56- Smile

7.7K 666 50
                                        

"Sekarang buka mulut mu."

"Aniyo, sudah cukup eomma." Wanita paruh baya itu tampak menghela napas gusar.

Makan siang yang seharusnya Lisa habiskan sekarang masih banyak yang tersisa.Yuri juga tidak bisa memaksa anaknya untuk menghabiskan makanan ini. Selain rasanya yang hambar, mungkin saja Lisa masih kesulitan untuk menelan.

"Kau tak akan sembuh jika makan mu sangat sedikit, Lisa-ya." Gadis berponi itu menoleh ke arah gadis blonde yang terduduk di sofa. Setiap hari dan setiap saat, tak pernah sekalipun kakaknya itu keluar dari ruangan kecuali di saat ia ingin mengisi perutnya yang tengah berdemo.

"Tapi aku sudah kenyang," Yuri menatap sang bungsu saat mendengar ujaran lirih itu dari Lisa.

Ia mengerti bahwa nafsu makan Lisa sekarang tak akan sama dengan mereka. Jika dia ingin makan saja, itu sudah jauh lebih baik. Apalagi makanan yang harus Lisa makan bukanlah sembarangan, karena Lisa harus memperhatikan apa-apa saja makanan dan minuman yang harus ia konsumsi. Tentu saja hal itu harus dilakukan agar tidak mengganggu kesehatan Lisa.

"Geurae, eomma tak akan memaksa mu." Lisa menyunggingkan senyum tipis. Ia memperhatikan sang ibu yang kini tampak membereskan peralatan makan siang nya.

Wajah mungil Lisa mendadak murung jika kembali mengingat betapa sibuknya sang ibu hanya untuk mengurusi nya. Tidur larut jika Lisa terjaga di tengah malam, menyuapi nya makan hampir di setiap hari bahkan tanpa ragu Yuri mengganti kateter yang digunakan sang bungsu. Semua ia lakukan tanpa mengeluh sedikit pun, namun hal itulah yang membuat perasaan Lisa menjadi perih.

Yuri telah melimpahkan kasih sayang sebagai seorang ibu, meskipun ia tahu bahwa Lisa bukanlah putri kandung nya sendiri. Namun hal itu bukanlah suatu halangan untuk Yuri selalu menyayangi Lisa seperti anak nya yang lain. Hati Yuri begitu tulus, sangat tulis. Dan Lisa tak ingin melukai perasaan tulus itu.

"Lisa-ya, wae geurae? Apa dia kembali sakit?" gadis berponi itu menggeleng pelan. Mungkin saat ini wajahnya sudah memerah karena menahan tangis. Dan Yuri menyadari hal itu.

"Eomma, gomawo." Wanita paruh baya itu tertegun. Suara Lisa kini sudah terdengar begitu parau. Perlahan Yuri pun melangkah dan duduk di samping putrinya. Menggenggam tangan kurus Lisa yang gemetar dengan erat.

"Terima kasih karena kau sudah menyayangi ku seperti putri mu sendiri, eomma." Yuri menggeleng pelan. Tangannya terulur mengusap wajah sang bungsu yang kini basah karena air mata.

"Apa yang kau katakan, sayang? Kau adalah putriku. Sampai kapanpun tak akan ada yang bisa mengubahnya," Lisa menggigit bibir bawahnya kuat. Melihat tatapan teduh dari sang ibu, akan selalu menghangat kan perasaan nya.

Dari sekian banyak luka pahit yang selalu menimpanya, semua terjadi tanpa suatu alasan. Dibalik rasa sakit, Tuhan sudah menyiapkan sebuah pengganti untuk nya. Memiliki keluarga yang selalu menyayangi dan peduli padanya. Kasih sayang yang ia dapatkan sekarang, adalah sesuatu hal yang sangat Lisa syukuri.

Ia memiliki dua ibu yang sangat hebat. Memiliki ayah serta saudara yang begitu mencintai nya. Teman-teman yang bahkan dulu ia pikir tak akan pernah ia miliki. Apa ada hal lain yang Lisa ingin kan? Mungkin ada, ia hanya ingin kebahagiaan ini tak akan pernah pudar.

"Kau adalah uri Lisa, kami. Kau adalah sumber kebahagiaan kami, Lisa-ya." Gadis blonde itu berujar lembut. Ia paling tidak bisa jika melihat sang bungsu menangis. Hatinya akan ikut merasa sesak jika hal itu terjadi.

"Jika kau sudah diperbolehkan keluar dari sini, kita akan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang bersama. Kau mau, kan?" Lisa mendongak dan menatap gadis blonde itu yang kini tengah tersenyum kepadanya. Ia mengangguk sembari membalas senyuman sang kakak.

Alone[End]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang