Jangan lupa vote, coment, dan bagikan ke teman-temannya atau sosmed.
Happy reading.
***
08. NOTIFIKASI
Seluruh siswa-siswi sudah masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Kecuali siswa-siswi yang tidak memakai perlengkapan upacara, mereka membersihkan seluruh lapangan upacara sampai bersih.
Sedangkan Albarian hanya duduk bersantai-santai di kursi tepi lapangan, menatap teman-temannya yang lain kena hukum membersihkan lapangan.
"Albarian!" teriak guru pria memanggil nama Albarian.
Albarian melirik kesana-kemari. Cowok itu melihat seorang guru pria memanggilnya. Guru pria itu sedang berdiri di tengah-tengah lapangan sambil mengawasi siswa-siswi yang kena hukum. Lapangan yang berukuran 25m x 18m.
Albarian bangkit menghampiri guru pria itu. "Ada apa pak, manggil saya?" tanya Albarian tanpa rasa bersalah.
"Ngapain kamu duduk?! Kamu lihat tuh teman-teman mu sudah sibuk membersihkan lapangan. Sedangkan kamu duduk santai di tepi lapangan." semprot guru pria itu kepada Albarian.
"Emang ada yang salah, pak kalau saya duduk?" tanya Albarian santai sambil mengibas-ngibaska bajunya kepanasan. Memang matahari pagi sangat terik. Hingga membuat pucuk kepala Albarian gerah.
"Sekarang kamu berdiri di tengah lapangan sambil hormat ke bendera merah-putih!!" titah guru pria itu emosi.
"Seluruh siswa-siswi yang kena hukum sudah boleh masuk kelas!" teriak guru pria itu kepada siswa-siswi yang kena hukum.
"Termasuk sa-"
"Kamu tidak! Kamu tetap berdiri di tengah lapangan sampai jam istirahat!" Guru pria itu pergi meninggalkan Albarian sendirian di tengah lapangan sambil hormat ke bendera.
"Cabut? nggak? Cabut? nggak? Cabut? nggak? Cabut?" Albarian memikirkan sesuatu sambil menghitung dengan jarinya, apa yang akan dia lakukan cabut atau tidak. Sontak seorang gadis menghampiri Albarian dari belakang sambil berbisik ke telinganya lirih.
"Al-ba-ri-an."
Albarian menoleh ke belakang. Cowok itu mendapati Zelia yang berdiri di belakangnya sambil tersenyum ke arahnya.
"Makasih." ucap Zelia manis.
"Lo masih punya banyak utang sama gue ditambah utang ini. Jadi kapan lo bayar?" tanya Albarian tanpa basa-basi sambil membenarkan posisinya ke posisi semula, hormat ke bendera merah-putih.
Zelia mengikuti seluruh gerak-gerik Albarian, mulai dari atas sampai bawah. Zslia juga ikutan hormat ke bendera. "Gimana gue bayarnya? Lo kan tahu kalau gue nggak punya uang."
"Ya, itu bukan urusan gue." balas Albarian tidak mau tahu, terus hormat ke tiang bendera. "Ngapain lo ke sini? Mendingan lo balik ke kelas, nanti lo ketinggalan pelajaran."
"Nggak papa, seharusnya kan gue yang dihukum." jawab Zelia.
Zelia menurunkan tangannya, menoleh ke arah Albarian yang terus hormat. Gadis itu melepaskan topi abu-abu yang dia kenakan lalu memasangkannya ke Albarian. "Panas, ya? Lo berkeringat, tuh."
"Ngapain lo kasih topi lo ke gue? Nanti lo gosong, ntar cantik lo luntur." ucap Albarian.
"Nggak papa. Dimana-mana cantik itu pasti akan luntur seiring dengan bertambahnya usia." ucap Zelia sambil merogoh tisu di dalam saku roknya, mengambil satu lalu menyeka keringat Albarian yang bercucuran di kening cowok itu.
Setelah selesai, Zelia memberikan tisunya kepada Albarian lalu kembali hormat mengikuti Albarian.
"Hmm.. udah sekarang lo balik ke kelas! Ini kan hukuman buat gue, bukan buat lo."
"Ck, Dilan aja bisa uwuan sama Milea."
"Gue bukan Dilan. Dilan miliknya Milea." ketus Albarian.
Zelia menoleh ke arah Albarian. "Kalau Albarian miliknya siapa?" tanya Zelia manja.
Albarian masih dengan posisi berdiri tegap, menatap bendera merah-putih yang tinggi sambil hormat.
"Miliknya Zelia."
_ALBARIAN_
Ting!
Notifikasi pesan muncul dari ponselnya Albarian. Cowok itu sedang mencuci wajahnya di toilet cowok. Dia berdiri di depan wastafel sambil berkaca, memeriksa wajahnya yang tampan tiada tara.
Albarian membalikkan badannya, mengeringkan tangannya, mengambil ponselnya di dalam saku celana abu-abunya. Cowok itu menatap sebuah pesan whatsapp yang dikirimkan oleh Davandra----ketua geng Foster, orang yang terkanal akan kelicikannya.
Davandra [Foster]
Online
Davandra:
| Gue dan geng gue akan mengacak-acak sekolah lo, nanti sore di saat jam terakhir. Karena gue tahu kalau semua guru di sekolah lo bakalan mengikuti rapat di sekolah gue. Ini semua karena lo udah melanggar aturan yang lo buat sendiri. Lo cabut dari balapan tanpa memberikan motor lo pada gue, karena lo kalah balapan.
Sial! Albarian langsung mematikan ponselnya, menyimpannya kembali ke dalam saku celananya. Raut wajahnya terlihat kesal dan tidak terima. Cowok itu beranjak pergi meninggalkan toilet.
_ALBARIAN_
Tbc...
See you next part!
KAMU SEDANG MEMBACA
Albarian dan Zelia [ Open Pre-order ]
Teen Fiction"Kalau mau cium gue jangan ragu-ragu gitu!" sambar Zelia membuat Albarian mematung diam. "Ciuman gue mahal!" Sungut Albarian. __________________ Baca aja!! Aku tantang kalian membaca part 13 dan 14, kalau nggak suka baru tinggalin kalau suka, baca d...
![Albarian dan Zelia [ Open Pre-order ]](https://img.wattpad.com/cover/248130734-64-k121444.jpg)