Keluarga park kini tampak berada di dalam ruangan luas bernuansa putih itu. Mereka rela meninggalkan segala aktivitas di pagi hari demi untuk menemani sang bungsu.
Hari ini sesuai janji, dokter Jung akan melakukan ekstubasi. Tentu saja mereka menjadi sangat tegang karena proses yang akan dijalani oleh Lisa bukanlah hal yang biasa. Ada begitu banyak perhitungan yang harus dihiraukan oleh dokter Jung hingga ia memutuskan untuk melakukan hal itu sekarang.
"Periksa tekanan darah."
"Tekanan darah pasien normal, dokter." Dokter Jung mengangguk. Ia pun melangkah menghampiri ranjang gadis berponi itu yang kini tampak menegang.
Entah kenapa saat melihat dokter bermarga Jung dan beberapa perawat yang sibuk dengan alat-alat medisnya membuat pikiran Lisa menjadi kalut. Tak bisa dipungkiri bahwa kini wajahnya mulai basah dengan keringat dingin. Padahal Lisa ingin cepat-cepat menyelesaikan proses mencekam ini.
"Lalice, kau baik-baik saja?"
"Ngg," meskipun Lisa bersikap baik-baik saja, dokter Jung tau bahwa gadis berponi itu kini tengah merasa takut. Ia pun menoleh kearah gadis berpipi mandu yang berdiri diam layaknya patung.
"Jennie, bisakah kau kemari?" gadis berpipi mandu itu tersentak kaget. Ia mengangguk pelan dan perlahan melangkah menghampiri ranjang sang bungsu.
Kini Jennie kembali melihat wajah adiknya yang masih tampak pucat. Ia pun meraih tangan kurus Lisa yang terasa dingin itu dan menggenggam nya erat.
"Gwenchana, Lisa-ya. Unnie ada disini, bersamamu." Mata hazel Lisa bergetar. Ini adalah kali pertama ia mendengar Jennie menyebut dirinya unnie dihadapan Lisa.
Perasaan nya menghangat, rasa takut itu pun perlahan menghilang. Dokter Jung tampak tersenyum karena sepertinya gadis berponi itu sudah mulai tenang.
"Lalice, dengarkan perkataan ku. Kau harus terus buka matamu, arraseo?" Lisa mengerjapkan matanya. Dokter Jung pun mengangguk sembari menoleh kearah perawat yang berdiri di samping nya.
"Sekarang buka mulut mu," Lisa pun mengikuti semua arahan yang dikatakan oleh dokter Jung. Setelah semua prosedur di lakukan, perlahan dokter Jung menarik pipa endotrakeal dengan sangat hati-hati.
Ukh~
Rasa sakit dan perih itu mulai terasa hingga tanpa sadar Lisa meremas pergelangan tangan sang kakak. Jennie menggigit bibir bawahnya menahan perih akibat kuku sang bungsu yang menancap di kulit nya. Namun rasa perih itu tak terlalu ketara karena kini perhatian nya memang teralih kan kearah Lisa.
Air mata itu jatuh hingga membasahi wajah mungil Lisa. Melihat hal itu tentu saja Jennie menjadi kalut. Bukan hanya ia, anggota keluarga nya yang lain pun bahkan tak sanggup untuk melihat betapa menderita nya sang bungsu saat melakukan proses ekstubasi itu.
Uhuk~
Gadis berponi itu terbatuk setelah pipa endotrakeal dan selang untuk penghisap lendir di tenggorokan nya ditarik. Tubuhnya juga mulai melemas meski batuk itu terjadi terus menerus tiada henti.
"Dokter Jung, irama jantung pasien tidak stabil." Perawat itu berujar panik saat mesin monitor di hadapannya kini berbunyi dengan sangat nyaring. Wanita bermarga Jung itu segera memasangkan masker oksigen pada Lisa saat napas nya mulai terasa begitu berat.
"Wae geurae? Dokter Jung, apa yang terjadi? Ada apa dengan Lisa, kenapa tiba-tiba dia seperti itu?" tak ada jawaban. Jennie mengusap wajahnya frustasi saat dokter berumur lanjut itu hanya diam tak kunjung menjawab pertanyaan nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Kısa HikayeAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)