedikit pun. Tentu saja hal ini membuat Rosé khawatir.

Bukan hanya Rosé, yeoja dengan surai hitam itu juga tampak memperhatikan tingkah Lisa yang begitu murung pagi ini. Gadis berponi itu mendongak saat menyadari bahwa ia sedang diperhatikan oleh kedua unnie nya. Ia menatap Jisoo dan Rosé secara bergantian sembari mengerutkan kening nya bingung.

"Wae geurae, unnie?"

"Seharusnya kami yang bertanya, kenapa kau tidak memakan sarapan mu?" Lisa melirik kearah makanan di depannya yang tak berkurang sesendok pun. Mendengar pertanyaan Jisoo tadi, tentu membuat perhatian anggota keluarga yang lain kini tertuju pada Lisa.

"Ah, mian. Aku akan memakannya."

"Lisa-ya, jangan paksa dirimu untuk tetap datang ke sekolah. Walau kau sering tidak sekolah pun, tak akan ada orang yang memarahi mu." Gadis berponi itu menoleh kearah Rosé yang tampak begitu khawatir padanya. Lisa tersenyum, berusaha untuk menyakinkan kakaknya itu.

"Gwenchana, unnie. Justru aku akan merasa bosan jika terus berada di rumah," Rosé menghela napas berat. Bukan sekali ini saja ia meminta Lisa untuk tak memaksakan diri pergi ke sekolah. Tapi sudah berkali-kali, tapi bukan Lisa namanya jika ia tak keras kepala. Adiknya itu akan terus mengatakan bahwa ia baik-baik saja, padahal semua itu hanya alasan agar ia diizinkan pergi oleh kedua orang tuanya.

"Rosé-ya, jangan khawatir. Ten akan menunggu di sekitar sekolah, jika terjadi sesuatu maka dia akan selalu siap membantu Lisa," gadis blonde itu menoleh ke arah sang kakak sulung. Ia hanya bisa mengangguk paham karena Rosé tak akan bisa membantah perkataan kakaknya itu.

"Geurae, aku juga akan menjaganya selama di sekolah." Rosé berujar sembari tersenyum menatap sang bungsu.

"Hm, gomawo unnie."

Setelah selesai sarapan, Rosé menggandeng tangan Lisa pergi menuju halaman depan mansion. Kali ini mereka akan pergi dan pulang bersama. Gadis blonde itu sudah berjanji akan selalu bersama sang bungsu dimana pun dan kapan pun.

Lisa juga tampak begitu senang, ia tak pernah menyangka hubungan persaudaraan mereka akan dekat seperti ini. Dan Lisa tak ingin jika ikatan ini lepas begitu saja, karena ia sangat menyayangi mereka sebagai unnie nya.

"Lisa-ya," langkah kaki kedua yeoja itu terpaksa berhenti saat mendengar seseorang memanggil nama Lisa. Mata hazel gadis berponi itu mendapati seorang yeoja dengan surai hitam nya tengah melangkah menghampiri mereka.

"Ini untuk mu," Lisa terhenyak saat kakaknya itu menyodorkan sebuah jam bewarna hitam padanya. Melihat Lisa yang tampak kebingungan, Jisoo terkekeh pelan sembari mengusap surai cokelat sang bungsu.

"Kau akan membutuhkan nya, jam ini sudah di lengkapi dengan sensor jantung. Dan akan berbunyi jika dia berulah," Lisa terperangah saat mendengar penjelasan sang kakak.

Karena adiknya yang tak kunjung mengambil jam itu dari tangan Jisoo, yeoja itupun langsung memasangkannya di tangan kiri Lisa. Kemudian ia tersenyum bangga.

"Terlihat sangat cocok. Ingat, jangan paksakan dirimu Lisa-ya." Jisoo beralih mengecup kening sang bungsu cukup lama. Setelah itu ia juga memberikan kecupan pada Rosé.

Alone[End]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang