[Aku yakin, pasti kalian semua tahu bagaimana cara menghargai penulis.]
Jangan lupa vote, coment, dan bagikan ke teman-temannya atau sosmed.
Happy reading.
***
37. KITA DAN KEBAHAGIAAN
Tin tin tin!
Suara klakson motor terdengar jelas dari depan rumah Zelia. Gadis itu keluar dari rumahnya. Senja yang sebentar lagi akan berubah menjadi gelap. Gadis itu memang mengambil kerja paruh waktu di malam hari dengan gaji yang pas-pasan.
"Akhirnya datang juga," ujar Zelia lalu menjulurkan helm yang dibawanya kepada Albarian. "Pakein."
"Dasar manja!" celutuk Albarian lalu memasangkan helmnya ke kepala Zelia.
"Biarin," geram Zelia. "Karena gue butuh perhatian lo yang membuat hidup gye terasa bahagia."
"Makin cinta, deh.
"Gue nggak, tuh." Zelia langsung naik ke atas motor Albarian.
Albarian menoleh ke arah Zelia.
"Sok-sokan, giliran gue didekatin banyak gadis aja cemburunya minta ampun."
"Bacot," umpat Zelia. "Udah, sekarang berangkat! Ntar gue telat."
"Baik Tuan Putrinya mas ganteng," ucap Albarian lalu menghidupkan motornya.
"Peluk, dong!" lanjut cowok itu.
"Harus?" tanya Zelia di leher Albarian.
"Iya, kalau nggak gue, nggak mau anterin lo," ancam Albarian.
Zelia menghela nafas malas.
"Iya, deh." Gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang cowok itu. sambil menyandarkan kepalanya di punggung cowok itu
Cowok itu tersenyum dari balik helm full face-nya.
"Gue sangat mencintai lo, Ze," gumam Albarian dari balik helm full face-nya. "Jangan pernah ninggalin gue, ya."
Zelia mendongak.
"Ayo, cepetan!" seru gadis itu. "Kok, lu bengong?"
"Ha? Nggak ada," bohong Albarian lalu menancapkan gasnya beranjak dari depan rumah Zelia.
-oOo-
Di jalan raya Kota Padang. Motor Albarian bergerak tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat.
Zelia menumpukan dagunya di pundak Albarian. Sedangkan tangannya masih setia memeluk pinggang pangerannya.
"Al?"
"Hm?"
"Badan lo wangi, ya. Gue suka."
"Iyalah, gue kan wangi selalu," sahut Albarian. "Agar lo nyaman sama gue."
"Rasa nyaman itu telah tumbuh dan mekar dalam diri gue dan itu datang dari hangatnya sikap lo."
Hening sejenak.
"Al?"
"Hm?"
"Jangan pernah membuat gadis lemah lo ini kesepian dan kehilangan pacar gantengnya, ya?"
"Nggak bakalan, sayang."
Hening sejenak dalam dekapan irama angin.
"Ze?"
"Hm?"
"Terimakasih, ya. Lo telah menjadi pelangi yang mewarnai hidup gue yang kelam ini."
"Apapun itu, seberat apapun itu. Gue nggak bakalan pernah membiarkan lo berjuang sendirian."
"Kita dan cinta," serentak.
Zelia mendongak sambil tersenyum manis ke arah cowok itu.
"I love you."
"I love you too, babe."
-oOo-
Motor Albarian berhenti di depan cafeTwilight tempat Zelua bekerja. Ya, cafe yang dimiliki oleh papanya, Albarian.
Zelia turun dari motor itu lalu menatap ke arah Albarian dan cowok itu juga menatap ke arah gadisnya.
"Nanti gue jemput, ya," ujar Albarian.
"Hm." Zelia tersenyum tipis.
"Bye."
"Bye."
Albarian melambaikan tangannya ke arah Zelia yang dibalas oleh gadis itu lalu menancapkan gasnya beranjak dari sana ke lapangan basket.
Dari kejauhan, terlihat Zelia yang menatap kepergian motor itu dari bola matanya.
"Tetaplah selalu bersama. Walaupun, kita tidak bisa membaca masa depan."
-oOo-
Aduehh, aku baper, nih gess:v
Pentengin terus, ya.
Zelia Tuveli Neyfili
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.