Senyum bahagia itu kini luruh, bahkan untuk mengucapkan satu kata saja sudah sangat sulit. Tubuh kurus yang mulai gemetar, dengan tetes air mata yang perlahan jatuh membasahi pipi.
Pemandangan yang ia lihat kali ini benar-benar sudah mengguncang dunia nya. Seakan semua berhenti berputar dan kini berpusat pada sosok gadis yang sudah tersungkur dengan cairan merah pekat yang mengotori pakaian bagian perutnya.
Orang-orang yang mulai menyadari hal ini pun tampak panik. Mulai berdatangan untuk mencari bantuan.
"Ya! Rose-ya, kau dengar aku? Jangan tutup mata mu!" teriakan itu terdengar begitu menyesakkan. Begitu sakit hingga ia hanya mampu terpaku dengan tatapan lirih.
"Andwae, unnie." Gadis berponi itu terduduk dengan napas yang memburu. Bahkan wajahnya sudah begitu basah karena air mata.
"Ambulans! Dimana ambulans? Ya! Kenapa lama sekali? Apa kalian ingin adikku kehilangan darah lebih banyak dari ini?" Jennie berteriak histeris. Pikiran nya sudah kalang kabut. Untuk berpikir tenang pun sangat sulit untuk nya. Ia begitu panik saat melihat cairan darah yang sudah mengotori kedua tangannya. Ia takut, sangat takut.
"Rose-ya, ku mohon tetap buka matamu. Tunggu sebentar lagi, eoh? Kau dengar aku, kan?" tak ada jawaban apapun. Yang Jisoo dengar hanya suara rintihan dari sang adik. Meski ia mencoba untuk tetap tenang, tetap saja Jisoo tak kuasa menahan tangis nya.
Mata hazel Lisa tak lepas sedikitpun menatap gadis blonde yang terbaring lemah di pangkuan Jennie. Ia tak tau harus berbuat apa sekarang, pikiran nya seakan buntu. Apalagi di saat ia mendengar suara desakan orang-orang di sekitar nya yang membuat ia begitu panik.
"Rose unnie, aku disini. Jebal, jangan tutup matamu. Aku mohon, unnie." Suara Lisa terdengar begitu serak hingga menyayat perasaan siapapun yang mendengar nya. Ia menggenggam erat tangan sang kakak yang lemah. Rose dapat mendengar suara lirih itu, meski kesadaran nya perlahan mulai menghilang. Ia berusaha keras untuk tetap membuka matanya.
. . .
Kebahagiaan yang ia rasakan, semua itu hanya untuk sementara. Tawa yang menyenangkan, dan waktu yang mereka habiskan. Semua itu hanya untuk kebahagiaan sesaat.
Tak sedikitpun ia diberi kesempatan untuk benar-benar menikmati setiap waktu berharga itu. Akan ada kepedihan yang harus ia rasakan setelah nya. Dan hal ini benar-benar menyakitkan untuk nya.
Saat ia berpikir bahwa semua akan baik-baik saja, maka yang terjadi justru sebaliknya. Seakan Tuhan pun tak mengizinkan nya untuk merasakan kebahagiaan.
Lisa menatap kedua tangannya yang dibercaki darah lalu menggenggam nya erat. Perasaan nya sangat hancur ketika kembali mengingat bagaimana raut wajah kesakitan sang kakak dan isak tangis dari kedua unnie nya.
"Jisoo unnie, kau juga lihat sendiri kan? Pria berpakaian hitam itu. Dia, dia yang sudah mencelakai Rose!" perhatian Lisa kini beralih pada gadis berpipi mandu yang kini berdiri di depan ruangan operasi. Ia dapat melihat betapa berantakan kedua unnie nya itu. Sama seperti dirinya, mereka juga terlihat begitu panik.
Lisa termenung, perkataan Jennie tadi mengingatkan nya pada sesuatu. Disaat perasaan gusar itu datang menyelimuti nya, dan di saat ia menyadari bahwa ada seseorang yang mengikuti mereka.
Gadis berponi itu tertunduk, sekarang ia mengerti. Seseorang yang selalu mengintai mereka saat itu, adalah orang yang sama dengan pria yang mencelakai Rose hari ini.
"Jennie-ya, tenang kan dirimu."
"Bagaimana bisa aku tenang, unnie? Lihat keadaan adikku sekarang! Sedangkan pria itu masih berkeliaran diluar sana!" suara teriakan Jennie terdengar menggema. Ia benar-benar kalut sekarang. Jennie tak akan tenang sebelum menemukan pria yang sudah melukai adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Short StoryAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)