Suasana diruang makan keluarga park tampak berbeda. Mereka menikmati sarapan pagi dalam keheningan. Saling membisu ketika melihat wajah tegas milik pria setengah baya yang kini sayu. Matanya terlihat sembab, dan hanya membisu tak mengeluarkan sepatah katapun.
Sikap Jiyong yang aneh ini, tentu meninggalkan tanda tanya bagi keluarga nya. Sungguh mereka tidak terbiasa dalam suasana mencekam seperti ini, terasa hampa tanpa adanya suara.
"Appa, wae geurae?" Setelah cukup lama terdiam, anak ketiga keluarga park itupun mengangkat suara. Menatap lekat sang ayah yang hanya terus mengaduk makanan tanpa menyantapnya sedikitpun.
Jiyong tersadar dari lamunannya, mendongak lalu menatap anak dan istrinya yang kini menatap nya dengan intens.
"Ah, gwenchana jennie-ya. Cepat habiskan sarapan mu, hm?" Jiyong mengembangkan senyum tipis. Berusaha untuk terlihat baik-baik saja meski kini perasaan nya tak tenang dan gelisah.
Gadis berpipi mandu itu menghela napas berat. Ia tahu kalau saat ini ayahnya sedang memikirkan sesuatu. Terlihat dari raut wajah Jiyong yang tampak gusar.
"Apa ini karena permintaan ku, appa?" Suara gadis blonde itu terdengar lirih. Ia tak ingin jika permintaan nya waktu itu justru membebani sang ayah hingga ia kelelahan.
Mendengar ucapan Rosé, Jiyong menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum.
"Aniyo, sayang. Appa hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Apa karena masalah di kantor? Aku dan Jisoo bisa menyelesaikan nya. Appa jangan memaksakan diri." Jiyong terdiam. Menatap wajah putra sulungnya yang terlihat serius.
Sebenarnya ini tak ada kaitannya dengan masalah kantor atau yang lain. Pikiran Jiyong sekarang tertuju pada dokumen yang ia lihat malam tadi. Sederet nama yang mampu mengguncang perasaannya. Ia bahkan tak tau harus bereaksi seperti apa sekarang, karena pikiran dan hatinya terasa begitu kalut.
"Rosé-ya, teman mu itu. Apa dia sekelas denganmu?" Pertanyaan Jiyong mampu menarik perhatian anggota keluarga nya yang lain. Begitu pun dengan gadis blonde yang menghentikan suapan terakhirnya lalu beralih menatap sang ayah.
"Maksud appa, Lalice?" Pria setengah baya itu mengangguk.
"Ani, kami berada di kelas yang berbeda." Tak ada jawaban dari Jiyong. Ia memilih diam, tak melanjutkan pembicaraan ini lebih jauh lagi.
"Siapa Lalice?" Kini yang bertanya adalah Jennie. Menatap adiknya lekat agar segera memberikan jawaban.
"Dia salah satu siswi di sekolah ku, Unnie. Anak dari korban kecelakaan satu tahun yang lalu." Gadis bermata kucing itu mengangguk mengerti.
Tidak dengan kedua anak keluarga park yang hanya terdiam melihat interaksi adik dan kedua orang tuanya.
Sehun yang telah menyelesaikan sarapannya memilih beranjak dari ruang makan untuk segera pergi menuju kantor dan di ikuti oleh Jisoo.
"Eoh, kalian tidak memberikan kecupan untuk kami?" Yuri menunjuk pipi nya saat kedua anaknya itu mulai melangkah meninggalkan ruang makan.
Sehun tersenyum tipis, menghampiri kedua orang tuanya dan mencium pipi mereka satu persatu. Begitu pun dengan Jisoo. Hal seperti ini sudah menjadi rutinitas keluarga park setiap paginya. Menunjukkan rasa kasih sayang satu sama lain yang tentu nya tak dapat diukur dengan apapun itu.
Setelah Sehun dan Jisoo, dilanjutkan oleh Jennie dan Rosé. Melakukan hal yang sama, mencium kedua pipi orang tuanya dan kedua kakak mereka satu persatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Short StoryAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)