"Gue kemarin ketemu sama Alex."
"Uhukkk.." Miya menatap Aruna yang menunduk melihat kearah piring penuh makanan di depannya.
"Lo serius?"
Aruna mengusap wajahnya kasar, "Iya gue serius."
"Lo ketemu dimana?"
"Di rumah sakit, kemarin waktu gue balik dari ambil handphone di mobil."
"Kenapa lo baru bilang sekarang sih Na?" Tanya Somi kesal.
"Gue gak bisa, gue gak bisa cerita sama kalian. Itu sulit buat gue."
Mereka diam, mereka paham dengan apa yang Aruna katakan. Cinta segitiga pada masanya.
"Terus gimana kedepannya?" Qiana menarik rambutnya sangking kesal dengan apa yang tengah terjadi.
"Gimana kalau nanti Alex ketemu sama Dira? Gue gak bisa bayangin itu terjadi." Oceh Miya.
"Hai guys, gimana keadaan si cabe? Good or bad?" Suasana yang semula meredup seketika berubah panas kala gadis itu datang dan duduk di samping Aruna.
"Ck, bisa gak sih lo gak usah gangguin kita sekarang? Besok aja lagi kalau keadaan udah membaik." gerutu Miya.
"Oh hai Miya, gimana hubungan lo sama Arthur? Baik-baik aja kan?" Sungguh, rasanya Miya ingin menyiram wajah sok cantik itu dengan air panas agar melepuh.
Somi berdiri, menyilangkan kedua tangannya lalu berucap, "Sella, lo bisa diem gak? Jangan ganggu kita, kita gak ada masalah sama lo."
"Gak ada masalah? Kayaknya ada deh." Balas Sella dengan mata yang tertuju pada Key.
"Ngapain lo lihatin gue kayak gitu? Iri sama kecantikan gue?" Key berucap dengan nada malas.
"Iya gue tau lo cantik. Tapi jangan nangis kalau tiba-tiba wajah lo berubah buruk rupa nantinya. Gue pergi, bye." Mereka diam setelah apa yang diucapkan oleh Sella, terutama Key yang entah kenapa malah dirundung rasa takut hanya karena omong kosong Sella.
"Tuh cewek kenapa sih?"
***
Pulang dijam pergantian sore ke malam sudah biasa bagi Qiana, bak murid teladan yang mengikuti banyak ekstra padahal belum tentu dirinya mampu membagi waktu.
Setelah tadi ia berlatih dance, ia bergegas berganti pakaian dan kini ia tengah membereskan barang-barang miliknya. Setelah selesai ia pun melangkah keluar dari ruang latihan, celingak-celinguk layaknya maling, itulah yang Qiana lakukan. Ia sendirian, para teman-temannya sudah duluan pulang, Qiana mah slow, gak takut apapun, tapi kalau hantu kayaknya lumayan takut. Apalagi hantu modelan kek valak.
Qiana tersenyum sambil menatap ponselnya, ia tengah berbagi pesan dengan kekasihnya, haha kalian iri ya? Haruto sekarang mah udah jadi punyanya Qiana. Gak sombong..
Haruto bilang, pria itu sudah berada di depan gerbang sekolah, dan Qiana sekarang berada di lantai dua sekolah.
Awalnya ia melangkah santai, tapi tiba-tiba..
Krekkk...
Suara pintu terbuka membuat langkahnya terhenti, suara itu berasal dari kelas yang baru saja ia lewati. Ia menoleh, menatap lama pintu kelas yang terbuka sedikit.
"Ih kok gue merinding.." ponsel yang awalnya ia pegang kini ia letakkan di saku roknya. Bersiap untuk berlari.
"Hii Mama..." Qiana melangkah cepat, menuruni tangga dengan rasa cemas.
Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, ia terus menuruni tangga yang entah kenapa berasa sangat banyak.
"Aww.." Qiana terpeleset, kakinya terkilir, namun ia berusaha bangkit setelah ia mendengar suara ketukan sepatu di lantai. Jantungnya berdegup kencang, tak tau harus berlari kemana. Ia bingung, jarinya sibuk mencari nomor ponsel Haruto yang sialnya tidak bisa ia temui.
