Pengumuman

140 25 11
                                        

###

"Diharapkan semua murid SMA Treasure berkumpul di aula sekarang. Terima kasih."

Mendengar itu, spontan seluruh murid SMA Treasure segera berkumpul di aula sekolah. Mungkin Kepala sekolah akan memberitahu sesuatu yang mengejutkan.

Semua murid telah terkumpul, mereka berdiri menghadap Kepala sekolah yang kini tengah mengawasi gerak-gerik para murid, khususnya para anak IPS yang akhlaknya kurang.

"Baik anak-anak, tolong jangan ada yang bicara saat saya bicara, kalian harus diam dan dengarkan saya. Oke!"

"Iya Pak."

"Baik.. jadi, besok pada hari sabtu dan minggu, SMA Treasure akan mengadakan camping, dan kalian wajib mengijinkan acara tersebut. Jika kalian tidak ikut, awas saja, jangan nangis kalau nanti seragam olahraga kalian bolong-bolong dibagian pantat." frontal amat Pak ngomongnya.

"Kalian ada waktu dua hari untuk menyiapkan keperluan camping dan juga pentas seni. Bapak mengatakan ini mendadak karena Bapak tau, sesuatu yang direncanakan jauh-jauh hari itu belum tentu akan kesampaian, kalian tau orang yang suka ngerem mendadak? Soalnya kalau gak ndadak ya gak jadi ngerem." Semua murid menatap datar Pak Yanto, mereka tau gurunya ini suka ngelawan tapi kali ini lawakannya garing kek kerupuk kulit.

"Ada yang ingin ditanyakan?"

"Saya Pak.." semua orang menatap Justin yang mengacungkan jarinya.

"Iya silahkan Justin."

"Kalau ada pentas seni berarti akan ada kelompok dong Pak? Nah masalah pembagian kelompoknya gimana Pak? Apa perkelas atau satu sekolah campur tanpa membedakan tingkatan?"

"Ahh iya, untuk masalah itu, saya lebih suka opsi kedua. Satu sekolah campur tanpa membedakan tingkatan. Bagus Justin, pertahankan otak encer kamu, jangan sampai hilang lagi." definisi memuji untuk menghina.

"Ada pertanyaan lain?" Semua murid tampak menggeleng, Pak Yanto lalu mengangguk.

"Ya sudah, kalau tidak ada yang di tanyakan, untuk masalah kelompok, Bu Yanti akan membaginya rata, jadi jangan khawatir. Kalian bisa kembali ke kelas."

***

"Camping? Gue gak kebayang, ya walaupun nih sekolah sering ngadain camping, cuma ini beda tau gak sih, dadakan gini dikira tahu bulat." Key mendumel sejak keluar dari aula sampai kini sudah di depan kelas tuh anak nyerocos mulu.

"Keknya kita bakal dipisah deh," ucap Ame.

"Kemungkinan sih gitu, kira-kira kelompoknya berapa banyak ya." Dira mengusap dagunya sembari berpikir.

"Gak usah sok-sokan mikir, otak lo tuh dangkal."

"Fak."

"Eh Mi, lo bisa ikut kan?" Tanya Somi pada Miya yang wajahnya terlihat pucat. Bukan apa-apa, lagi gak pake lipstik :)

"Bisa lah, ini tuh kesempatan emas buat dapetin hatinya mas prince." Oh ya mereka lupa kalau Miya bucin aku sama manusia es itu.

"Hmm serah deh, yuk bubar yuk bubar.."

***

Bel berbunyi menandakan waktunya pulang, semua murid bergerombol menuju mading sekolah. Katanya sih ada pemberitahuan tentang kelompok.

Dira mencari namanya diantara nama-nama murid lainnya, dan dapat, seketika ia langsung memeluk Key yang ada disampingnya.

"OMG.. ini nyata kan? Gue satu kelompok sama Uncuk." Kejadian kemarin siang seakan terlupakan oleh Dira. Entah sengaja lupa atau memang benar-benar lupa.

"Uhukk, aduh Dira leher gue lo cekik nih.." spontan Dira melepas pelukannya pada Key, ia cengengesan tanpa merasa bersalah.

"Anju emang, gue beda kelompok sama Cio tapi sekelompok sama si cebong rawa." Key menatap tulisan didepannya sendu, Cio malah satu kelompok sama cewek-cewek yang bisa dibilang genit. Panas ati iki..

"Cebong rawa siapa?"

"Ini si Dobby, cebong rawa."

"Oh mamamamayy, aduhh rejeki anak Sholehah deh gini, gue satu kelompok sama Arthur dong, tapi sialnya si Mak lampir ini satu kelompok sama gue." Dira membaca nama-nama anggota kelompok Miya, dan disana juga ada nama Nabila, seketika ia tertawa mengejek ke arah Miya.

"Sabar ya nak.." Dira beralih menatap Aruna yang terlihat murung.

"Kenapa Na?"

"Ih masak gue satu kelompok sama nih dua orang."

"Wowww, bakal jadi kelompok sensasional lo Na.. ahaha." Sumpah ya, punya temen pada lucknut.

"Gapapa sih masih ada Justin yang bisa lo aja bekerja sama, haha.."

"Ame enak banget, udah sama Bang Ajun sama Jihoon pula." Aruna bersungut kesal, harusnya kan ia harus sama Jihoon atau paling gak jangan sama si geprek Bensu.

"Aduh plus-plus pokoknya, beruntung gue, jangan cemburu Na cowok lo kalau nanti genit ke gue."

"Heh kambing guling, sadar diri napa, Ajun aja gantungin lo apalagi Jihoon, dia tuh seleranya gak serendah Ajun ya. Jihoon cari yang berkualitas tinggi." Ucap Aruna dengan gaya suombongnya. Ame berdecih, "Halah, body lempeng juga dipamerin."

"Gelut yuk Me, disini juga boleh yuk."

"Ayo siap__"

"Eh udah stop, bacot mulu perasaan, udah ayo pulang." Jihoon yang tiba-tiba datang tanpa basa-basi langsung menarik lengan Aruna. Aruna pun meleletkan lidahnya ke arah Ame yang malah menunjukkan jari tengah :)



High School WaijiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang