06. BUNDA TUKANG COMBLANG

25K 2.3K 158
                                        

Aku mau ngemis vote dan coment-nya dong. Kalian baik deh, aku tahu kalian tuh orang yang senang melihat orang bahagia. Jadi beri bintang di pojok kirinya, ya.

Bagikan juga ke teman-temannya biar semua pada baca.

Semoga kita semua dalam keadaan sehat selalu.

Happy reading.

06. BUNDA TUKANG COMBLANG

"Bunda, Zelia pulang!"

Zelia berteriak di depan rumahnya, melangkah ke arah pintu rumah. Sedangkan Albarian melirik ke seluruh sisi rumah Zelia.

Terlihat sederhana. Di depan Albarian terlihat, rumah yang tidak terlalu besar, layak dihuni dan lingkungan juga bersih. Tapi cuman model rumahnya aja yang sederhana.

Kebetulan rumah Zelia juga di dekat jalan raya. Cowok itu kira Zelia orang kaya ternyata tidak. Mungkin karena dia melihat Zelia sangat cantik, jadi dia mengira Zelia anak orang kaya.

Tiba-tiba saja Zelia mengingat sesuatu sontak dia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, menghampiri Albarian yang berdiri di depan rumahnya sambil membawa beberapa kantong kresek yang berisi buah.

"Gue lupa, kalau Poly tinggal di sekolah," ujar Zelia menatap Albarian.

"Poly?" tanya Albarian heran sambil mengerutkan keningnya. "Siapa Polly?"

"Sepeda gue."

Albarian terkejut mendengar leluconan Zelia sambil terkekeh-kekeh. "Ha? Sepeda?" tanya Albarian sambil tertawa kecil.

"Udah biarin aja, sekarang lo punya sepeda baru, malahan sepedanya sangat langka dan hanya bisa satu kali produksi. Itu pun dalam semalam yang indah." lanjut Albarian.

"Mana?"

"Nih, di depan lo."

Zelia menggeser Albarian kasar ke samping, karena menghalangi pandangannya. Gadis itu melirik ke arah depan. Tapi, dia tidak melihat sepeda. Apakah baru di pesan Albarian?

Zelia menoleh ke arah Albarian. "Mana? Kok nggak ada?"

"Gue." jawab Albarian singkat.

Zelia mengernyitkan keningnya heran. "Lo?"

Albarian mengangguk kepada Zelia. "Hmm."

"Ck, nyebelin." Zelia berdecak kesal. Terlihat salah tingkah, melangkah ke arah pintu sambil tersenyum kecil sendiri.

Zelia melepaskan sepatunya, membuka pintu rumahnya yang terbuat dari kayu dengan lapisan warna putih. Pintu yang terlihat sederhana.

"Ayok masuk! Ngapain lo bengong?" ajak Zelia melangkah masuk ke dalam rumah.

"Iya," jawab Albarian langsung mengekori Zelia dari belakang lalu melepaskan sepatunya.

"Gue tahu rumah gue nggak besar, mungkin sangat berbeda dengan rumah lo. Ya beginilah kehidupan gue. Sederhana. Walaupun kami serba kecukupan, gue tetap bahagia dengan orang tua gue," ucap Zelia sambil membantu Albarian meletakkan kantong krese buahnya di atas meja ruang tamu. Meja yang terlihat biasa namu layak untuk dipakai.

"Gue bukan orang yang seperti lo pikirkan. Gue nggak pernah memandang siapa pun dari statusnya. Karena itu nggak guna." balas Albarian menatap ke arah Zelia. Mereka berdua berdiri di ruang tamu. Ruangan yang di desain sangat sederhana, hanya ada lampu, foto lama keluarga Zelia dan beberapa hiasan sederhana.

Albarian dan Zelia [ Open Pre-order ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang