Hari ini adalah akhir pekan, biasanya gadis berponi itu menghabiskan waktu dengan berdiam diri di mansion sembari membaca buku-buku miliknya. Namun kali ini ada yang berbeda, ia sudah berencana untuk keluar siang ini. Tentu saja Lisa tak pergi sendiri, karena ia juga sudah merencanakan kegiatan ini jauh-jauh hari.
Lisa tampak bersiap-siap di kamarnya. Setelah yakin bahwa semuanya sudah rapi, ia pun segera beranjak dari kamar nya.
"Lisa, kau mau kemana?" langkah jenjang gadis berponi itu terhenti di anak tangga terakhir. Ia menoleh ke arah gadis blonde yang kini telah berdiri di hadapannya.
Lisa mengigit bibir bawahnya gusar saat gadis itu mulai memperhatikan nya dengan lekat. Tentu saja Rosé heran, karena tidak biasanya Lisa keluar di saat weekend seperti ini.
"Kau terlihat sangat rapi. Ah, atau jangan-jangan kau ingin keluar hari ini?" Lisa menelan saliva nya susah payah, sepertinya tidak ada gunanya juga ia berbohong. Karena kakaknya yang satu ini pasti akan mengetahui bahwa ia sedang berbohong atau tidak.
Gadis berponi itu mengangguk kepalanya pelan. Lisa tampak melirik kearah Rosé yang menatap nya tajam. Lisa bergidik ngeri hingga ia tak mampu mengatakan apapun.
"Bukankah sudah ku bilang? Aku tidak akan mengizinkan mu," Lisa menghela napas gusar. Ia masih ingat saat itu pernah meminta izin kepada keluarga nya bahwa ia ingin pergi hari ini. Mereka semua mengizinkan dengan senang hati, tapi tidak dengan Rosé. Ia masih bersikeras melarang sang bungsu untuk pergi kemana pun.
"Tapi, unnie. Aku tidak akan pergi sendiri, Eunha dan Bambam akan ikut bersama ku."
"Mwo?" Rosé tampak terkejut dengan pernyataan adiknya itu.
Mata hazel Lisa kini melirik ke arah sang kakak yang terdiam dengan pikirannya sendiri. Ia mulai gusar, bagaimana jika Rosé tak mengizinkan nya pergi?
"Aku tetap tak akan mengizinkan mu."
"Tapi, unnie---"
"Lisa-ya, ini demi kebaikan mu. Kau lupa dengan perkataan dokter Jung? Dia melarang mu untuk melakukan aktivitas yang berlebihan," Lisa melemaskan bahunya muram. Tentu ia masih ingat dengan pesan dari dokter nya itu. Dan Lisa juga tau bahwa Rosé khawatir padanya, tapi sekarang ia sudah baik-baik saja.
"Hanya sekali ini saja, unnie. Kau pun tau bahwa ini kali pertama aku keluar bersama temanku, kan? Unnie, jebal." Lisa berucap lirih. Gadis blonde itu pun tampak menatap Lisa lekat.
"Jadi kau tak ingin mendengar kan ku? Kau---"
"Rosé-ya, biarkan adikmu pergi bersama temannya. Dia pasti sudah menunggu saat seperti ini," dua yeoja itu menoleh ke arah pria berwajah tegas yang kini sudah berdiri di samping Rosé. Mendengar ujaran sang ayah, tentu Lisa sangat bahagia. Bahkan kini matanya tampak berbinar-binar.
"Tapi, appa. Bagaimana mungkin aku membiarkan Lisa pergi, dia harus menjaga kesehatan nya."
"Jika Lisa hanya berdiam diri di rumah, bukankah itu dapat membuat nya merasa tertekan? Adikmu hanya pergi untuk jalan-jalan, Rosé-ya. Biarkan ia bersenang-senang. Kau jangan khawatir, hm?"
Gadis blonde itu mengulum bibirnya gusar. Ia tak mengerti kenapa keluarga nya yang lain dengan mudah mengizinkan Lisa untuk pergi dengan kondisinya yang seperti itu. Rosé melarang nya, karena ia tak ingin terjadi sesuatu pada Lisa. Ia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa adiknya lagi. Ia tak pernah menginginkan hal itu.
Cukup lama terdiam, akhirnya Rosé menghela napas panjang. Lalu beralih menatap sang bungsu yang kini menatap nya penuh harap.
"Geurae, tapi aku akan ikut bersama mu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Short StoryAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)