47. BERDUA LEBIH BAIK

7.7K 626 14
                                        

[Aku yakin, pasti kalian semua tahu bagaimana cara menghargai penulis.]

Jangan lupa vote, coment, dan bagikan ke teman-temannya atau sosmed.

Typo bertebaran.

Happy reading.

***


47. BERDUA LEBIH BAIK

Albarian mengambil sebuah donat dengan rasa cokelat dari dalam kotak donat. Lalu menyodorkannya ke mulut Zelia yang tengah ngemil keripik kentang sambil menatap ke arah danau. "Makan!"

Zelia menoleh ke arah Albarian lalu membuka mulutnya. Dia mengigit ujung donat. Sedangkan, Albarian menjauhkan tangannya dari donat yang tertahan di mulut Zelia itu. Gadis itu belum memperkeras gigitannya.

Albarian sedikit bergeser ke arah Zelia lalu saling berhadapan. Dia menggigit ujung donat yang digigit oleh gadis itu. Zelia menekan gigitannya, hingga donat itu terputus. Dia mengunyah donat itu dalam mulutnya sambil menatap ke arah danau lagi. Sedangkan Albarian memakan sisa donat itu.

Albarian menatap ke depan. Begitu juga dengan Zelia. Mereka berdua menatap ke arah danau yang tenang. Sepertinya suasana seperti ini bagus untuk bernyanyi.

"Ze?"

"Hm?"

"Gue mau nyanyi buat lo," ucap Albarian. "Tunggu dulu."

Albarian beranjak dari hadapan Zelia. Dia berjalan ke arah mobil. Mata Zelia terus menatap ke arah Albarian yang berjalan ke arah mobil. Cowok itu mengambil sebuah gitar dari dalam mobilnya. Dia sudah menyiapkan gitar itu dari rumah sebelum berangkat liburan bersama Zelia.

Setelah mengambil gitar berwarna hitam, Albarian kembali duduk di samping Zelia. Mereka saling berhadapan. Cowok itu mulai memeluk gitarnya lalu memetiknya, membentuk sebuah alunan melodi lagu sambil bernyanyi. Zelia juga ikutan bernyanyi karena dia tahu lagu itu.

Berdua Lebih Baik-Acha Septriasa

Lihat awan di sana
Berarak mengikutiku
Pasti dia pun tahu

Ingin aku lewati
Lembah hidup yang tak indah
Namun harus kujalani

Berdua denganmu
Pasti lebih baik
Aku yakin itu
Bila sendiri
Hati bagai langit
Berselimut kabut

Lihat awan di sana
Berarak mengikutiku
Pasti dia pun tahu

Ingin aku lewati
Lembah hidup yang tak indah
Namun harus kujalani

Berdua denganmu
Pasti lebih baik
Aku yakin itu
Bila sendiri
Hati bagai langit
Berselimut kabut

Setelah selesai bernyanyi. Albarian meletakkan gitarnya di sampingnya. Dia bangkit lalu menjulurkan tangannya ke arah Zelia. Zelia menggapai tangan cowok itu lalu menggenggamnya erat. Gadis itu bangkit berdiri.

"Kita mau kemana, Al?" tanya Zelia.

"Ke tengah danau. Gue mau kasih sesuatu buat lo," jawab Albarian membuat Zelia penasaran.

Albarian mengiring Zelia ke perahu kecil yang ada di tepi danau. Dia melangkahkan kakinya ke dalam perahu dengan hati-hati yang diikuti oleh Zelia dan dibantu Albarian.

Albarian melepaskan genggamannya lalu duduk di atas perahu. Tangannya mengambil sebuah dayung kayu lalu mendayung perahu itu sampai ke tengah-tengah danau, hingga akhirnya mereka berdua berhenti di sana.

Zelia membentangkan tangannya lebar sambil menghela nafas panjang. "Sejuk."

Udara di tengah-tengah danau terasa sangat sejuk dan menenangkan jiwa. Seakan-akan semua masalah menghilang dan lupa akan dunia. Zelia menatap ke arah Albarian. Mereka saling berhadapan.

"Btw, lo mau ngasih apa?" tanya Zelia penasaran.

"Tutup mata lo!" titah Albarian.

"Harus? Kalau gue nggak mau?"

"Gue colok mata lo."

"Oke, gue bakalan tutup mata gue," ucap Zelua perlahan-lahan menutup matanya lekat. "Janga macam-macam lo! Awas aja, ntar gue gibeng kepala lo," ancam Zelia.

"Hm." Albarian berdeham lalu merogoh saku celananya. Dia memegang sebuah kotak kecil berwarna putih di tangannya.

Albarian menjulurkan tangannya ke arah Zelia. Dia membuat posisi seperti orang yang mau memberikan cicin lamaran kepada calon tunangannya. Cowok itu membeli cincin itu saat di mall tadi.

Flashback on.

"Kak, saya mau beli cincin berlian itu," ujar Albarian menunjukkan ke arah cincin berlian dengan satu tindikan di tengahnya. Cincin yang diletakkan di atas kota berwarna putih.

Setelah selesai membeli cincin. Albarian keluar dari mall menuju parkiran. Dia masuk ke dalam mobil yang di dalamnya sudah ada Zelia menunggunya.

"Kemana aja lo?"

"Kan, udah gue bilang mau jemput jejak gue."

"Aneh." Zelia bergidik.

Flashback off.

"Sekarang buka mata lo!" titah Albarian.

Zelia membuka matanya Perlahan-lahan. Dia mendapati sebuah cicin berlian yang terletak di dalam kotak kecil berwarna putih itu. Matanya berkaca-kaca. "Bagus, Al. Tapi, kan gue nggak minta lo beliin cicin ini. Ini kan mahal."

"Tenang," Albarian menenangkan Zelia  "Nggak terlalu mahal, kok."

"Hm."

"Maukah lo menjadi tunangan gue?"

Dengan cepat Zelia mengangguk. "Mau."

"Apa?" tanya Albarian dengan ekspresinya yang pura-pura tidak mendengar.

"Mau!"

"Kurang deras!"

"Gue mau jadi tunangan Albarian!" pekik Zelia keras di tengah-tengah danau. Untung sepi.

Zelia tersenyum kecil ke arah Albarian. Albarian membalas senyuman gadis itu. Albarian mengambil cicin yang ada di dalam kotak itu lalu meletakkan kotaknya di atas perahu. "Julurkan tangan lo!"

Zelia menjulurkan tangannya lalu Albarian memasangkan cincin itu ke jari manis Zelia. Zelia kembali tersenyum lalu memeluk Albarian erat. Perahunya sedikit bergoyang kanan-kiri.

"Terima kasih, Al." ucap Zelia. "Gue sayang lo."

-oOo-

Apakah kebahagiaan itu selalu ada?

Albarian si Sadboy. Tapi boong.

 Tapi boong

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Albarian dan Zelia [ Open Pre-order ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang