"Tuan Jiyong sudah bertemu dengan gadis itu," seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam itu tampak berdiri tegap didepan sepasang suami istri di sebuah mansion mewah.
Awalnya mereka saling terdiam, hingga suara tawa mulai terdengar menggema di setiap sudut ruangan.
"Hah, sepertinya dia terburu-buru sekali. Apa ini tidak terlalu cepat?"
"Siwon-ah, bukankah kau sudah menunggu saat seperti ini?" Pria bertubuh tegap itu tampak melirik ke arah sang istri, hingga sebuah senyum miring terukir di sudut bibir nya.
"Hm, kau benar. Sesuai rencana, besok aku akan mengajak mereka makan malam. Sepertinya akan menyenangkan, aku tidak sabar lagi untuk melihat wajah terkejut mereka."
. . . .
Pagi ini di mansion mewah keluarga park, mereka tampak begitu menikmati sarapan pagi. Saling berbagi cerita diselingi oleh tawa.
Jiyong menatap satu-satu keluarga nya dengan teliti, mereka tampak bahagia seakan tak ada sebuah kesedihan. Hingga bayang-bayang putri bungsu nya kembali memenuhi pikiran nya. Pertemuan mereka yang ternyata tak sesuai dengan yang ia harapkan. Justru meninggalkan luka baru pada hati kecil Lisa nya itu.
Bukan hanya Jiyong, sang istri juga tampak tak begitu bersemangat. Saat Jiyong mengatakan bahwa ia menemukan putri bungsu mereka, rasa bahagia itu hinggap dalam benak Yuri. Tetapi semua itu hilang dalam sekejap, ketika Jiyong kembali dalam keadaan yang berantakan dan tak ada sedikit pun ia melihat sosok Lisa.
Jisoo menyadari bahwa ada yang berbeda dari kedua orang tuanya itu. Raut wajah mereka tak menunjukkan kebahagiaan sedikitpun. Tentu saja hal ini membuat nya gusar. Takut jika terjadi sesuatu yang buruk diantara mereka.
"Ah, ya. Malam ini paman kalian mengundang kita untuk makan malam." Ucapan Jiyong mampu menarik perhatian keluarga nya yang lain. Tapi bukannya senang, mereka justru tampak tak suka dengan berita ini..
"Kenapa tiba-tiba seperti ini? Tidak seperti biasanya." Jisoo berucap sembari menyantap sarapan paginya.
"Hm, yang dikatakan Jisoo unnie benar. Bukankah ini aneh?" Gadis blonde itu berujar meski kedua pipinya tampak menyembul karena makanan yang ia kunyah belum ditelan dengan sempurna.
"Ya! Jangan bicara saat mulut mu penuh, bagaimana kalau kau tersedak." Rosé terkekeh melihat wajah Jennie yang kesal, benar-benar menggemaskan.
Tidak dengan sang putra sulung, wajahnya tampak menekuk jikalau sudah membicarakan tentang pamannya itu. Bahkan wajahnya tampak begitu datar, tak ada raut wajah bahagia di sana.
"Aku tidak akan datang." Sehun berujar dingin. Segera bangkit dari kursi dan ingin meninggalkan ruang makan itu.
"Sehun-ah, kakek mu juga akan datang." Sehun menghentikan langkahnya lalu menatap sang ayah jengah. Bukan hanya dia, bahkan anggota keluarganya yang lain juga tampak terdiam dengan ucapan Jiyong. Hal itu sudah jelas, tidak biasanya paman mereka mengajak makan malam bersama bahkan sampai mengundang seluruh anggota keluarga.
"Kita akan datang bersama, arraseo?" Sehun menghela napas berat, sebenarnya ia tak ingin datang ke acara membosankan seperti itu. Karena jika ia datang ke sana, yang didengar hanya omong kosong dari sang paman. Tapi ia juga tak akan mungkin menolak permintaan ayahnya, apalagi sang kakek yang kini berada di luar negeri saja bersedia untuk datang.
"Geurae, aku akan pergi." Jiyong tersenyum. Setelah memberikan salam pagi berupa kecupan tipis pada kedua orang tuanya. Sehun pun berlalu pergi menuju kantor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Historia CortaAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)