Akhir kisah dari segala duka bukan berarti akhir dari kisah kehidupan.karena waktu memberi kita kisah sampai setengah kematian.
⚓
"Cie... Udah kayak pengantin baru aja,"
Maria menyoraki aku dan mas Zidan ketika mas Zidan baru saja mengecup keningku.
"Siap, melapor kepada laksamana Zidan saya ucapkan selamat,"
Maria mengucapkannya dengan sikap tegap sempurna.
"Ucapan diterima,"
Balas mas Zidan santai.
Diujung sana ada mbk Dewi, mbk Rina, Mario, dan beberapa orang lainnya mendekati kami untuk mengucapkan selamat.
"Selamat ya Dan, gue yakin kalau Lo juga nggak akan bisa hidup tanpa Nabila,"
Goda Danil menghampiri Maria dan menjabat tangan mas Zidan.
"Laksamana Zidan. Dari dulu aku yakin kalau kamu bisa berada diposisi ini, kak,"
Indria tersenyum manis memberi ucapan pada mas Zidan.
"Dan aku yakin jika Nabila sangat tepat untukmu. Karena hanya dia wanita kuat yang mampu menerima segala resiko mendampingimu,"
Sambungnya lagi menatapku dengan tersenyum.
"Terimakasih Indria,"
Ucapku dan mas Zidan bersamaan.
Hubunganku dan Indria mulai membaik sedari dia menikah dengan kak putra. Konflik diantara kita seakan terlupakan seiring bergantinya waktu.
"Wuih selamat bro, tanggung jawab baru."
Cerocos kak putra membuat semua terkekeh.
"Seorang laksamana memiliki puncak tanggung jawab,"
Jawab mas Zidan enteng.
"Selamat ya kak Zidan atas pelantikannya,"
Doni menyalami mas Zidan dengan gayanya yang mengepalkan tangan.
"Aku yakin semua akan berbuah senyuman dan tangis haru seperti sekarang Nabila,"
Lirih Mia.
Aku tersenyum padanya lalu memeluknya sejenak.
"Laksamana Zidan, saya mengucapkan selamat."
Kevin datang bersama umi.
"Sebuah pelangi telah muncul kembali setelah badai. Dan aku yakin kamu bisa melewatinya tanpa payung,"
Umi memelukku dengan erat. Senyuman kita saling menghangatkan.
"Terimakasih umi, kamu selalu menguatkan ku untuk mendekat padaNya."
Ucapku pada umi yang sedari tadi tersenyum manis.
"Ayah, ayah unda..."
Celotehan Zafran merentangkan tangannya minta digendong mas Zidan.
Ayah dan ibuk juga bapak dan mamak menghampiri kami. Wajah berseri mereka menandakan rasa terharu melihat anak dan menantunya kembali bersama.
Aku tersenyum melihat mas Zidan yang mendapatkan ucapan selamat silih berganti. Tak sedikit juga yang mengucapkan selamat padaku karena menjadi ibu ketua kesatuan Jalasenastri.
"Aku masih nggak nyangka, mas,"
Aku mengusap lembut lengan mas Zidan yang menggandengku sepanjang jalan.
"Terimakasih Jalasenastri ku, kamu begitu setia mendampingiku sampai saat ini,"
Lirih mas Zidan menatapku.
Langkah kami beriringan menuju mobil yang berada diparkiran seberang korps. marinir.
"Bukan sampai saat ini mas, tapi sampai akhir hayat."
Lama mata kami saling terkunci. Mata hitam pekat itu yang hampir membuatku putus asa dan menyerah sekarang kembali menjadi milikku.
Mata hitam pekat itu mengunci mata coklatku, kelopak mata yang teduh dengan alis tajam membuat siapa saja terpesona karenanya.
"Terimakasih Nabila, kamu adalah dermagaku. Jangkarku telah bertambat ditepi lautmu, dan aku hanya ingin bermukim dihatimu."
Senyuman mas Zidan meluluhkan hatiku sedari tadi.
"Laksamana ku, hatiku telah kamu miliki. Jangan pergi dengan membawa hatiku sendiri, tapi sertakan aku bersamanya."
Bibirnya melekung bagai pelangi. Pelangi dimatanya yang tak pernah hilang.
"Ijinkan aku menjadi fajarmu wahai senjaku,"
Kata-kata mas Zidan membuatku semakin tersenyum manis.
"Selalu menjadi imamku mas, agar aku bisa selalu menyebut namamu disetiap doaku."
Mas Zidan menangkup kedua pipiku lalu mengecup keningku dengan lembut.
"Terimakasih ibu Jalasenastri. Kamu adalah pendamping marinir terbaik,"
"Ana uhibbuka Fillah komandan laksamana Zidan,"
Senyumku semakin terbit setelah mengatakannya.
"Ana uhibbuki Fillah ibu Jalasenastri Nabila,"
Balasan mas Zidan sambil membukakan pintu mobil untukku.
Aku pendamping marinir.
Kisah dari segala keluh kesah seorang istri abdi negara.
Kisah dua hati yang berjauhan dan konflik yang bersambung dalam kehidupan.
Kisah tentang perjuangan dan resiko dari pihak 1 dan 2.
Tidak mudah menjadi seorang pendamping marinir.
Sang marinir berlaut bertaruh nyawa di Medan pertempuran. Sang Jalasenastri berlaut dalam doa di sepertiga malam.
Aku pendamping marinir. Harus siap menyambut konflik selanjutnya dan mempertahankan martabat suami.
Ikut menjalani tugas sebagai istri abdi negara. Mencintai tanah air adalah nomor satu dan wajib berkorban demi tanah air dengan jiwa dan raga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku pendamping marinir
RomansaUntuk mendampingi orang besar seperti mu aku harus bisa tangguh sepertimu. agar aku tak mundur jika kamu membutuhkanku menahan keluh kesah mu. kita dipertemukan untuk sebuah perpisahan, ketika sang marinir memenuhi panggilan pertiwi, aku harus mampu...
