Opsir Pieter menghentikan langkah kudanya. Dia turun dari pelana, kemudian melangkahkan kaki ke arah kerumunan orang di pinggir jalan.
"Tuan, selamat pagi." Seorang perempuan tua menjadi juru bicara di antara sekian banyak warga.
"Selamat pagi."
Orang-orang itu tersenyum. Tidak tahu apakah itu bentuk keramahan atau sekedar berkompromi dengan seorang polisi. Sudah menjadi pendapat umum jika berurusan dengan polisi urusan bisa ruwet.
"Saya mendengar kalian berbincang tentang makam yang dibongkar?"
"Iya, Tuan. Itu makam ayah kami," perempuan yang sama memberikan keterangan.
"Anda sudah melapor?"
"Sudah, Tuan. Kemarin."
"Saya berharap orang yang tidak bertanggungjawab itu segera ditangkap." Pieter menatap setiap wajah yang ada di dalam kerumunan.
"Ya, tentu saja."
Orang-orang yang berkerumun itu saling tatap. Jika dilihat dari wajah dan cara mereka berpakaian, sepertinya beberapa orang di antara mereka masih ada hubungan saudara. Kini, mata mereka tertuju pada Opsir Pieter.
"Baiklah, jika kalian mencurigai sesuatu ... atau ... melihat sesuatu ... laporkan kepada saya."
Lagi, ada orang yang berbicara perkara mistik. "Saya mencurigai jika ini ... untuk ... pesugihan."
"Kalian mempunyai bukti?"
"Tidak, kami hanya menduga," perempuan yang lebih muda turut bicara.
Sesuatu yang membuat Pieter heran, satu sama lain saling mendukung pendapat si juru bicara. Apakah pikiran semua orang sama? Demikianlah pikir lelaki bertopi itu. "Lagipula, siapa orang yang biasa melakukan pesugihan di Batavia?"
"Pedagang." Mereka menjawab dengan serentak.
Opsir Pieter keheranan dengan jawaban serentak orang-orang yang ditanyainya.
Disertai senyuman yang terkesan dipaksakan, wanita tua itu melanjutkan,"kami hanya menduga, Tuan."
"Agar dagangan mereka laku?"
"Ya, Tuan."
"Tapi, pedagang di Batavia ini banyak sekali. Kalian mencurigai yang mana?"
"Maaf, Tuan. Saya tidak berani menuduh."
Opsir Pieter hanya menggelengkan kepala. Dia tersenyum ramah kepada warga yang ada di sana. Dia kemudian meninggalkan kerumunan. Lelaki itu tidak ingin terlalu lama bergosip padahal masih pagi. Perhatiannya terpusat pada kasus yang sedang dihadapinya.
Di depan mata, ada sesuatu yang menyita perhatiannya. Bangunan dengan atap genteng berwarna merah. Ornamen khas rumah makan milik orang Cina. Tulisan huruf Cina di dinding. Lampion bergelantungan di depan bangunan. Tapi, bukan itu yang menyita perhatiannya. Justru orang yang ada di dalamnya.
"Selamat pagi," Opsir Pieter menyapa.
"Selamat pagi, Tuan."
Seorang gadis menyambut sembari mempersilakan polisi itu untuk duduk. Gadis dengan baju cheongsam dan rambut diikat ke belakang menawarinya sarapan.
"Tidak, saya tidak ingin makan."
"Minum?"
"Tidak, saya ingin menemuimu. Kamu ... A Ling, kan?"
"Ya."
"Duduklah dulu."
A Ling duduk di bangku. Orang-orang di sekitarnya memperhatikan. Diam-diam, mereka menguping perbincangan seorang opsir polisi dengan gadis pelayan itu.
"Apakah kau mencurigai seseorang yang membongkar makam ayahmu?"
"Tidak ada, Tuan."
"Pedagang ... atau ... pemilik rumah makan?"
Majikan A Ling merasa tersindir. Seorang pria tua berbaju changsan pemilik rumah makan itu berhenti mengelap meja, matanya menatap A Ling.
"Tidak mungkin, Tuan. Kami tidak mungkin membongkar makam Sang Ketua."
"Sang Ketua?"
"A Ling, kau belum memberitahu polisi jika ayahmu adalah Sang Ketua Serikat Cina di Batavia?" Pemilik rumah makan itu menampakan wajah marah.
A Ling menggelengkan kepala.
"Tuan, A Ling ini anak almarhum ketua kami."
"Saya baru tahu."
"Dan ... jika ada yang berani membongkar makam ketua kami, berarti sudah menghina kami!"
Para pelanggan rumah makan itu menghentikan suapannya. Mereka sama-sama menatap si opsir. Semua pelanggan yang tengah makan saat itu adalah pria Cina dengan rambut dikepang.
"Jika polisi tidak bisa mengungkap siapa pelakunya, maka kami akan bergerak sendiri!"
Semua orang berdiri. Tanda sebuah perlawanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembongkar Makam
Misteri / ThrillerOrang-orang sudah berkumpul dalam waktu singkat. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan si pembawa berita. "Ki Lurah ... makam ... makam ...." "Makam apa?" "Makam ...almarhum ... Raden ... Wiguna ...." "Ada apa dengan makam ayahku?" "Heehhh...
