[Aku yakin, pasti kalian semua tahu bagaimana cara menghargai penulis.]
Jangan lupa vote, coment, dan bagikan ke teman-temannya atau sosmed.
Happy reading.
***
24. PACAR GILA!
Sebuah motor sport berwarna putih tengah membelah jalan raya Kota Padang yang terlihat ramai di sore hari. Motor yang dikendarai oleh seorang cowok yang mengenakan jaket denim hitam dan helm full face-nya. Sedangkan di belakangnya ada seorang gadis dengan baju rapi dan celana panjang berwarna hitam tengah duduk dengan manis, tangannya diletakkannya di atas pahanya.
"Peluk!" titah Albarian dengan nada deras.
"Nggak! Gue nggak mau meluk dugong kek lo," tolak Zelia mentah-mentah.
"Lo pacar siapa, sih?"
"Pacarnya simpanse."
"Ngeselin. Jadi, pengen nikahin," lanjut Albarian yang masih fokus menyetir motornya.
Zelia mencubit gemas kedua pipi Albarian dengan tangannya.
"Makin sayang," ucap Zelia. "Jadi, pengen nampol."
"Kuy, nikah!" seru Albarian.
Zelia menjauhkan tangannya dari pipi Albarian lalu menumpukannya kembali di atas pahanya.
"Otw liang lahat!" balas Zelia ketus.
"KUA goblok!"
"Eh iya, gue kira lu mau langsung ke akhirat," celutuk Zelia.
"Ck," Albarian berdecak kesal.
"Peluk dong Mas gantengnya," lanjut Albarian dengan besar kepala.
"Sejak kapan lu jadi mas-mas?"
"Bukannya lu emak-emak komplek," lanjut Zelia.
Albarian kelihatan merajuk. Maklum, kalau big baby tidak mendapatkan keinginannya ya kek gini.
"Seterah!"
"Jadi, ceritanya lagi marah, nih?" goda Zelia.
"Hm."
"Gue sumpahin bisu lu baru tahu rasa!"
Mereka berdua emang nggak ada akhlak.
Albarian mengambil tangan Zelia secara bergantian lalu melingkarkannya ke pinggangnya.
"Gitu dong, peluk," ujar Albarian.
Zelia menumpukan dagunya di pundak Albarian.
"Al?"
"Hm?"
"Kenapa ya, Dilan dan Milea bisa romantis?"
"Karena mereka satu frekuensi."
"Kalau kita?"
"Satu frekuensi juga."
"Lha kok nggak romantis?"
"Karena gue humoris..."
"...dan itu tidak bakalan nyakitin hati lo. Walaupun, omongan gue kek panci tetangga."
Zelia tertawa kecil.
"Goblok!"
"Makasih, ya," lanjut Zelia.
"Buat?" tanya Albarian heran.
"Karena selalu membuat gue ketawa."
"Makasih aja nggak cukup."
"Trus?"
Albarian menunjuk-nunjuk pipinya. Seakan-akan, memberikan kode kalau dia minta dicium.
"Gigi lu sakit?" tanya Zelia heran dengan tingkah Albarian.
"Iya, sakit hati karena lihat lu nggak peka."
"Sabar buaya, ciuman gue mahal."
"Iya, gue buaya darat yang setia sama pasangannya."
"Ciumannya tunda dulu, ya. Sampai penghulu dan semua saksi mengatakan 'sah'."
"Keburu basi!"
-oOo-
Albarian memarkirkan motornya di sembarang tempat depan cafe tempat Zelia bekerja. Tidak ada satu motor pun di situ, hanya ada sebuah palang 'P' dengan garis miring.
"Turun!" titah Albarian.
Zelia turun dari motor Albarian.
"Kok, lo parkir di sini?"
"Emang kenapa?" tanya Albarian sambil turun dari motornya lalu melepaskan helm full face-nya dan meletakkan di atas motor.
"Lo lihat tuh!" tunjuk Zelia ke arah palang 'P' dengan garis miring yang memiliki arti dilarang parkir. Albarian mengikuti arah tunjukkan Zelia.
"Trus?" tanya Albarian berlagak polos.
"Ya elah, masih nanya lo," celutuk Zelia geram.
"Oh, itu mah dilarang pacaran," balas Albarian mengartikan lambang palang itu dengan kamus otaknya sendiri.
"Butuh dikasih kaporit otak, nih anak," gumam Zelia kesal.
Albarian beranjak dari hadapan Zelia masuk ke dalam cafe.
Zelia menoleh ke arah Albarian yang berjalan dengan santainya meninggalkannya.
"Dilarang parkir bego!" teriak Zelia kepada Albarian.
"Al! Bukain helm gue!" lanjut Zelia berteriak sambil kesusahan melepaskan helmnya.
Ini mah akal-akalan Zelia saja. Maklum pengen diperhatikan seperti Dilan yang melepaskan helm dari kepala Milea.
Albarian menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Zelia.
"Gue bukan Dilan yang romantis. Tapi, gue Albarian yang humoris."
"Buka sendiri, ya. Ntar, kalau tangannya nggak digunain kan kasihan. Jadi, pengangguran," lanjut Albarian.
"Atau nggak. Lo potong aja tangan lo. Trus jual, kan lumayan," lanjut Albarian lalu masuk ke dalam cafe.
"ALBARIAN! CK!" pekik Zelia lalu berdecak kesal.
"Kamvreto mama mia lezatos," umpat Zelia khas sambil memonyongkan bibirnya.
Akhirnya Zelia membuka helmnya. Dia berlari masuk ke dalam cafe setelah menyelesaikan ucapannya tadi.
"Lu pacar gue atau ternak buaya, sih?"
-oOo-
KAMU SEDANG MEMBACA
Albarian dan Zelia [ Open Pre-order ]
Novela Juvenil"Kalau mau cium gue jangan ragu-ragu gitu!" sambar Zelia membuat Albarian mematung diam. "Ciuman gue mahal!" Sungut Albarian. __________________ Baca aja!! Aku tantang kalian membaca part 13 dan 14, kalau nggak suka baru tinggalin kalau suka, baca d...
![Albarian dan Zelia [ Open Pre-order ]](https://img.wattpad.com/cover/248130734-64-k121444.jpg)