###
"How you like that.. you'gone like that tararatatararaa.. now, look at you now look at me ah.."
Merdunya suara Somi dan Lucas yang tengah asik bernyanyi cukup menganggu gendang telinga para manusia yang kini tengah berkumpul dengan tangan yang masing-masing diletakkan didepan telinga.
"Ck, matiin woy.. suara lo kayak speaker tahu bulat." Celetuk Justin. Somi lalu melepar mic yang ia bawa ke arah Justin sangking kesalnya. Dan Alhamdulillah nya Justin jago tangkap menangkap, jadi ya mic nya selamat. Kan kasihan kalau jatuh, sakit.
"Ah haus gue, mana minuman gue?" Lucas dengan tidak sabaran merebut air minum milik Ame yang akan gadis itu minum. Ame pun hanya dapat mendengus sebal.
"Ayolah lanjut, mumpung Qiana lagi baik hati dan tidak pelit. Ayo puas-puasin karaokean." Ucap Haruto semangat.
"Anjir lo, gue kan emang gak pelit." Kesal Qiana, Haruto hanya terkekeh geli melihat wajah kesal Qiana. Ah jadi pengen nyubit jantungnya.
"Eh kalian jan diem-diem bae, ngoceh ngapa ngoceh." Semua mata sontak melihat kearah dua manusia yang sedari tadi diam, padahal biasanya ikut nimbrung.
"NaRa, wasek.. kalian ngapain diem ha? Lagi sariawan? Apa lidah lu lagi badmood?" Dira mendongak menatap tajam Lucas yang barusan mengatakan kalimat tak jelas itu.
"Berisik.." gadis bersurai coklat itu berdiri lalu melangkah keluar ruangan, meninggalkan para manusia yang menatapnya bingung. Tak lupa sepasang mata sipit itu juga ikut menatap punggung itu heran. Sekarang tatapan mereka beralih pada Aruna yang duduk dipojok dengan mata yang fokus pada novel ditangannya.
"Aruna lo sehat kan? Tumben kalem.." tak ada tanggapan, Miya yang duduk tak jauh dari Aruna pun menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Aruna. Ia melihat novel yang tengah Aruna baca, lalu beralih menatap Aruna yang nampak fokus.
"Runa? Lo baik-baik aja kan? Gak kesambet setan ruangan karaoke kan?" Dan Aruna menoleh, menatap Miya datar. Gadis itu lalu meletakkan novelnya diatas meja, beranjak dari duduk dan berlalu begitu saja.
"Herman gue, dua manusia paling lebay jadi pendiem."
Tak menghiraukan dua gadis tadi, para remaja itupun melanjutkan aktivitasnya. Bernyanyi dan menghabiskan malam minggu dengan saling melempar candaan. Tak ada kata baper, saling memahami dan tak membeda-bedakan. Inilah yang Qiana harapkan sejak awal, berkumpul bersama manusia-manusia konyol yang dapat mewarnai hidupnya.
Qiana pikir tadi hanya beberapa orang, sekitar lima atau enam lah ya. Tapi ternyata sangatlah banyak, Azwan yang mengajak dua kakaknya dan Haruto yang dengan begonya ngajak anak gengnya. Dikira Qiana mau bagi-bagi sembako apa gimana. Untung anak sultan, duit ngalir terus. Coba kalau anak raja india, kan bingung bayarnya pake koin. Oke lupakan.
"Eh Miyabi, kapan tuh nembak si Arthur. Biar kayak Aruna sama Dira, nembak cowok duluan wahahaha.." sumpah ya, lambe lemesnya si Justin minta dipelintir.
"Aduh adek Justin udah deh ya jangan bicit. Seorang Miya anti nembak cowok duluan, pegang itu baik-baik oke?"
"Uhukk.. gak nembak cowok duluan, tapi kegatelan ya sama aja." Miya menatap Justin tajam, untung gak ada Arthur didalam sini, coba kalau ada. Berterima kasihlah pada Jerry yang mengajak Arthur pergi keluar.
"Lambemu pengen tak hiih.."
***
Puas dengan karaokean, mereka akhirnya memutuskan pulang saat melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Arthur, gue pulang bareng lo." Tanpa menunggu jawaban, Miya sudah bertengger manis di jok belakang motor Arthur, mencari tempat ternyaman dengan melingkarkan tangannya di perut Arthur.
"Turun lo!" Arthur mencoba melepas tangan Miya yang mengikat perutnya sangat kuat.
"Gak mau."
"Ck, turun gak?!"
"Anterin gue pulang, gue tadi kan gak bawa mobil." Ucap Miya dengan senyum tipis, tadi kan dia sengaja bareng Dobby, tapi sekarang Dobby ia suruh pulang duluan. Jadi kan dia bisa pulang bareng Prince Arthur :)
"Hah.. lepasin tangan lo atau lo turun." Dengan cepat Miya menarik tangannya, duduk tegap dan memegang pundak Arthur.
"Masak gini sih?" Tanya Miya pada dirinya sendiri.
"Aaahh.." jadi ini maksudnya gimana? Tadi bilangnya jangan peluk, sekarang malah sengaja bawa motornya kayak Rossi, kan keenakan Miya jadi punya alasan peluk Arthur.
Jalanan masih cukup ramai oleh remaja-remaja yang malam mingguan, Miya menatap taman yang penuh dengan anak muda dan tak lupa disekelilingnya terdapat pedagang kaki lima yang setia menunggu pembeli.
"Thur.." Miya sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan, agar Arthur mendengar panggilannya.
"Apa?!"
"Gue laper, makan yuk." Motor terhenti, Arthur menoleh kebelakang, ia terdiam saat wajahnya dan wajah Miya hanya berjarak beberapa centi. Miya sendiri menahan nafas saat tiba-tiba Arthur menoleh dan menatapnya dengan jarak dekat.
"Mundurin wajah lo." Dengan jari telunjuknya, Arthur mendorong dahi Miya agar gadis itu mundur setidaknya sepuluh centi darinya.
"Gue laper.." Arthur memutar bola matanya malas, ia lalu turun dari motor diikuti Miya.
"Ayo.." entah sadar atau tidak, Arthur meraih tangan Miya dan menggenggamnya erat. Dan dibawah cahaya bulan yang terang, pipi Miya memerah. Secinta inikah dia pada Arthur hingga perlakuan kecil saja dapat membuatnya blushing.
"Duduk.." titahnya saat mereka telah sampai di depan pedagang somay.
Miya melihat Arthur yang memesan somay untuknya, senyumnya terlihat semakin lebar saat Arthur juga membelikannya minuman. Sungguh ia merasa diperhatikan oleh pria datar itu.
"Nih," sebotol air berasa dan sepiring somay telah berpindah ke tangannya, dengan lahap Miya memakan somay itu. Tadi dia sempat makan, tapi ia lapar lagi, semakin malam dia tak segera tidur, maka perutnya semakin minta diisi.
"Lo mau?" Tawarnya pada Arthur yang hanya diam menatapnya.
"Gak, makan aja."
"Lo udah mulai suka ya sama gue?" Tanya Miya setelah meletakkan botol minumnya. Miya menatap Arthur menunggu jawaban. Alisnya terangkat menunggu Arthur bicara, namun pria itu hanya menatapnya.
Miya memundurkan wajahnya saat Arthur mulai mendekat. Gadis itu memejamkan matanya, sedangkan Arthur menahan senyum melihat Miya yang memejamkan matanya. Ia mulai mendekat, sengaja menempelkan pipinya pada pipi Miya, dan mulai berbisik, "GAK."
###
KAMU SEDANG MEMBACA
High School Waiji
FanficJudul awal => Kampung Waiji Sekarang => High School Waiji Jngn lupa voment and follow 😉
