64- Don't Worry

5.3K 525 46
                                        

Meski malam sudah menjelang, gadis berponi itu masih saja terjaga. Ia benar-benar tidak bisa tertidur karena rasa nyeri itu terkadang hadir mengganggu kenyamanan nya.

Lisa sudah mencoba untuk tetap tenang agar rasa sakit itu hilang. Tapi meski ia mencoba berapa kali pun tetap saja tak berhasil.

Meskipun begitu, ini juga bukan pertama kali ia harus menahan rasa sakit. Lisa sudah terbiasa, walaupun tak bisa di pungkiri bahwa ia benar-benar tersiksa dengan semua ini.

"Ukh...," rintihan itu terdengar memecahkan keheningan. Tangan kurus Lisa pun terus meremas piyama bagian dada kirinya.

Mata hazel Lisa melirik ke arah botol kecil berisi obat yang sengaja ia letak kan di atas nakas. Dengan tangan yang gemetar ia meraih botol itu dan menggenggam nya erat.

Lisa tak langsung meminumnya. Ia tampak menatap benda kecil yang sudah menjadi temannya selama ini. Ia tak tau sampai kapan akan berhenti bergantung pada obat-obat pahit ini, tapi hanya ini salah satu cara agar rasa sakit itu hilang dan tak lagi mengganggu meski hanya untuk sementara.

"Aish, apa yang sedang ku pikir kan." Lisa menepuk-nepuk wajahnya mencoba untuk menghilangkan pikiran buruk itu. Tidak seharusnya ia berpikir hal seperti ini, karena sekarang yang harus ia lakukan adalah tetap bertahan apapun yang terjadi.

Akhirnya Lisa meneguk pil obat itu tanpa air setetes pun. Ia bersender pada headboard sembari mengatur napasnya yang mulai terasa begitu sesak.

"Hah..., gwenchana. Kau akan baik-baik saja, Lisa." Gadis berponi itu bergumam dalam hening. Ia menutup kedua mata hazel nya untuk menenangkan diri. Cukup lama ia terdiam, hingga perlahan rasa nyeri itu hilang.

Lisa mengulum bibirnya. Mungkin karena terlalu hanyut dalam rasa sakit, kerongkongan nya kini terasa begitu kering. Air yang ada di nakas pun sudah habis sedari tadi. Tidak ada pilihan selain ia harus turun kebawah untuk mengambil air.

Dengan langkah yang tertatih, Lisa keluar dari kamarnya. Ia bertumpu pada dinding agar tubuhnya yang lemah ini tak terjatuh menghempas lantai yang dingin.

Namun langkahnya mendadak terhenti di depan kamar dengan pintu yang sedikit terbuka. Lisa mengernyit saat menyadari bahwa lampu kamar itu masih menyala.

Tangan kurus nya pun terulur berniat untuk mengetuk pintu. Namun Lisa mengurungkan niatnya karena tak ingin mengganggu tidur mereka sekarang.

"Kenapa berdiri di luar saja, Nak? Masuklah," Lisa menegak saat mendengar suara sang ibu dari dalam kamar. Ia bergumam kesal karena kehadiran nya pasti sudah membangun kan tidur Yuri.

Dengan ragu Lisa pun melangkah masuk ke dalam kamar luas bernuansa krem itu. Ia menatap sang ibu yang duduk di pinggir ranjang. Namun di sana tak ada tanda-tanda kehadiran sang ayah.

"Eomma sendirian?"

"Hm, Appa mu masih berada di ruang kerjanya sekarang." Lisa mengangguk. Saat melihat wajah sang ibu, ia menyadari bahwa Yuri masih terjaga sama sepertinya.

"Kenapa eomma belum tidur?" Yuri tersenyum. Ia hanya takut untuk terlelap karena akhir-akhir ini Yuri selalu mengalami mimpi buruk. Dan hal itu benar-benar mengganggu nya. Tapi, saat melihat tatapan teduh sang bungsu. Perasaan nya yang gelisah pun perlahan menghangat.

"Eomma tidak bisa tidur, Lisa mau menemani eomma malam ini?" senyum cerah itupun terukir di kedua sudut bibir Lisa yang pucat. Dengan cepat ia pun mengangguk.

Alone[End]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang