26. HADIAH SPESIAL

14.5K 1.3K 19
                                        

[Aku yakin, pasti kalian semua tahu bagaimana cara menghargai penulis.]

Jangan lupa vote, coment, dan bagikan ke teman-temannya atau sosmed.

Happy reading.

***

26. HADIAH SPESIAL

Langit yang telah berubah menjadi sangat gelap dengan hiasan bintang-bintang. Malam mencekam. Di depan cafe berbagai macam jenis kendaraan berlalu lalang dengan sorotan cahayanya. Lampu-lampu toko dan angkringan sudah menyala sedari tadi. Sekarang, jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Dugong! Cepetan!"

Seorang cowok yang tengah berdiri di dekat motor sport-nya sambil memanggil seorang gadis yang tengah keluar dari dalam cafe bersama satu temannya.

"Lo udah dipanggil, tuh," ujar Rafa sambil melirik dan memonyongkan bibirnya ke arah Albarian.

Raut wajah Albarian terlihat menahan emosi, menunggu pacarnya yang sangat lelet sambil melirik ke arah jam tangannya.

Zelia dan Rafa menghentikan langkah kakinya di depan parkiran. "Gue pergi dulu, ya."

Rafa mendekatkan bibirnya ke telinga Zelia. "Ingat! Peletnya bagi-bagi, ya." bisik gadis itu lalu beranjak pergi.

"Bye-bye!" serunya sambil tersenyum tipis dan melambaikan tangan ke arah Zelia. Zelia membalas lambaian tangan itu lalu berjalan menghampiri Albarian.

"Maaf, kelamaan nunggu, ya?" tanya Zelia basa-basi.

"Keburu tua gue nungguin lo," celutuk Albarian lalu memasang helm full face-nya yang kaca helmnya terbuka.

Setelah selesai memasang helmnya. Albarian mengambil satu helm lagi yang terletak di atas motornya lalu menjulurkan ke arah Zelia.

"Pakek!" titah Albarian.

Zelia berpura-pura tidak dengar sambil melirik ke sembarangan arah.

"Hm," lirik Albarian lalu memasangkan helmnya ke kepala Zelia sedikit romantis.

Zelia memeluk Albarian dengan reflek lalu melepaskan pelukannya.

"Gitu, dong. Gue kan tambah sayang sama lo plus tambah pengen nampol lo seharian," ujar Zelia dengan senyuman sumringahnya.

Albarian menepuk-nepuk pelan helm Zelia.

Cup.

"Gue sayang sama lo, kok."

"Hanya cara gue saja yang berbeda," lanjut Albarian.

"Ayo pulang!" titah Zelia.

"Pulang kemana?" tanya Albarian berlagak sok-sokan.

"Ke rahmatullah!"

"Ayo buruan! Drakor gue gantung, nih."

"Hm."

Albarian langsung menaiki motornya yang disusul oleh Zelia lalu motor itu beranjak dari depan cafe.

"Btw, kapan-kapan kita nobar drakor True Beauty, ya!" ajak Albarian.

"Skuylah!"

_oOo_

Zelia turun dari motor Albarian yang berhenti di depan rumahnya.

"Lo nggak mampir?" tawar Zelia.

"Kapan-kapan aja," jawab Albarian.

"Oh, yaudah."

"Kalau gue besok nggak ada atau nggak sekolah. Tolong lo galiin kuburan gue, ya," ucap Albarian ngadi-ngadi.

Zelia tertawa kecil. "Eh, jomblo ditinggal mati dong gue."

"Udah, sana masuk!"

"Iya, bagong ku cintaku."

Zelia melambaikan tangannya ke arah Albarian sambil tersenyum kecil lalu beranjak dari hadapan cowok itu dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Tiba-tiba saja, Zelia membalikkan badannya menatap ke arah Albarian yang belum beranjak dari depan rumahnya.

Zelia berlari-lari kecil menghampiri Albarian.

"Bukain helm gue sebelum lo pergi," pinta Zelia dengan manis dan ngangenin.

Albarian tersenyum kecil dari balik helm full face-nya lalu membuka helm Zelia lalu Zelia mengambil helmnya dari tangan Albarian.

"Gue ada sesuatu buat lo," ujar Zelia membuat Albarian penasaran.

"Apaan?" tanya Albarian heran.

"Buka helm lo dulu!" pinta Zelia sambil menggoyang-goyangkan badannya kiri-kanan.

Albarian membuka helmnya lalu menatap ke arah Zelia. Setelah, Albarian membuka helmnya sontak Zelia langsung memberikan sebuah kecupan manis ke salah satu pipi Albarian. Yang membuat cowok itu terdiam seketika.

"Makasih, ya. Udah nemenin gue kerja."

Albarian memegang pipinya akibat bekas ciuman pacarnya, Zelia.

Albarian mengelus-elus lembut kepala Zelia.

"Udah, sana masuk!"

"Titip salam buat Ayah sama Bunda, ya." ucap Albarian lalu melirik ke arah kantong plastik yang di dalamnya ada martabak cokelat. "Jangan lupa martabaknya kasih ke Ayah sama Bunda."

"Siap!" seru Zelia dengan semangat 45 sambil hormat.

"Hati-hati, ya," lanjut Zelia lalu melambaikan tangannya.

"Bye."

"Bye."

Albarian telah menancapkan gas motornya beranjak dari depan rumah Zelia. Sedangkan, Zelia menghentikan langkah kakinya saat berada di teras rumahnya lalu menoleh ke arah motor Albarian yang telah hilang dari pandangannya.

"Gue tahu lo mau kemana sekarang, Al," lirih Zelia.

-oOo-


Albarian dan Zelia [ Open Pre-order ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang