"Tidak semuanya salah diri sendiri. Bisa jadi, dia melakukan itu karena sikap dan didikan yang dia terima dari orang tuanya."- Im Not Fine.
************
Jam menunjukan pukul dua dini hari, Denis berusaha untuk tidur. Namun tetap saja, perasaannya tidak enak. Ia gelisah entah kenapa, Denis pun bangun dari tidurnya lalu menyalakan lampu kamarnya. Pria itu melirik jam yang berada di meja belajarnya, ia menghela nafas kasar. Berarti sudah empat jam Denis berusaha untuk tidur. Dia pun langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Ternyata gak dikunci." Gumam Denis seraya membuka pintu kamarnya. Lampu ruang tamu terlihat sudah mati. Ini kesempatan baginya untuk mengambil ponselnya dari ibunya.
'Pa. Kita harus kasih tau Denis.' Ujar Fanya kepada suaminya. Denis yang mendengarnya lantas berjalan menuju kamar orang tuanya, pintunya terbuka. Fanya dan Raffi melihat dirinya.
"Denis. Kemarilah." Suruh Fanya dengan kedua mata yang berkaca-kaca, tangannya terlihat memegang ponselnya. Denis mengerutkan dahinya dan memilih untuk mendekati sang ibu.
"Ada apa, Ma? Mama kok nangis?" Tanya Denis seraya duduk disamping Fanya. Wanita parubaya itu tidak menjawab pertanyaannya, dia malah menyerahkan ponselnya.
-Nesya
Apa yang harus kulakukan?
Aku sepertinya akan menyerah saja.
Bukannya membaik, keadaannya malah semakin memburuk.
Jawab aku. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku tidak mau menuruti keinginan ayahku, tapi aku tidak bisa menolaknya."Nesya..." Setelah membaca pesan dari gadis yang membuat hatinya khawatir sejak kemarin, hatinya terasa sesak, kedua matanya berkaca-kaca. Fanya tengah menahan tangisannya dipelukan suaminya, ia seperti itu karena mendengar Vn dari Nesya.
'Denis. Aku sudah tidak sanggup lagi hidup seperti ini. Hatiku semakin sakit. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun lagi. Semuanya terjadi karena kesalahanku dimasa lalu. Aku benar-benar ingin penderitaan ini berakhir, tapi tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan. Denis. Terima kasih sudah membuatku merasakan kebahagiaan, meskipun sesaat. Maafkan aku. Semoga kamu bahagia. Selamat tinggal. Aku menyukaimu.'
"Nesya, jangan kumohon." Denis juga langsung mendengar Vn itu, ia tidak bisa menahan air matanya. Denis mengerti kenapa daritadi hatinya merasa gelisah. Pria itu berdiri dari duduknya lalu menghubungi Syla.
"Maaf. Mungkin aku menganggu tidurmu.''
'Tidak. Lagipula, aku tidak bisa tidur. Ada apa?'
"Kamu bisa pergi ke kamar Nesya? Aku hanya ingin memastikan dia tidur, maaf aku pasti merepotkanmu."
'Oh, gitu. Oke. Nggakpapa kok, aku juga pengen liat kak Nesya tidur.'
''Hm, baiklah. Nanti hubungiku aku, ya.''
'Iya. Aku pergi ke kamar kak Nesya dulu.'
Setelah mengatakan itu, Syla pun mematikan sambungannya. Denis menghela nafas kasar, ia berharap tidak terjadi sesuatu kepada gadis yang dirinya sukai. Hatinya masih merasa gelisah, bahkan kedua tangannya bergetar.
*************
"Kak Nesya. Kakak udah tidur?" Tanya Syla tepat dipintu kamar kakak tirinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
I'M NOT FINE (TAMAT)
Teen Fiction-Maaf penulisannya masih acak-acakan. Akan direvisi nanti :) ***** Namanya Syla Aulia, gadis berusia tujuh belas tahun yang harus menerima kenyataan pahit. Dua saudaranya membencinya tanpa mengatakan alasan kepadanya. Memang benar adanya, takdir keh...