[Aku yakin pasti kalian semua tahu bagaimana cara menghargai penulis.]
Jangan lupa vote, coment, dan bagikan ke teman-temannya atau sosmed.
Happy reading.
***
09. CEMBURU?
"Jadi, gimana?" tanya Bayu kepada Albarian selaku ketua.
Albarian berdiri membelakangi ketiga temannya yang sedang duduk di lantai. Mereka sedang berada di basecamp Zagas untuk mengatur rencana menghadapi Foster.
Cowok itu telah menjelaskan panjang lebar kepada temannya tentang apa yang akan dilakukan Foster di sekolahnya nanti.
Albarian membalikkan badannya, menatap serius ke arah ketiga temannya. "Gue bingung. Di satu sisi semua guru pergi. Di sisi lain kita akan membuat kegaduhan dan pasti akan kena hukum."
"Tidak ada cara lain, kita tawuran aja!" saran Gevin bangkit dengan semangat.
"Nanti gue pesan golok di blibi." ucap Bayu mengeluarkan handphonenya.
"Gue pesan karung di bukalapak! gue karungin mereka semua." Gevin ikutan.
"Bukalapak emang cincai, harga santai kagak lebai. Dinego aje say, pasti bisa say, dinego sampai okay." sambung Bryan bersenandung merdu.
Lha, si Bryan beda dari yang lain. Udah ketularan lagu bukalapak nih anak.
"Ternyata lo anaknya Mpok Bukalapak ya, Bry?" tanya Bayu cengengesan.
"Iye, Juminten." sahut Bryan.
"Oghey, Mpok Leha." balas Bayu.
Albarian memijit pangkal hidungnya karena heran melihat tingkah ketiga teman-temannya yang ngelag.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu terdengar dari pintu basecamp Zagas. Albarian membalikkan badannya, menoleh ke arah pintu. Cowok itu melangkahkan kakinya, mendekati pintu basecamp lalu membukanya.
Albarian mendapati dua gadis cantik, Zelia dan Nancy. Sekarang Zelia dan Nancy sudah akrab karena mereka satu frekuensi.
"Ngapain kalian ke sini?" tanya Albarian ketus.
"Santai dong!" ujar Nancy lalu melewati Albarian begitu saja.
"Lo ngapain ke sini, Ze?" tanya Albarian menatap Zelia yang sedang berdiri di depan pintu.
"Cuman nemenin Nancy buat ketemu sama Bryan." jawab Zelia seadanya.
"Gue kira lo mau bayar hutang." Sontak Zelia terdiam mendengar ucapan Albarian.
"Gue mau cari kepastian. Bryan, mana?" tanya Nancy kepada Gevin dan Bayu lalu melirik ke seluruh sisi basecamp.
Mereka berdua menunjuk ke arah kolong meja yang dibawahnya tersembunyi manusia aneh. Nancy mengikuti arah tunjukkan Bayu dan Gevin.
Nancy menghampiri Bryan yang ada di kolong meja. Gadis itu jongkok menatap ke arah Bryan.
"Jadi gimana? Gue yang nembak atau lo?" tanya Nancy butuh kepastian.
Bryan mendongak ke arah Nancy.
Bruk.
Kepala Bryan terbentur tidak terlalu keras di langit-langit meja.
"Lo nggak papa?" tanya Nancy bangkit mengikuti Bryan yang keluar dari kolong meja.
"Gu-gue ke toilet dulu, ya." Bryan grogi lalu pergi dari basecamp meninggalkan Nancy.
"Bryan!" rengek Nancy.
"Kalau lo nggak mau, gue sama Gevin aja. Biarpun dia nggak terlalu pintar dan nggak terlalu unggul seperti lo. Yang penting dia nggak sok-sokan jaim dan humoris." ujar Nancy berjalan menghampiri Gevin yang duduk di lantai basecamp. Bryan menghentikan langkahnya.
Gevin bangkit lalu Nancy mengandeng tangan Gevin. "Yang jelas, Gevin nggak kayak kamu. Yang suka diemin cewek dan memberi harapan palsu."
Gevin melihat ke arah gandengan Nancy. "Lo seriusan sama gue?" tanya Gevin.
"Iya!" seru Nancy deras karena ingin membuat Bryan cemburu.
Bryan yang berdiri di belakang Albarian membalikkan badannya, menghampiri Nancy yang masih mengandeng tangan Gevin.
Bryan melepaskan gandengan Nancy lalu menarik tangan cewek itu, mengikutinya pergi ke luar dari basecamp. Mereka bedua melewati Albarian dan Zelia yang sedang berdiri di depan pintu. Mereka berdua menatap ke arah Bryan dan Nancy yang semakin menjauh dan mengecil.
Gevin memasang wajah malasnya. "Hmmm... gue kira gue nggak jomblo lagi. Ternyata gue cuman dijadiin pelampiasan." keluh Gevin lalu duduk kembali mengikuti Bayu.
Bayu menatap ke arah Gevin. "Ku menangis..... membayangkan... betapa kejamnya dirimu atas diriku...kau duakan cinta ini....kau pergi bersamanya....." Bayu bersenandung.
"Bacot lo anying!" semprot Gevin kepada Bayu.
"Santai, bro!" ujar Bayu.
"Muka lo tu yang nggak santai, mumet gue lihatnya karena bentuknya abstrak." Celutuk Gevin.
"Masih ada tuh yang jomblo." lanjut Bayu menyodorkan bibirnya ke arah Zelia.
"Zelia maksud, lo?" tanya Gevin membuat telinga Albarian sensitif.
Albarian langsung menoleh ke arah kedua temannya, tatapan cowok itu terlihat sangat mencekam.
"Kenapa mata lo, Al?" tanya Bayu. "Ntar, bola mata lo keluar, lho."
"Lo cemburu?" sambung Gevin. "Lo kan udah mau tunangan sama Karina. Zelia buat gue aja, ya?"
"Lo kira Zelia barang dagangan yang bisa lo nego-nego!" ketus Albarian lalu menghampiri kedua temannya itu.
Pletak! Pletak!
Albarian menyetil kedua jidat temannya secara bergantian.
"Al, gue pergi dulu." pamit Zelia dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan sontak Albarian menoleh. Kelihatannya ada yang kecewa-eh cemburu.
"Tunggu-"
"Berakhirlah sudah cerita kita. Setelah sekian lama bersama. Kau hadirkan dia dalam cerita. Yang hanya menyisakan luka." Bayu bersenandung riang.
Emang nggak ada akhlak mereka berdua. Bahagia sekali kelihatannya melihat Albarian emosi.
Pletak!
Albarian menyentil kuat jidat Bayu. Cowok itu memang tempramen. Dia bisa saja menghabisi Bayu. Tidak peduli kalau itu temanya sendiri.
Albarian berjalan ke arah dinding basecamp dengan raut wajah kesal.
Bruk!
"Bangsat!"
"Ka--ka--kabur!" ujar Bayu dan Gevin serentak berlari keluar dari basecamp meninggalkan Albarian yang sedang emosi.
_ALBARIAN_
Tbc...
See you next part!
KAMU SEDANG MEMBACA
Albarian dan Zelia [ Open Pre-order ]
Teen Fiction"Kalau mau cium gue jangan ragu-ragu gitu!" sambar Zelia membuat Albarian mematung diam. "Ciuman gue mahal!" Sungut Albarian. __________________ Baca aja!! Aku tantang kalian membaca part 13 dan 14, kalau nggak suka baru tinggalin kalau suka, baca d...
![Albarian dan Zelia [ Open Pre-order ]](https://img.wattpad.com/cover/248130734-64-k121444.jpg)