Rasanya sangat sakit, tubuhnya terhempas begitu saja di aspal yang terasa sedikit panas. Tangannya juga perih, dan minuman dingin yang ia bawa pun sudah berserakan dimana-mana.
Matanya tertutup, masih enggan untuk terbuka. Sayup-sayup ia mendengar suara orang di sekeliling nya yang heboh.
Beberapa saat yang lalu, ia masih berdiri di pinggir jalan sesudah membeli minuman untuk melepas haus yang melanda. Setelah memastikan bahwa jalanan sudah sepi, perlahan ia melangkah menuju mobil yang ia parkir di sebrang jalan.
Saat di tengah jalan, sekilas mata kucing nya melihat cahaya mobil yang melaju kencang ke arahnya. Tubuhnya membeku dan melemas, bahkan untuk bergerak saja sangat sulit. Saat cahaya itu semakin dekat, matanya tertutup dengan sempurna. Dan, tubuhnya terhempas.
Deg
Kedua mata gadis berpipi mandu itu tampak terbuka lebar. Ia terduduk sembari memegang kepalanya yang terasa begitu sakit. Jennie mengernyit kan kening nya bingung karena saat ini keadaan nya baik-baik saja. Lalu kenapa orang-orang disekitarnya terlihat begitu heboh?
"Kenapa diam saja? Cepat telepon ambulans!" teriakan itu terdengar dari salah satu pria yang berdiri tak jauh dari tempat Jennie terduduk sekarang. Ia tak dapat melihat apapun di sana karena orang-orang tampak berkerumun.
"Hei, nak. Kau baik-baik saja?" gadis bermata kucing itu terhenyak. Ia menoleh kearah seorang wanita yang mendeku di samping nya. Jennie mengangguk perlahan sembari menatap wanita paruh baya itu bingung.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" wanita itu menatap Jennie heran. Kemudian ia memberikan botol air mineral yang dibawanya ke pada gadis berpipi mandu itu.
"Sepertinya kau masih shock, Nak. Kau yakin baik-baik saja?" Jennie meraih botol air itu dan meminumnya. Sepertinya yang dikatakan wanita itu benar, ia masih shock. Bahkan sekarang jantung nya masih saja berdegup tak karuan.
"Hm, aku tidak apa-apa. Bisa katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" gadis berpipi mandu itu tampak heran karena wanita paruh baya di samping nya itu tak juga menjawab. Wanita itu terus saja melirik kearah kerumunan yang tak jauh dari tempat mereka sekarang.
"Ahjumma---"
"Kau hampir saja di tabrak oleh sebuah mobil, tapi gadis itu menarik mu hingga kau selamat dari kecelakaan." Jennie menoleh kearah tangan yang ditunjuk oleh wanita itu. Mendadak perasaan nya gusar karena wanita paruh baya itu menunjuk kearah kerumunan.
Perlahan Jennie berdiri meski kakinya terasa sedikit nyeri, tentu saja wanita tadi membantunya agar ia tak terjatuh.
"Dia baik-baik saja, kan?"
"Setelah dia menarik mu, kalian sama-sama terhempas ke jalan. Kau baik-baik saja, tapi tidak dengan gadis itu. Dia tidak sadar kan diri sejak tadi, detak jantung nya juga melemah." Jennie terkesiap, ia mengusap wajahnya kasar karena perasaan gusar itu semakin menyelimuti nya.
Perlahan Jennie melangkah menuju kerumunan itu. Ia dapat melihat wajah orang-orang di sana yang tampak begitu panik. Jennie takut jika terjadi sesuatu pada orang yang sudah menyelematkan nya. Hingga perasaan gusar itu semakin menjadi menghantui nya. Ia pun menerobos kerumunan itu, hingga mendapati seorang gadis yang terbaring tak berdaya dengan wajah yang memucat.
Deg
Rasanya waktu seakan berhenti, mata nya tampak membulat dan terasa begitu panas karena genangan air mata. Tubuhnya mulai gemetar, kakinya pun sudah melemas bahkan ia sudah tidak sanggup untuk menopang dirinya sendiri.
"... Lisa?"
....
Gadis blonde itu tampak menghampiri kedua teman adiknya yang masih berada di depan pintu masuk taman bermain. Namun wajahnya menjadi gusar karena tak mendapati Lisa di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Kısa HikayeAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)