Seorang gadis berponi tampak duduk di balkon kamarnya. Menatap langit malam yang terlihat hampa tanpa hadirnya bintang. Sejak kepulangan nya dari rumah sakit, Lalice langsung membersihkan apartemen nya yang cukup berdebu karena tak pernah ditinggali dalam waktu yang lama. Hal itu cukup membuat nya lelah. Hingga ia memilih untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan aktivitas.
Belum lama beristirahat, lalice mengusap perutnya cepat setelah mendengar suara gemuruh cacing yang seakan berdemo untuk minta diisi. Waktu makan malam sudah berlalu beberapa jam yang lalu, tapi gadis berponi itu belum memakan apapun.
Hingga akhirnya Lalice beranjak dari kursi menuju dapur. Berharap ada sesuatu yang mungkin dapat ia santap untuk makan malam. Namun setelah memeriksa semua lemari, ia tak kunjung mendapatkan sesuatu.
Mata Lalice membulat ketika mendapati beberapa bungkus mie instan yang sempat ia beli sore tadi. Gadis berponi itu sangat senang karena malam ini ia tak harus tidur dalam keadaan kelaparan. Dengan sigap ia mengambil panci dan mendidihkan air. Perlahan memasak mie dengan hati-hati.
"Jika eomma ada, dia pasti bangga padaku karena bisa memasak mie instan." Gadis bermata hazel itu terkekeh, walau tak bisa dipungkiri kini wajahnya mulai terlihat sedih.
Lalice menepis segala pikiran yang membuat luka dihatinya terbuka, kembali fokus pada mie instan yang sudah matang dan siap untuk disantap.
Dalam hening, Lalice menyantap makan malam sederhana buatannya. Ada rasa puas yang menyeruak di hatinya karena ia bisa memasak mie dengan baik. Tapi sayangnya ia tak bisa menunjukkan kebolehan nya terhadap Seohyun. Meski Lalice berusaha untuk merelakan, justru kenangan nya bersama sang ibu kembali hingga membuat nya kembali bersedih.
"Sepertinya... Aku harus terbiasa." Gadis bermata hazel itu tersenyum tipis. Menatap kursi kosong yang seharusnya diduduki oleh sang ibu. Kini mata Lalice mulai menggenang, dengan tangan terkepal menahan agar air mata itu tak jatuh.
Ia sudah berjanji tak akan menangisi kepergian ibunya lagi. Lalice ingin menjadi sosok kuat seperti yang didambakan oleh sang ibu. Ia tak ingin mengecewakan ibunya lagi dengan terlihat lemah dan terus menangis seperti ini.
"Kau akan baik-baik saja, Lalice. Percayalah." Gadis berponi itu mengangguk semangat setelah menyemangati dirinya sendiri. Kembali menyantap makan malam dengan lahap ditengah kesunyian.
Lalice menghentikan suapan terakhirnya saat mendengar suara ketukan pintu yang memecahkan keheningan. Ia menoleh kearah pintu cokelat apartemen nya. Dengan ragu, Lalice mulai melangkah mendekati pintu, lalu membuka kenop perlahan.
Gadis bertubuh jangkung itu terperangah ketika melihat sosok yeoja kini berdiri dihadapannya. Justru Lalice semakin kalut karena tiba-tiba saja yeoja itu menangis dengan sangat kencang.
"Eunha-ya, kenapa kau ada disini?" Tak menjawab pertanyaan Lalice, gadis bersurai hitam itu justru langsung menghamburkan diri dalam dekapan gadis berponi. Ia terus saja menangis sampai sesegukan. Perlahan Lalice mengusap punggung temannya itu lembut.
"Wae geurae? Kau baik-baik saja, kan?"
"Justru aku yang harus menanyakan itu padamu! Kenapa tidak bilang kalau kau pulang hari ini?" Lalice tertegun. Bahkan dia lupa untuk mengabari Eunha kalau hari ini akan pulang dari rumah sakit. Gadis berponi itu pun menghela napas panjang.
"Mian, aku lupa mengabari mu." Eunha melepas paksa pelukan gadis berponi itu. Menatap yeoja dihadapannya itu jengah.
"Ya! Kau selalu saja seperti ini, Lalice." Gadis bertubuh jangkung itu hanya tersenyum mendengar setiap omelan Eunha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Short StoryAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)