[Aku yakin, pasti kalian semua tahu bagaimana cara menghargai penulis.]
Jangan lupa vote, coment, dan bagikan ke teman-temannya atau sosmed.
Tebarkan komen sebanyak-banyaknya!
Happy reading.
***
64. MAAF
Kenapa penyesalan harus datang diakhir?
-Zelia.
Davandra mencoba untuk mengumpulkan seluruh jiwa-jiwanya. Dia menghela nafas kasar lalu mencoba untuk membuka mulutnya. "Tunggu!"
Zelia dan Albarian yang mendengarkan suara itu langsung menghentikan langkah kakinya. Mereka merasa aneh dan penasaran. Mengapa Davandra menyuruh mereka untuk berhenti?
Davandra mencoba untuk berjalan tertatih-tatih menghampiri Zelia dan Albarian. Bagaimanapun cowok itu harus bisa menghampiri mereka. Dia harus mengungkapkan semuanya. Entah kenapa tubuhnya sedikit sudah membaik daei sebelumnya. Walaupun, masih terasa sangat sakit. Mungkin ini yang dinamakan dengan garis takdir, Tuhan.
Kita tidak pernah tahu satu detik, satu menit, satu jam, besok dan lusa apa yang akan terjadi. Mungkin saja orang yang kita cintai akan mencintai kita. Atau, orang yang paling kita cintai akan membenci kita. Do you know?
Zelia dan Albarian membalikkan badannya lalu menatap ke arah Davandra yang tengah berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdua berdiri. Hanya berjarak satu meter. Angin laut bertiup sangat kencang. Davandra sedikit menggigil karena kedinginan karena kemejanya yang basah. Sebentar lagi malam akan menampakkan dirinya.
Davandra merogoh sesuatu di saku celananya. Dia mengambil ponselnya. Tangannya membuka lock screen lalu memencet sebuah vidio rekaman. Melihatnya vidio itu sangat penting.
Davandra memberikannya kepada Zelia. "Lo harus lihat ini, Ze."
Zelia melirik ke arah Albarian, begitu juga dengan Albarian. Mereka saling melemparkan pandangan. Gadis itu melepaskan genggamannya lalu berjalan menghampiri Davandra. Sedangkan, Albarian masih berdiri di belakangnya.
Zelia mengambil ponsel Davandra. Dia menatap nanar vidio yang terputar di layar ponsel cowok itu. Dia mendapati Albarian yang tengah berkumpul-kumpul di lapangan basket dengan ketiga sahabatnya.
Rekaman video.
Gevin menoleh ke arah Brizal yang tengah membuka baju basketnya lalu duduk sambil menjulurkan kaki di atas lantai. "Taruhan kita bagaimana?"
Albarian menyampirkan baju basketnya di pundaknya.
"Iya, gue udah nggak sabar buat ditraktir," sambung Bayu.
Plak.
Bryan menepis kepala Bayu kasar. "Giliran gratisan aja lo gercep."
Bayu menoleh -menatap sinis ke arah Bryan. "Bilang aja lo juga mau."
"Sakit, anjir," umpat Bryan saat kepalanya ditepis oleh Bayu.
"Lo, kan udah jadian sama Zelia. Jadi, lo harus traktir kami bertiga. Nggak usah uang, kami hanya perlu makanan selama satu minggu." Gevin melirik ke arah Bayu dan Bryan. "Yoi, nggak, bro?"
"Yoi, bro!" seru Bayu dan Bryan serentak
Rekaman video selesai.
Raut wajah Zelia berubah menjadi sendu. Dia mendongak -menatap Davandra lemah. Air bening jatuh dari sudut matanya begitu saja. Kenapa kenyataan itu begitu menyakitkan?
"Ze, itu semua, bo-" jelas Albarian terpotong. Cowok itu tepat berdiri di belakang Zelia.
"Diam!" bentak Zelia membuat Albarian terdiam seketika.
Zelia memberikan ponsel yang dipegangnya kepada Davandra lemah. Davandra mengambilnya lalu menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.
"Sekarang lo paham, kan. Kenapa gue sampai semarah itu?" ucap Davandra parau.
Davandra menyampirkan kedua tangannya di pipi Zelia. Mata Zelia terlihat berair-air, hingga setetes air bening jatuh dari sudut matanya. Davandra menyeka air mata gadis itu lalu menatap gadis itu dalam.
"Gue sayang sama lo, Ze. Gue nggak mau lo terluka. Gue nggak mau lo sakit hati. Cukup gue yang merasakan itu. Gue udah cukup sakit hati saat gue harus melepaskan lo pergi. Gue nggak mau rasa sayang lo ke gue lebih besar. Gue takut kalau suatu saat nanti gue bakalan pergi ninggalin lo untuk selamanya. Dan itu akan membuat hati lo lebih sakit," lanjut Davandra sambil menangis dan menahan detak jantungnya yang tidak normal. Seakan-akan ingin pecah dan berhenti untuk selamanya. Sakit!
Tuhan, jangan sekarang, aku belum selesai melakukan peranku di dunia ini. Aku hanya ingin melihat dia bahagia untuk terkahir kalinya, batin Davandra menangis dan mencoba untuk tersambung dengan Tuhan.
"Ze, gue-" ucap Albarian terpotong.
"Gue bilang diam, ya diam!" bentak Zelia membuat Albarian benar-benar mematung di belakangnya.
Zelia mendongak -menatap Davandra dalam dan sendu.
"Maaf," ucap Zelia lirih. Mata gadis itu terlihat meneteskan beberapa air bening di sudut matanya.
"Maaf kenapa?" tanya Davandra mencoba untuk menyeka air mata Zelia.
"Maaf, kalau gue udah salah menyangka lo untuk yang kedua kalinya," lirih Zelia sontak air matanya mengalir di pipinya luruh.
"Gue hanya cewek bodoh yang mudah percaya dengan siapapun. Tanpa, gua sadar kalau gue hanya dimanfaatkan. Sampai-sampai gue melupakan orang yang berjuang melawan penyakitnya demi gue. Maafin gue, Dav ... maafin, gue..." lirih Zelia sambil menangis tersedu-sedu lalu tertunduk sendu.
To be continued...
Nih, aku kasih cast Davandra.
Davandra Arvaeliozars
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.