27- Attention

10.3K 943 120
                                        

Malam ini Lisa tak dapatkan tidur dengan nyenyak. Kepalanya terus saja berdenyut hingga untuk memejamkan mata saja sangat sulit untuk nya.

Mata hazel gadis berponi itu pun melirik kearah jam di atas nakas samping ranjang nya yang sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ia menghela napas berat karena selama itu pula ia belum tertidur dengan nyaman.

Lisa beranjak dari ranjang karena kini tenggorokan nya terasa kering. Tangan nya meraih sebuah teko kaca di atas meja, namun sayangnya tak ada setetes air pun di sana.

Hingga akhirnya Lisa memilih untuk pergi menuju dapur. Hal pertama yang ia lihat adalah, seorang wanita berumur yang tengah sibuk dengan peralatan di dapur.

"Bibi Chun belum tidur?" wanita yang merupakan salah satu maid tertua di mansion park menoleh dan tersenyum kepada gadis berponi itu.

"Nde, Nona. Saya tengah membuat teh hangat untuk Nona Jisoo," Lisa menegak saat Bibi Chun menyebut nama Unnie nya. Ia pun kembali menatap setiap perkakas yang di pegang oleh wanita itu.

"Jisoo unnie menyukai jujube tea?" Bibi Chun mengangguk. Senyum lebar itu pun tampak terukir di wajah mungil Lisa. Entah kenapa dia menjadi bersemangat sekarang.

"Bolehkah aku yang meracik nya, Bi?"

"Eh?" wanita tua itu tertegun setelah mendengar permintaan Lisa. Ia dapat melihat wajah gadis berponi itu yang berharap agar ia dapat mengizinkan nya.

"Bibi jangan khawatir, dulu aku selalu membuat teh ini untuk Seohyun eomma. Aku yakin Jisoo unnie akan menyukai nya," Bibi Chun membalas senyuman gadis berponi itu. Melihat ia yang antusias seperti ini, perasaan hangat itu hinggap di hati nya.

"Geurae, bibi serahkan padamu." Lisa mengangguk semangat. Bibi Chun segera menjauh memilih duduk di salah satu kursi dapur memperhatikan Lisa yang sibuk meracik teh untuk unnie nya.

Senyum bahagia itu tak kunjung luntur dari kedua sudut bibir milik Lisa. Melihat hal itu benar-benar membuat Bibi Chun merasa bahagia. Melihat sikap Lisa, ia tau bahwa gadis itu begitu tulus menyayangi sang kakak.

"Sudah selesai," Bibi Chun tersadar dari lamunannya. Menatap gadis berponi di hadapan nya yang memegang secangkir teh yang masih hangat.

"Nona Jisoo pasti senang saat tau bahwa adiknya yang meracik teh ini," mendengar ucapan Bibi Chun, senyum lebar itu pun luntur dari sang bungsu. Ia menatap wanita berumur di hadapan nya itu lirih, sembari tersenyum.

"Jangan katakan pada Jisoo unnie, Bi. dia akan menolak untuk meminum nya," entah kenapa ujaran Lisa mampu mencubit perasaan Bibi Chun. Meski gadis berponi itu tersenyum, tak bisa dipungkiri bahwa kini wajahnya yang terlihat sedih.

"Katakan padanya untuk tidak bekerja terlalu larut, itu bisa mengganggu kesehatan nya." Bibi Chun mengangguk mengerti. Ia tersenyum lirih saat melihat wajah sang bungsu yang sedih.

"Baiklah, sebaiknya Nona Lisa segera beristirahat. Jangan lupakan kesehatan Nona, hm?" gadis berponi itu mengangguk. Menatap lirih punggung Bibi Chun yang berlalu pergi meninggalkan dapur. Namun setidaknya ada rasa bahagia yang hinggap di benak Lisa.

"Semoga Jisoo unnie menyukai nya."

....

Tok! Tok!

"Masuk," gadis dengan surai hitam itu berujar tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan dari laptop mahal di depannya.

Bibi Chun pun masuk sambil membawa teh hangat yang sudah dibuatkan oleh Lisa. Menatap gadis dengan surai hitam di hadapannya yang masih sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya.

Alone[End]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang