Gadis berpipi mandu itu tampak keluar dari dalam mobil dengan langkah yang terburu-buru. Wajahnya terlihat begitu sembab, orang yang melihat nya akan tahu bahwa gadis itu pasti habis menangis semalaman.
Ia tampak begitu berantakan, selama dalam perjalanan pun gadis itu hanya diam saja. Dari raut wajahnya terlihat sebuah kemarahan yang selama ini selalu ia pendam. Bukan hanya itu, hatinya yang hancur juga terasa begitu panas.
"Nona Jennie, tunggu sebentar." Meski sudah dipanggil berkali-kali pun, gadis mandu itu tetap tidak menjawab.
"Kita tidak akan bisa masuk, sekarang persidangan pasti sedang berlangsung."
"Tidak bisakah kau diam? Aku tidak akan tenang sebelum---"
"Jennie."
Deg
Langkah kaki gadis bermata kucing itu terhenti. Suara ini, tentu saja ia sangat mengenalnya. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah lupa. Hanya dengan mendengar suara itu saja, darah Jennie terasa begitu mendidih.
"Kenapa kau ada disini?"
"Kau pikir karena siapa aku ada disini, hm?" pria bertubuh tegap itu terhenyak. Sekarang ia mengerti hal apa yang membuat gadis itu datang menemuinya ditempat ini.
"Apa kau sudah puas?"
"Jennie---"
"Aku tanya apa sekarang kau puas karena telah membunuh adikku?!" semua orang yang berada di sekitar Jennie tampak terkejut mendengar suara teriakan itu.
Mata kucing Jennie tampak menatap muak pria paruh baya yang berdiri dihadapannya ini. Penampilan nya terlihat begitu berantakan, ia juga kurus dan begitu lusuh.
"Sekarang apa yang kau dapat kan, eoh? Tidak ada kan?! Tidak ada! Tapi dengan tidak punya perasaan kau justru membunuh adikku! Kau telah membuat nya pergi dari ku, Siwon samchon!"
"Nona Jennie, tenanglah. Anda telah menarik perhatian semua orang."
"Jangan hentikan aku, Ten! Biarkan mereka tahu betapa keji nya manusia ini! Dia telah merenggut nyawa adikku! Kau tidak akan pernah merasakan bagaimana hancur nya perasaan ku!" semua orang yang memperhatikan Jennie tampak menatap nya lirih. Entah kenapa, tangisan itu terdengar begitu menyakitkan untuk mereka.
Jennie meluapkan semua amarah dan kekecewaan nya selama ini. Ia tidak kuasa memendamnya lagi. Ia tidak bisa tinggal diam dan membiarkan orang yang telah merenggut sang adik dari nya hidup tenang begitu saja.
"Sekarang kau senang kan, samchon? Keinginan mu terwujud, kau berhasil menghancurkan keluarga ku. Bahkan sampai di titik terakhir," Siwon tertunduk. Suara parau keponakan nya itu membuat perasaan nya tercubit. Bahkan sekarang ia tidak mampu menatap wajah itu.
"Kau benar, ini semua salahku."
"Bahkan aku telah melakukan hal yang melewati batas. Aku telah merenggut nyawa seseorang, dan dia adalah keluarga ku sendiri." Kedua tangan Jennie terkepal. Kalimat itu mampu membuat tangisan nya kembali pecah. Kenapa bisa sesakit ini? Rasanya begitu sesak, dan ia tak bisa menahan nya.
"Aku tidak akan meminta maaf, karena memang semua perbuatan ku ini tidak akan pernah bisa untuk dimaafkan. Ini adalah hukuman untuk ku."
Mungkin ini adalah hukuman terbesar yang harus Siwon dapat kan. Hidup dengan bayang-bayang rasa bersalah, dan tidak akan pernah merasakan ketenangan.
Dua pria yang mengenakan seragam kepolisian itupun kembali menarik Siwon menuju mobil. Mulai sekarang, ia harus terbiasa. Dengan kehidupan, yang akan menjadi racun untuk nya dirinya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alone[End]✔
Short StoryAku ada tapi tiada. Kesepian telah menjadi temanku, dan hadirku hanya benalu. "Sebenarnya apa tujuan mu?" - Park Jisoo "Apa yang kau inginkan? Uang?" - Park Jennie "Kembalikan kebahagiaan keluarga ku!" - Park Chaeyoung "Aku hanya ingin diakui." - L...
![Alone[End]✔](https://img.wattpad.com/cover/234041397-64-k563732.jpg)