38. 4 VS 4

9.8K 850 8
                                        

[Aku yakin, pasti kalian semua tahu bagaimana cara menghargai penulis.]

Jangan lupa vote, coment, dan bagikan ke teman-temannya atau sosmed.

Typo bertebaran.

Happy reading.

***

38. 4 VS 4

Albarian men-dribble bola dari kejauhan lalu melakukan lay up shoot ke dalam ring dengan sempurna. Cowok itu kembali mendribble bola sedikit beranjak dari ring lalu membalikkan badannya, melakukan three point.

Prok..prok..prok

Ketiga teman-teman Albarian bertepuk tangan sambil berjalan ke arah lapangan menghampiri Albarian. Mereka bertiga duduk di kursi besi yang terletak di tepi lapangan lalu meletakkan tasnya dan mengganti baju mereka dengan seragam basket, sedangkan celananya hanya celana training biasa.

"Permainan lo makin bagus aja, Al," ujar Bryan sambil melakukan pemanasan dengan menggerakkan seluruh otot tubuhnya.

"Maklum, biar kelihatan lebih waw gitu," celutuk Gevin, juga melakukan pemanasan.

"Apalah daya gue yang jomblo," malas Bayu, juga melakukan pemanasan tapi tidak bergairah.

"Gue cuman mau terlihat perkasa di depan ciwi-ciwi," ujar Albarian lalu melakukan dribble dan melempar bolanya ke arah Gevin. Cowok itu menangkapnya.

Albarian beranjak dari lapangan, duduk di kursi besi sambil meneguk kasar botol aur mineral.

Gevin mendribble bolannya ke arah ring lalu melakukan lay up shoot ke dalam ring.

"Cukup satu, Al. Nggak usah banyak-banyak," ujar Gevin mendribble bolanya lalu melakukan shooting ke dalam ring.

Bryan mengambil bola yang terjatuh di lantai lalu mendribble-nya.

"Bercanda bego!" seru Albarian. "Lagian gue udah menautkan hati gue pada satu gadis yang membuat hidup gue terasa lebih berwarna."

Bayu melenggang pergi dari hadapan Albarian menuju lapangan. "Maaf, jomblo diam."

Albarian bangkit, berjalan menghampiri Bayu lalu merangkulnya. "Walaupun lo jomblo kami akan selalu ada buat lo."

Albarian melepaskan rangkulannya lalu merebut bola dari tangan Bryan dan melakukan lay up shoot ke arah ring.

Albarian membiarkan bolanya jatuh. Albarian, Gevin, dan Bryan menghampiri Bayu lalu merangkul sahabatnya itu dengan erat. Mereka berempat saling berangkulan.

"Ingat! Kita sahabat dari kecil. Jadi, apapun masalah kita. Kita akan hadapinya bersama-sama," ucap Albarian.

"Best friend forever!" ujar mereka serentak lalu saling tertawa kecil.

Mereka semya melepaskan rangkulannya lalu menoleh ke arah bola yang menggelinding sedari tadi entah kemana. Ternyata, bola itu berhenti tepat di kaki seseorang.

Mereka semua mendongak menatap cowok itu.

"Davandra," gumam Gevin.

Terlihat dari tepi lapangan, Davandra dengan empat temannya. Kebetulan teman-teman Davandra yang lain sudah sibuk dengan dirinya masing-masing untuk menghadapi ujian semester pada hari senin.

Cowok yang mengenakan hodie hitam dan celana training itu mengambil bola yang tergeletak di hadapannya.

"Four vs four," uhar Davandra lalu mendribble bolanya, mengiringnya sampai ke ring lalu melakukan lay up shoot.

Mereka semua berdiri di ruangnya masing-masing. Albarian dan Davandra berdiri di tengah lapangan sambil bertatapan tajam. Salah satu anggota geng Foster menjadi wasit, dia melemparkan bola ke udara lalu Albarian dan Davandra menjangkaunya.

Davandra mendapatkan bolanya lalu mendribble-nya ke arah ring lawan. Gevin yang menyadari itu langsung mengejar Davandra lalu menghalang langkah kaki Davandra.

Davandra membelakangi Gevin sambil mendribble rendah bolanya. Dengan cekatan Albarian yang tidak terlalu jauh langsung berlari dan mengambil alih bola dari tangan Davandra.

Albarian mendribble bola ke arah ring lawan. Langkah kakinya terhalang oleh salah satu lawan, dua mencoba mengelakkan lawannya dengan memutarinya lalu melakukan lay up shoot.

"2-0!" teriak salah satu anggota geng Foster yang berperan sebagai wasit.

"Yang kalah harus ciuman dengan Mimi Peri!" ujar Gevin.

Davandra mengambil alih bola lalu mengelakkan seluruh lawannya dengan teknik permainannya. Tanpa, berpikir panjang cowok itu melakukan lay up, hingga point berubah menjadi 2-2.

Bryan mengambil alih bola lalu mengopernya kepada Albarian yang tidak jauh darinya. Albarian mendribble bola ke ring lawan. Tapi, langkah kakinya dihadang oleh Davandra.

"Jagalah orang yang lo sayang. Sebelum lo menyakitinya," ucap Davandra.

Albarian mengelakkan Davandra lalu melakukan three point. Gol.

"5-2," teriak wasit dari tepi lapangan.

Mereka semua terus bermain bersama, hingga pada akhirnya geng Zagas lah yang menang.

Albarian dan ketiga teman-temannya duduk di kursi besi yang ada di tepi lapangan. Davandra dan teman-temannya menghampiri geng Zagas.

"Kali ini lo menang untu yang kedua kalinya, semoga lo bisa membahagiakan orang yang benar-benar menyayangi lo," ujar Davandra lalu beranjak daei hadapan Albarian bersama gengnya.

Albarian tidak menghiraukan ucapan Davandra dia meneguk kasar botol mineral yang tengah dipegangnya.

Albarian mengambil ponselnya yang terletak di sampingnya lalu mencari kontak Zelia dan melakukan video call.

Berdering.

Tersambung.

"Udah pulang sayang?" tanya Albarian kepada telepon seberang yang gambarnya terlihat jelas di ponsel Albarian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Udah pulang sayang?" tanya Albarian kepada telepon seberang yang gambarnya terlihat jelas di ponsel Albarian. Zelia tengah duduk santai dan siap-siap untuk beres-beres pulang.

"Aduhh, pakek sayang-sayangan. Lha gue, sayang-sayangannya sama siapa?"

"Sama tembok," sambar Gevin.

"Mana mau tembok sayang-sayangan sama gue. Gue bilang sayang aja, dia diam."

"Tololnya sangat natural," ujar Gevin setelah selesai meneguk airnya.

"Bangsat!" umpat Bayu.

"Tumben pakek, sayang," celutuk Zelia.

"Eh, iya. Lo kan titisan setan."

"Inalillahi, masa doi dibilang titisan setan," timpa Bryan.

"Bacot! Jemput gue sekarang!" umpat Zelia kepada Albarian.

Tut..tut..tut..

-oOo-

Albarian dan Zelia [ Open Pre-order ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang