31. PERTUNANGAN?

13K 1.1K 22
                                        

[Aku yakin, pasti kalian semua tahu bagaimana cara menghargai penulis.]

Jangan lupa vote, coment, dan bagikan ke teman-temannya atau sosmed.

Happy reading.

***

31. PERTUNANGAN?

Albarian turun dari atas tangga rumahnya dengan mengenakan pakaian seragam sekolah lengkap. Langkahnya terhenti di lantai bawah, saat dia melihat seorang gadis dan pria paruh baya berdiri di depan teras rumahnya.

Albarian melalui mereka berdua begitu saja. Tanpa, menoleh atau melirik sedikit pun.

"Al!" panggil Rehan Hartono, ayahnya Albarian.

Albarian menghentikan langkahnya. Wajahnya yang memar semalam telah diobati oleh Zelia dengan mengompresnya menggunakan es batu. Tubuh cowok itu sudah sedikit segar kembali dan mendingan.

"Ke sini kamu!" titah Rehan kepada Albarian.

Albarian membalikkan badannya lalu berjalan malas ke arah Rehan.

"Hm?" desus Albarian malas.

"Semalam kemana kamu? Kenapa kamu nggak pulang ke rumah?" tanya Rehan yang tengah berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

"Semalam, Al-"

"Semalam, Al nginap di rumah saya, Om. Dia tidur di kamar kakak saya," potong Karina menjelaskan kepada Rehan.

Albarian menatap tajam ke arah Karina. Karina yang melihat tatapan itu menelan susah salivanya dengan raut wajah yang sedikit takut.

"Gue nggak butuh belaan lo!" ketus Albarian kepada Karina.

"Semalam, Al tidur di apartemen. Papa nggak usah khawatir. Al sudah besar, nggak perlu diatur-atur lagi."

"Kamu?!" bentak Rehan dengan raut wajah emosi.

"Apa?! Papa yang sudah membuat semuanya hancur. Gara-gara papa keluarga ini pecah."

Rehan melayangkan tangannya ke arah pipi Albarian. Tapi, Karina mencoba menahan tangan Rehan. Albarian yang tadi menutup mata saat Rehan melayangkan tangannya.

Cowok itu membuka matanya dan melihat kalau Karina menahan tangan ayahnya itu.

"Om harus bisa mengendalikan emosi, Om. Biar bagaimanapun Om nggak berhak memperlakukan Al dengan kasar," bela Karina lalu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Rehan.

Rehan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya lalu menghela nafas panjang dan mencoba untuk sedikit tenang.

"Andaikan tidak ada Karina. Kalau, tidak-"

Rehan menghentikan ucapannya lalu beralih ke perkataan lain. Sedangkan, Albarian hanya menatap malas ke arah Rehan.

"Udah, sekarang kamu pergi ke sekolah bareng Karina. Dan beberapa hari lagi Papa akan menyiapkan acara pertunangan kalian."

"Tapi, Pa-" ujar Albarian yang terpotong.

"Om, nggak usah terburu-buru. Kami kan masih sekolah," potong Karina lalu menoleh ke arah Albarian. Terlihat Albarian yang sedikit emosi melihat tingkah gadis itu.

Albarian membalikkan badannya malas lalu berjalan menuruni anak tangga, tanpa pamit kepada Rehan, menuju mobil sport berwarna hitam yang sudah terparkir di depan bagasi mobil.

Karina yang melihat itu langsung menyalami tangan Rehan dan pamit.

"Om, aku berangkat dulu, ya."

Karina berlari menuruni anak tangga menghampiri Albarian.

"Al, tungguin gue!"

Albarian membuka pintu mobilnya lalu menoleh ke arah Karina yang tengah berlari ke arahnya.

"Lo jalan kaki aja!"

-oOo-

Albarian tengah mengendarai mobil menuju sekolah sambil memasang wajah malas. Hari ini dia tidak bisa menjemput Zelia. Di samping Albarian terlihat Karina yang tengah sibuk dengan make-upnya.

"Al?!" panggil Karina.

"..."

Karina menoleh ke arah Albarian.

"Al?!"

"Lo nggak usah cari muka di depan bokap gue!" ketus Albarian sontak membuat Karina terdiam.

"Gu-gue cu-cuman bantu lo," ujar Karina terbata-bata.

"Lo ingat! Kalau gue menganggap lo itu cuman teman gue. Gue menyayangi lo cuman sebagai teman, camkan itu!"

Karina mengalihkan pandangannya ke depan.

"Gue paham, Al..... gue tahu, kalau lo nggak suka sama gue. Dan, gue juga nggak maksa lo buat nerima gue," ucap Karina sedikit sendu lalu menoleh ke arah Albarian. "Setidaknya gue minta kepada lo, agar lo tidak membenci gue."

Albarian menjulurkan tangannya ke atas kepala Karina lalu mengelusnya kasar.

"Al! Rambut gue berantakan. Awas, ya lo!" seru Karina lalu terkekeh-kekeh ke arah Albarian sambil memperbaiki rambutnya.

"Gue nggak pernah membenci lo. Lo itu sahabat gue dari kecil. Lo yang selalu menemani gue disaat gue susah dan sedih. Dan di saat gue merasa nggak punya siapa-siapa. Lo tu udah gue anggap seperti adek gue sendiri, selamanya. Gue yakin, lo pasti menemukan seseorang yang lebih baik dari gue. Nanti, kalau ada orang yang nyakitin lo, bilang aja sama gue."

Karina masih menoleh ke arah Albarian dengan senyuman kecil yang terlihat sedikit terpaksa.

"Gue minta maaf atas semua kesalahan kakak gue. Gue juga baru tahu kalau Zelia mantan kakak gue. Sebelumnya, dia tidak pernah memberi tahu gue. Dan..."

"....gue bakalan membatalkan pertunangan kita."

-oOo-

Albarian dan Zelia [ Open Pre-order ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang