Pagi ini, langit tampak tak bersahabat dengan alam. Mentari yang bersembunyi dibalik awan hitam, enggan untuk memancarkan sinar terangnya. Serayu angin terasa begitu dingin mampu membuat siapapun menggigil.
Kaki jenjang milik gadis berponi itu, tampak menyusuri jalanan yang telah ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Ia hanya tertunduk, tak ingin menampakan wajahnya yang kini terlihat sangat berantakan. Melangkah lunglai tak bersemangat, dengan pikiran yang sudah bercabang-cabang.
Hingga ia menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang sekolah, menatap lirih bangunan elite yang menjulang tinggi. Ia kembali teringat akan hal yang membuat nya bertahan di sekolah ini, yaitu ibunya. Hanya karena permintaan sang ibu lah, ia masih sanggup bertahan meski selalu disiksa sekalipun.
Perlahan ia mulai melangkah memasuki gerbang sekolah. Menelusuri koridor yang sudah ramai, kembali menulikan telinga agar setiap hujatan yang dilontarkan tak dapat melukai perasaan. Ini sudah menjadi kebiasaan nya di setiap hari, seperti asupan vitamin yang harus ia konsumsi secara rutin.
Sejak pertemuan nya dengan seorang pria yang mengaku sebagai ayahnya, perasaan Lalice seakan terombang-ambing. Kenapa tidak? Sudah sangat jelas selama ini sang ibu mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal. Tapi kenyataan yang ia terima justru lebih menyakitkan. Setelah 15 tahun lamanya sang ibu menyembunyikan kebenaran, dan kini semua sudah terkuak di permukaan.
Semenjak saat itu, pikiran Lalice begitu kalut. Ia tak tau harus berbuat apa lagi. Karena Lalice merasa, bahwa kini ia sudah melangkah dijalan yang buntu.
Dan sekarang yang ia inginkan adalah sebuah ketenangan. Tidak apa bukan jika sebentar saja, Lalice menikmati hidup tanpa harus mendengar ocehan menyakitkan dari orang-orang? Tapi sepertinya hal itu tak akan pernah terjadi untuk nya.
"Ya! Dari mana saja kau?" suara nyaring itu bergema di setiap penjuru koridor. Menarik perhatian siapapun yang berada di sana. Lalice menoleh, sesaat kemudian mata hazel nya bergetar ketika mendapati dua orang yeoja yang melangkah menghampiri nya.
"Aish, aku benar-benar kesal padamu. Kenapa kemarin kau tak datang, eoh? Gara-gara kau aku dihukum," gadis berponi itu meringis ketika Nayeon dengan lancang menampar wajahnya. Pipinya terasa berdenyut dan perih. Tentu saja perlakuan Nayeon membuat menganga siapapun orang yang melihat nya.
"Kenapa diam saja? Cepat jawab aku!" Nayeon kembali berteriak hingga Lalice memejamkan kedua matanya karena terkejut. Tapi meski sudah beberapa detik berlalu, Lalice tetap memilih diam tak menjawab ucapan Nayeon.
"Cih! Kau harus diberi pelajaran agar bisa bicara,eoh?" Nayeon berujar kesal, menatap jengah gadis berponi dihadapan nya.
"Sekarang ikut aku," Lalice tersentak saat dua yeoja itu mulai menyeretnya menuju lapangan. Sekuat tenaga Lalice memberontak tapi tetap saja tak bisa. Mereka menarik kedua tangan kurus Lalice dengan paksa, bahkan sampai gadis berponi itu meringis kesakitan.
"Ukh... Lepaskan!" Lalice berujar marah, tapi meski sudah berkoar-koar sekalipun, tetap saja mereka tak akan mendengar. Karena kini yang ada dipikiran dua orang yeoja itu adalah, merundung Lalice.
Brugh~
Tubuh kurus gadis berponi itu terhempas begitu saja di lapangan yang pastinya sekarang sudah dikelilingi oleh siswa dan siswi sebagai penonton. Mereka tampan menikmati saat dimana Lalice dirundung, tanpa ada niat sedikitpun untuk menolong.
"Dengar, selama satu tahun ini aku benar-benar kesulitan gara-gara kau. Bukankah seharusnya kau bertanggung jawab, hm?" Nayeon berujar sembari menepuk-nepuk wajah gadis berponi dihadapan nya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Short StoryAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)