"Mana sih.." terus menggerutu, bingung dan kesal.
Qiana berlari saat ia mendengar langkah kaki yang mengejarnya, ingin berteriak tapi percuma. Ia tak tau mana jalan menuju gerbang sekolah, ia tiba-tiba lupa.
Gadis itu menoleh, seorang dengan baju serba hitam tengah mengejarnya, ia terus berusaha berlari walau kakinya terasa sangat sakit. Ia masuk ke salah satu ruangan yang untungnya tidak terkunci. Qiana lalu menahan pintu itu dengan meja dan kursi agar orang itu tak dapat masuk. Gadis itu terduduk lemas di dekat lemari, bersembunyi dari kejaran orang tak dikenal.
Gak mungkin kan ia di prank, ia baru berulang tahun kemarin, jadi gak mungkin ia ulang tahun lagi sekarang.
Jarinya dengan lincah mengetikkan sesuatu.
Pacar Gue 🤘
Jemput gue pliss, gue ada di ruang biologi.
Ada orang yang ngejar gue, pake baju item.
Send
Cukup lama tak ada balasan, namun tiba-tiba ponselnya berdering. Dan sialnya cukup keras.
Brakk..
Brakk..
Qiana mematikan ponselnya saat suara dobrakan itu terdengar. Ia meringkuk ketakutan disamping lemari, beruntung lampu sekarang mati, jika hidup mungkin ia yang akan mati :)
Brak..
Qiana membekap mulutnya kala mendengar suara meja yang terjatuh, ia yakin sekarang orang itu mungkin sudah berhasil mendobrak pintunya. Nafasnya tertahan saat melihat bayangan orang itu melangkah kearahnya.
Orang itu kini tepat berada di depannya, dan ia masih sedikit bersyukur karena orang itu membelakanginya. Qiana pelan-pelan berdiri, kala orang itu melangkah menjauh darinya menyusuri ruangan, Qiana mengambil kesempatan untuk berjalan pelan kearah pintu. Sedikit lagi ia akan sampai, ia terus mengigit bibirnya, sungguh ia seperti bermain game menegangkan sekarang.
"Hp lo ketinggalan, mau gue bawain."
Deg..
Mata Qiana membulat, ia menoleh.
Dan...
"Aaaaaa..." Qiana berlari tanpa peduli ponselnya yang dibawa orang misterius itu.
Srett..
"Aaa lepasin gue njir.." sekuat apapun Qiana mencoba melepaskan diri, semua terasa percuma. Tenaga pria itu cukup kuat untuk dirinya yang seperti kanebo kering.
"Mau lo apa sih?!" Bahkan Qiana yang jarang menangis pun akhirnya menangis juga.
Bughh..
"Aa.." Qiana memekik kala tubuh pria itu tiba-tiba limbung. Ia mendongak menatap pria yang datang bak malaikat.
"Haruto.." pria itu mendekat kearah pria misterius, tangannya hendak menarik masker yang dibawa pria itu, namun tiba-tiba sebuah pisau keluar dari saku lelaki itu dan menggoreskan sedikit luka pada lengan Haruto.
"Akh..!" Saat Haruto lengah, saat itulah pria misterius itu lari.
"Heeiii!!" Haruto akan berlari mengejar pria itu, namun Qiana menahannya, "Udah jangan dikejar. Tangan lo luka."
"Lo gak papa?"
"Gak gue gak papa, tangan lo berdarah.."
"Kita pulang, lo nanti yang obatin luka gue di rumah."
Qiana tersenyum tipis, bisa-bisanya dia tersenyum setelah terjadi sesuatu yang berbahaya tadi.
"Yaudah ayo pulang, malah senyam senyum."
Annyeong
Bukan cerita action.
KAMU SEDANG MEMBACA
High School Waiji
FanficJudul awal => Kampung Waiji Sekarang => High School Waiji Jngn lupa voment and follow 😉
