Gadis berponi itu tampak berdiri di pinggir jendela ruangan nya sembari menatap langit dengan tatapan sendu.
Setelah tiga bulan ia menetap di rumah sakit, kini akhirnya dokter Jung telah mengizinkan Lisa untuk pulang. Namun hal yang harus gadis itu ingat adalah, bahwa mulai sekarang ia harus lebih memperhatikan kesehatan nya.
Diperbolehkan pulang, bukan berarti Lisa akan bebas melakukan apapun yang ia mau. Justru ia harus membatasi aktivitas nya agar tidak mengganggu kinerja jantung nya.
Namun, setelah ia mendapat kan kabar yang bahagia ini pun. Tak ada senyuman membahagiakan dari wajah mungil nya. Tatapannya lirih, ia juga terlihat begitu murung. Akhir-akhir ini pun Lisa jarang bicara atau sekedar tertawa.
"Lisa-ya, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu?" gadis berponi itu tersentak kaget saat mendengar ujaran sang ayah. Ia menoleh dan mendapati pria paruh baya itu yang kini berdiri di samping nya.
"Apa kau tidak senang karena keluar dari rumah sakit? Oh, atau jangan-jangan Lisa sudah nyaman di sini?"
"Appa, justru aku ingin segera keluar dari sini." Jiyong terkekeh saat melihat wajah putri bungsu nya yang menekuk. Entahlah, apa cuma perasaan nya saja atau semangat Lisa kali ini seperti hilang?
"Wae geurae? Kau terlihat tidak bersemangat, wajahmu juga terlihat murung. Katakan pada appa jika terjadi sesuatu," Lisa mengulum bibirnya yang kering sembari tertunduk. Sebenarnya cukup lama ia ingin menanyakan hal ini pada sang ayah, hanya saja ia begitu ragu. Tapi, sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat.
"Sehun oppa, apa dia benar-benar akan pergi?" Jiyong menegak saat mendengar pertanyaan sang bungsu. Sekarang ia mengerti, hal yang selalu mengganggu pikiran putrinya itu adalah obrolan yang Lisa dengar seminggu yang lalu.
Sejak saat itu, Lisa menjadi lebih pendiam dari pada biasanya. Sama seperti saat ini. Padahal ia sudah menunggu hari dimana ia akan keluar dari rumah sakit. Tapi setelah ia mendapatkan izin pun, kebahagiaan itu terasa hilang saat mengetahui fakta bahwa sang sulung akan pergi setelah ia keluar dari sini.
"Lisa-ya," gadis jangkung itu terperanjat kaget saat mendengar suara datar milik Sehun. Jiyong tersenyum sembari mengusap surai cokelat milik putri bungsu nya lembut.
"Bicaralah pada oppa mu, hm?" Lisa melirik ke arah pria berwajah dingin yang masih berdiri di ambang pintu. Ia pun mengangguk.
Sehun menatap sang ayah yang tersenyum padanya. Jiyong menepuk pelan bahu putranya lalu pergi meninggalkan ruangan Lisa.
"Jadi, kau marah padaku?" Lisa menggeleng pelan. Bahkan ia mengabaikan kehadiran sang sulung yang berdiri di samping nya.
"Jika memukul ku perasaan mu bisa menjadi lebih baik, maka aku akan menerimanya dengan senang hati." Gadis berponi itu melirik ke arah Sehun yang masih tetap setia memasang wajah datar nya. Kemudian ia tertunduk sembari memainkan jemarinya gusar.
"Oppa, tidak bisakah kau tetap disini?" Sehun menatap sendu sang bungsu. Suara Lisa terdengar serak, mungkin sekarang ia tengah menahan tangis.
"Kakek mu membutuhkan ku, Lisa-ya. Kau pun tau bahwa di sana ia sendirian kan?"
"Bukankah Berlin terlalu jauh?" Sehun tersenyum tipis, lalu ia pun mendeku di hadapan sang bungsu.
"Hei, dengar kan aku. Meskipun jauh, kita masih bisa bertukar kabar lewat ponsel kan? Aku juga bisa kembali kapan pun. Jadi jangan khawatir, hm?" Lisa hanya diam tak menjawab apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Short StoryAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)