Keluarga park tampak menikmati sarapan pagi bersama. Sedangkan gadis berponi itu tampak turun dari tangga dengan terburu-buru karena ia kesiangan hari ini.
Saat di ruang makan, ia melirik ke arah dua kursi kosong yang dimana itu adalah tempat duduk Rosé dan Jennie.
"Rosé unnie sudah berangkat?"
"Hm, dia harus mengurusi permasalahan di club musiknya," Sehun berujar. Gadis jangkung itu tampak tersenyum bangga. Ia masih ingat saat ketika sekolah mengadakan lomba bernyanyi dan Rosé adalah salah satu peserta nya. Menurut Lisa suara gadis blonde itu benar-benar indah dan menenangkan.
"Lalu Jennie unnie?"
"Dia pagi-pagi sudah berangkat karena harus bertemu dosennya. Unnie mu akan sibuk untuk menyelesaikan semester akhirnya," Lisa kembali mengangguk mengerti. Sekarang ia tau apa penyebab gadis berpipi mandu itu selalu pulang larut dari kampusnya.
Rasa khawatir itu pun muncul karena malam tadi Lisa dapat melihat gurat wajah lelah dari unnie nya itu. Tapi ia tak dapat melakukan apapun, karena Lisa hanya akan selalu mendapatkan penolakan dari Jennie.
"Lisa-ya, duduklah dan nikmati sarapan mu, hm?" gadis berponi itu mengangguk menjawab perintah sang ibu. Ia pun duduk di kursi dan mulai menyantap makanannya.
Disisi lain, tampak seorang yeoja dengan surai hitam nya kini diam-diam melirik sang bungsu. Ada yang berbeda dari Lisa, itulah yang ia pikirkan. Gadis itu memang tampak lebih ceria dari biasanya, tapi setiap luka di tangan dan pipinya itu bukanlah hal yang wajar.
Tapi yang menarik perhatian Jisoo adalah, sebuah plester bunga yang tertempel di pipi kanan gadis berponi itu. Ia tau siapa pemilik plester warna-warni itu. Karena cuma Rosé lah yang selalu membawa benda itu kemanapun ia berada. Jisoo tidak tau kenapa plester milik Rosé bisa ada di pipi gadis itu. Dan ia memang tak ingin mencari tau alasannya.
"Lisa, mulai sekarang appa tidak akan mengizinkan mu pergi menggunakan bus lagi," tangan Lisa terhenti saat mendengar ucapan sang ayah yang tiba-tiba.
"Tapi appa---"
"Kau sudah berjanji pada appa bukan? Lagi pula appa tak ingin membahayakan keselamatan mu dengan menaiki kendaraan umum," gadis berponi itu hanya diam karena Jiyong langsung menyela ucapannya. Perkataan ayahnya itu memang tak bisa diganggu gugat lagi. Jadi Lisa hanya bisa pasrah tak ingin membantah.
Setelah selesai menyantap sarapan pagi, Lisa diminta untuk mengikuti sang ayah ke halaman depan rumah disusul oleh keluarga nya yang lain. Di sanalah mata hazel Lisa mendapati seorang namja bertubuh tegap, lengkap dengan jas hitam rapi yang dikenakan nya.
"Dia adalah Ten, mulai sekarang kau akan selalu ditemani olehnya kemanapun," Lisa membulatkan kedua matanya terkejut. Jika dia temani oleh seorang bodyguard, itu berarti Lisa tak akan bisa leluasa untuk pergi kemana pun bukan?
"Appa, aku---"
"Tidak ada penolakan. Semua ini demi kebaikan mu, Nak. Appa tak ingin kamu terluka," gadis berponi itu mengulum bibir nya ketika mendengar suara lembut Jiyong. Bagaimana mungkin ia bisa menolak permintaan sang ayah? Lisa tak akan tega melukai perasaan nya.
"Geurae, gomawo appa." Jiyong tersenyum sembari mengusap lembut surai cokelat milik sang bungsu. Hatinya benar-benar menghangat karena akhir-akhir ini, Lisa tak lagi canggung memanggilnya dengan sebutan appa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Short StoryAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)